Konten dari Pengguna

Efisiensi Anggaran Masih Menjadi Polemik di Masyarakat: Ini Pandangan Islam

Muna Khansa Mufidah

Muna Khansa Mufidah

Guru Planet Education Klaten, Penulis Buku "100 Nama 101 Cerita", Article writer di Harakatuna, Geotimes, & Kompasiana

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muna Khansa Mufidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mengelola penggunaan anggaran. Foto: Muna Khansa/Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mengelola penggunaan anggaran. Foto: Muna Khansa/Pixabay

Mengelola anggaran sering kali menjadi topik hangat di berbagai kalangan, mulai dari ibu rumah tangga, pebisnis, sampai pejabat pemerintahan. Adanya dampak dari krisis berpengaruh terhadap situasi ekonomi pada saat ini yang menyebabkan pemerintah di kawasan penjuru dunia memperbaiki proses dalam hal performa daya guna dan juga efisiensi perekonomian. Demikian pula sistem kebijakan yang sekarang ini masih menjadi perdebatan oleh pemerintah dan masyarakat, yakni efisiensi anggaran.

Mardiasmo menyatakan bahwa efisiensi adalah ukuran keberhasilan yang diukur dari segi besarnya sumber atau biaya yang digunakan untuk mencapai hasil dari kegiatan yang dilakukan. Jika efisiensi hanya dianggap sebagai penghematan maka hal itu dapat mengganggu operasi, yang pada gilirannya akan mempengaruhi hasil akhir, menyebabkan produktivitas, dan tujuan tidak tercapai (Efriandi, et al, 2022).

Efisiensi anggaran menjadi persoalan yang masih intens diperbincangkan hingga hari ini baik dalam kehidupan nyata maupun di media sosial. Kebijakan dalam tingkatan sektor publik ini ternyata menuai pro dan kontra, terutama ketika mengarah kepada pemotongan anggaran yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat, seperti di sektor sosial dan pendidikan. Imbas dari kebijakan tersebut cukup bisa dirasakan, di antaranya mengakibatkan cukup banyak pekerja di belahan daerah di PHK, adanya penerapan sistem WFA dalam bekerja, berkurangnya kualitas layanan BMKG, dan masih banyak lagi.

Memang terkadang istilah efisiensi anggaran ini dipahami dari sisi yang berbeda-beda. Ada yang menganggap efisiensi itu sama dengan pemangkasan besar-besaran, ada juga yang berpikir cukup dengan mengurangi pengeluaran. Di tengah perdebatan ini, menarik apabila kita coba melihat bagaimana Islam memandang soal efisiensi anggaran. Apakah Islam mendukung "pengiritan ketat"? Atau justru lebih menekankan keseimbangan dalam mengelola keuangan?

Efisiensi Anggaran: Antara Hemat dan Berlebihan

Ajaran Islam mengajarkan prinsip sederhana, tidak berlebih-lebihan, tetapi juga tidak kikir. Dalam kitab suci Al-Qur'an, dalam surat Al-Isra’ ayat 26-27 Allah Ta'ala berfirman:

وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهُ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا إِخْوَانَ الشَّيٰطِيۡنِ وَكَانَ الشَّيٰطِيۡنُ لِرَبِّهِ كَفُوْرًا (27)

Artinya:

"Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, kepada orang miskin, dan juga orang yang dalam perjalanan . dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) dengan boros. Sungguh, orang-orang yang pemboros itu termasuk saudara setan, dan setan itu amatlah ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 26-27)

Dari ayat di atas sudah jelas mengenai yang namanya pemborosan (Israf). Dengan keras Islam melarang tindakan pemborosan atau mubazir dari segala aspek kehidupan. Akan tetapi, bukan berarti semua pengeluaran harus ditekan sampai serendah mungkin tanpa memperhatikan kebutuhan apalagi kebutuhan primer.

