Konten dari Pengguna

Seni Kebudayaan Yang Kehilangan Marwah

Coba dengarkan suara di sekitar hajatan, acara tujuh belasan, atau pawai kampung belakangan ini. Bukan lagi musik yang menghibur, melainkan dentuman bass raksasa yang menggetarkan kaca rumah, membuat dada berdebar, dan bikin telinga berdenging berjam-jam setelahnya. Itulah "sound horeg", fenomena sound system berdaya super besar yang belakangan viral di media sosial dan makin sering hadir di tengah masyarakat kita.

Ilustrasi sound horeg dan tantangan mayarakat digital membesarkan budaya. (https://chatgpt.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sound horeg dan tantangan mayarakat digital membesarkan budaya. (https://chatgpt.com)

Sound horeg lahir dari budaya kumpul dan gotong royong yang sebenarnya positif: warga urunan untuk memeriahkan acara bersama. Tapi begitu masuk ke panggung media sosial, tradisi ini berubah arah. Semakin besar dan keras soundnya, semakin viral videonya. Warga dan pemilik sound system pun berlomba menaikkan volume dan ukuran speaker, bukan lagi demi kemeriahan bersama, melainkan demi validasi berupa like, komentar, dan status "sound paling gacor". Di sinilah budaya mulai menyimpang dari makna aslinya dari kebersamaan menjadi ajang pamer suara yang justru merugikan orang lain.

Yang jarang disadari, "riuh" ini menyimpan bahaya nyata bagi kesehatan. Menurut penjelasan pakar kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, tingkat kebisingan sound horeg bisa mencapai 120–135 desibel, jauh melampaui batas aman yang direkomendasikan WHO, yaitu tidak lebih dari 70 desibel, dengan paparan di atas 85 desibel saja sudah berisiko merusak pendengaran jika berlangsung lama. Suara sekeras itu dapat merusak sel-sel rambut halus di dalam koklea telinga secara permanen—kerusakan yang tidak bisa pulih karena sel tersebut tak mampu tumbuh kembali. Dampaknya bisa berupa tinnitus (denging terus-menerus), hiperakusis, pecahnya gendang telinga, hingga gangguan keseimbangan tubuh yang memicu vertigo.

Kasusnya bukan sekadar teori. Di Malang, seorang pria lanjut usia dilaporkan meninggal dunia setelah mengeluh sakit dada akibat mendengar suara sound system yang terlalu keras dalam acara peringatan kemerdekaan. Kejadian ini membuat kepolisian setempat akhirnya melarang penggunaan sound horeg dalam acara-acara warga, bahkan Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur turut mengeluarkan fatwa terkait praktik ini karena dianggap mengganggu ketertiban masyarakat.

Penelitian ilmiah pun memperkuat kekhawatiran ini. Sebuah kajian yang dimuat di jurnal Integrative Perspectives of Social and Science menyoroti bagaimana paparan sound horeg berulang berpotensi memicu gangguan pendengaran akibat kebisingan atau noise-induced hearing loss, yang bahkan dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif melalui gangguan pendengaran jangka panjang dan tekanan psikologis yang terus-menerus. Sejalan dengan itu, studi di European Heart Journal turut mengungkap keterkaitan antara musik yang terlalu keras dengan perubahan tekanan darah dan detak jantung, sementara riset di International Journal of Environmental Research and Public Health mencatat hubungan antara paparan musik keras kronis dengan meningkatnya kecemasan dan gejala depresi.

Semua fakta ini menegaskan satu hal perihal budaya semestinya merawat manusia, bukan mengancam nyawanya. Sound horeg boleh saja lahir dari niat baik untuk memeriahkan acara dan mempererat kebersamaan, tapi ketika kemeriahan itu diukur dari seberapa keras suara yang bisa direkam dan diunggah demi validasi digital, maka yang tersisa bukan lagi budaya, melainkan kebisingan yang membahayakan. Kita perlu jujur mengakui bahwa algoritma media sosial memang gemar dengan hal-hal ekstrem, tapi bukan berarti masyarakat harus rela mengorbankan kesehatan telinga, jantung, bahkan nyawa demi sorotan sesaat di layar ponsel orang lain.

Karena itu, menjaga budaya agar tidak menyimpang bukan hanya tugas aparat lewat larangan dan regulasi desibel, melainkan juga tugas kita bersama sebagai masyarakat digital. Merayakan tradisi dengan cara yang riang tanpa merusak pendengaran tetangga dan generasi mendatang adalah bentuk kedewasaan budaya yang sesungguhnya jauh lebih bermakna daripada sekadar menang di kolom komentar.

Membesarkan budaya bukan berarti membiarkannya tumbuh liar tanpa batas. Kita boleh terus merayakan tradisi dengan meriah, tapi kemeriahan itu jangan sampai meninggalkan luka baik pada tubuh maupun lingkungan sekitar. Sayangnya, luka itu tak berhenti di telinga dan jantung saja. Coba tengok halaman rumah atau jalan kampung sehari setelah acara usai. sisa sampah seperti gelas plastik berserakan, sisa makanan menumpuk di selokan, kabel dan dekorasi teronggok begitu saja. Pemandangan yang justru mencoreng wajah budaya itu sendiri, dikenang warga sebagai comberan yang harus dibereskan keesokan harinya.

Padahal, budaya yang besar bukan diukur dari seberapa keras suaranya atau viral videonya, melainkan dari seberapa bersih dan sehat jejak yang ditinggalkannya. Mari rayakan tradisi dengan tanggung jawab, jaga volume secukupnya agar tak merusak pendengaran, jaga kebersihan agar yang tersisa bukan sampah dan keluhan tetangga, melainkan kenangan indah yang layak diwariskan ke generasi berikutnya.