Belajar Ketelitian dan Integritas: Catatan Magang Pertama Saya di KPPU

Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Yazid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Senin, 25 Agustus 2025 menjadi hari yang tak akan saya lupakan. Pagi itu saya melangkah ke kantor Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kanwil VII Yogyakarta sebagai mahasiswa magang. Rasanya campur aduk: senang akhirnya bisa merasakan dunia kerja, sekaligus gugup. Pertanyaan seperti “Apakah saya bisa mengikuti ritme kerja lembaga negara?” dan “Apakah tulisan saya akan cukup rapi?” terus berputar di kepala.
Menemukan Peran Sebagai Pembuat Risalah
Sejak awal, saya ditempatkan sebagai pembuat risalah. Tugas ini terlihat sederhana—mencatat jalannya rapat dan menyusunnya menjadi laporan resmi—tetapi kenyataannya menuntut ketelitian tinggi. Setiap kata yang saya tulis bisa menjadi rujukan penting bagi pimpinan atau arsip lembaga. Tidak boleh ada typo, tidak boleh ada istilah yang salah.
Selama magang saya terlibat dalam beragam aktivitas: membantu pembuatan konten media sosial KPPU, mengikuti diskusi internal mengenai survei inflasi dan harga LPG, hingga mendampingi presentasi dari divisi Penegakan Hukum. Namun, menulis risalah menjadi inti peran saya. Dari tugas inilah saya belajar bahwa dokumentasi bukan sekadar “catat lalu simpan,” melainkan proses menjaga akurasi informasi dan integritas lembaga.
Hari Penutupan yang Mengajarkan Banyak Hal
Puncak pengalaman saya terjadi pada Rabu, 3 September 2025, saat rapat penutupan magang rekan saya, Amabell Novianti dari Universitas Trisakti. Rapat berlangsung di Ruang Rapat I lantai 2, dipimpin Bu Septi, Kepala Bagian Administrasi.
Dalam presentasinya, Amabell menceritakan bagaimana magang menjadi jembatan antara teori dan praktik. Ia terlibat dalam survei lapangan agen LPG subsidi dan nonsubsidi, pemantauan inflasi, pembuatan konten, hingga analisis yuridis atas kebijakan kesehatan. Saya mencatat setiap detail: arahan Bu Septi tentang pentingnya menjaga kerahasiaan data perusahaan, saran untuk memperbaiki ejaan dan format italic pada istilah asing, serta evaluasi positif atas disiplin dan kecepatan belajar Amabell.
Bagi saya pribadi, menulis risalah penutupan ini adalah ujian. Saya harus menyampaikan jalannya rapat secara ringkas namun lengkap, memastikan setiap arahan tercatat jelas. Saat mengirimkan hasil risalah, saya merasakan kepuasan kecil.
Pelajaran yang Melebihi Teori Kelas
Pengalaman singkat di KPPU memberi saya beberapa pelajaran penting:
Ketelitian adalah segalanya.Satu kesalahan ejaan bisa mengubah makna, terutama di lembaga yang bekerja dengan dokumen hukum dan kebijakan.
Integritas tak bisa ditawar.Data perusahaan dan hasil survei yang kami lihat selama magang bersifat rahasia. Memegang kepercayaan itu membuat saya memahami arti profesionalisme.
Kolaborasi lintas kampus memperkaya wawasan.Bekerja bersama mahasiswa dari Trisakti, UNY, hingga UMY membuka sudut pandang baru tentang cara kerja dan cara berpikir.
Menutup Magang, Membuka Wawasan
Magang pertama saya bukan hanya soal memenuhi SKS kampus. Ini adalah proses mengenali diri sendiri—apakah saya mampu bertanggung jawab penuh terhadap tulisan yang menjadi dokumen resmi, apakah saya bisa menjaga kepercayaan instansi, dan sejauh mana saya bisa beradaptasi di lingkungan baru.
Kini, ketika menengok kembali catatan risalah dan pengalaman sebulan di KPPU, saya sadar bahwa keterampilan menulis yang teliti, etika kerja, dan sikap menjaga kerahasiaan adalah bekal berharga. Bagi mahasiswa lain yang akan magang, saya hanya bisa berkata: masuklah dengan rasa ingin tahu dan komitmen penuh, karena dunia kerja nyata akan mengajarkan hal-hal yang tak tertulis di buku teks.