Dalam konteks seperti ini, kebijakan efisiensi anggaran perlu diterapkan untuk menghindari pemborosan dana negara dan pribadi. Sehingga efek efisiensi tidak berdampak negatif pada masyarakat atau individu tertentu. Penggunaan anggaran secara boros akan mengantarkan pada kemudaratan, sementara penggunaan anggaran secara bijak akan menghasilkan sesuatu yang sangat menguntungkan.

Maka dari itu, Islam tetap menghargai keseimbangan antara kebutuhan hidup, kenyamanan, dan tanggung jawab sosial. Dalam pandangan Islam, makna efisiensi adalah mengatur keuangan dengan bijak, tepat, dan tidak mubazir.

Bagaimana Implementasi EfisiensEfisiensi Anggaran dalam Kehidupan Sehari-hari?

Rasulullah saw. adalah role model ideal dalam hal praktik kehidupan sehari-hari. Beliau hidup dengan kesederhanaan, tetapi tetap teratur serta tidak kekurangan. Rasulullah saw. mengajarkan hemat dalam hal-hal kecil sekalipun seperti menggunakan air ketika berwudu meskipun melakukannya di sungai yang airnya melimpah. Berdasarkan ayat Al-Isra' ayat 26-27, prinsip yang sama berlaku untuk mengelola anggaran keluarga atau negara, yaitu antara lain:

1. Prioritaskan kebutuhan pokok.

2. Jangan menghamburkan harta untuk hal-hal yang tak perlu.

3. Sisihkan untuk tabungan, infak, dan sedekah.

4. Tetap ada ruang untuk kenyamanan, asalkan tidak berlebihan.

Artinya, Islam memandang efisiensi bukanlah sekadar mengurangi anggaran, tetapi mengoptimalkan penggunaan harta dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran spiritual.

Mengapa Masih Menjadi Polemik?

Jika semuanya sudah jelas, mengapa efisiensi terus menjadi polemik di masyarakat kita? Jawabannya simpel: standar kebutuhan dan kepentingan setiap orang berbeda, dan tidak ada yang sama untuk semua orang. Boleh jadi dipandang sebagai pemborosan oleh seseorang, tetapi bagi pihak lain mungkin merupakan kebutuhan yang vital.

Misalnya, ada orang yang menganggap renovasi kantor itu pemborosan, sementara pihak lain menganggapnya investasi untuk meningkatkan kinerja. Ada pula yang membeli mobil baru untuk keperluan berbisnis atau berdagang, tetapi di pihak lain menganggapnya sebagai tindakan membuang-buang uang.

Maka untuk kembali kepada prinsip Islam sangatlah penting, yaitu ukur segala sesuatu dengan kebutuhan riil, manfaat nyata, dan pertimbangan maslahat bersama. Jangan semata-mata berdasarkan tren, gengsi atau keinginan sekejap mata.

Kembali ke Prinsip Dasar

Kepala Kantor Kemenag Kota Tangerang Selatan, Ahmad Rifaudin (2025) menyatakan jika individu maupun pemerintah publik yang akan menerapkan kebijakan efisiensi anggaran maka seharusnya melihat terlebih dahulu dari sudut pandang Al-Qur'an yang mencakup nilai-nilai keadilan, keseimbangan, amanah, dan perencanaan yang matang. Pengelolaan efisiensi anggaran yang berkaitan dengan kepentingan publik, wajib dilaksanakan dengan tanggung jawab dan transparan.

Akhirnya kalau kita mau jujur, persoalan efisiensi anggaran dalam masyarakat hari ini bisa disederhanakan dengan kembali kepada prinsip-prinsip Islam:

1. Sederhana, tetapi tidak kikir.

2. Bijak, tetapi tetap peduli kenyamanan dan kebutuhan.

3. Bertanggung jawab, bukan sekadar berhemat asal-asalan.

Sehingga ketika sedang berbicara tentang efisiensi hendaknya jangan langsung berpikir soal memotong sana-sini, tetapi pikirkan bagaimana menggunakan setiap rupiah dengan penuh kesadaran dan niat baik. Dengan demikian, anggaran kita baik pribadi maupun bersama-sama akan lebih berkah dan mengantarkan kebaikan untuk umat.