Ikut PPG Prajabatan atau Jadi Guru Honorer? Persoalan Runyam Mahasiswa Keguruan

Guru Planet Education Klaten, Penulis Buku "100 Nama 101 Cerita", Article writer di Harakatuna, Geotimes, & Kompasiana
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muna Khansa Mufidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika melihat konten-konten pendidikan di media sosial, tidak jarang ada pertanyaan yang berseliweran di kolom komentar. Salah satu pertanyaan yang intensitasnya sering muncul kurang lebih seperti ini, “Pilih ikut PPG Prajabatan atau jadi guru honorer?” pertanyaan tersebut mayoritas dilontarkan oleh fresh graduate atau mahasiswa keguruan yang sedang dilanda dilema. Di antara para senior ada yang menyarankan untuk memilih ikut PPG Prajabatan terlebih dahulu. Karena PPG Prajabatan merupakan alur yang legal dan bisa menguntungkan apabila di masa mendatang punya impian menjadi pegawai pemerintah atau ASN.
Terlebih lagi pemerintah saat ini sudah menghendaki jika calon guru di sekolah negeri harus memiliki sertifikat pendidik alias telah dinyatakan lulus PPG. Oleh sebab itu, pemerintah sudah tidak menerima guru honorer di satuan pendidikan negeri. Namun, ada sebagian orang yang menyarankan kalau bisa mengajar dahulu di sekolah swasta. Selain mencari pengalaman, dapat dimanfaatkan untuk mengasah dan meningkatkan keterampilan. Kemudian, sambil berjalan bisa untuk persiapan mendaftar PPG Prajabatan.
Penulis pun kerap menyimak bermacam-macam kabar secara langsung dari orang-orang sekitar ataupun dari warganet di media sosial bahwa gaji guru honorer lebih rendah dari kuli bangunan. Ada yang bilang memperoleh gaji sebesar Rp400.000 per bulan. Ada pula yang mendapat sebesar Rp300.000, bahkan masih ada yang diberi Rp150.000 per bulannya. Penghasilan Rp150.000 untuk biaya makan per orang selama 4 hari saja tidak mencukupi. Terbilang sangat minimalis, bukan? Di sisi lain, terdapat beberapa pendidik yang mengungkapkan bahwasanya mengajar di sekolah swasta tidak sekadar bekerja, akan tetapi dianggap sebagai pengabdian yang menggiring keberkahan. Dapat dikatakan beda pemikiran, beda pandangan.
Ikut PPG Prajabatan atau Jadi Guru Honorer Menjadi Persoalan Runyam Mahasiswa Keguruan
Di sini kita akan menjawab satu pertanyaan runyam, yang masih terus terngiang di telinga mahasiswa alumni jurusan pendidikan hingga tidak bisa tidur nyenyak. Terdapat empat jawaban yang akan dikupas satu per satu.
Pertama, kita semua harus sepakat bahwa memperoleh hak untuk mengikuti seleksi PPPK adalah tujuan mengikuti PPG Prajabatan maupun menjadi guru honorer. Agar guru honorer mampu ikut serta seleksi PPPK, mereka harus terbaca aktif di dapodik mengajar selama 2 tahun berturut-turut. Namun demikian, persyaratan ini tidaklah mudah diraih.
Walaupun telah mengajar selama 2, 3, bahkan sampai 6 tahun, ada beberapa yang tidak kunjung masuk dapodik. Bahkan ada pendidik yang telah masuk dapodik, tetapi gagal terbaca aktif mengajar dalam 2 tahun terakhir. Berbeda dengan lulusan PPG Prajabatan yang telah dinyatakan lulus UKPPG (ujian akhir), mereka berhak mengikuti seleksi PPPK. Perkara ini coba tanyakan kepada senior teman-teman bagaimana rasanya menjadi tenaga pendidik selama kisaran 2-5 tahun. Tetapi belum dimasukkan dalam sistem dapodik. Kita berharap perihal ini menjadi bahan pertimbangan yang cukup serius.
Kedua, sistem PPG Prajabatan berbeda dengan sekolah kedinasan atau CASN. Lulusan PPG Prajabatan tidak ditempatkan di sebuah sekolah tertentu setelah menyelesaikan pendidikan. Juga tidak wajib seperti pada sekolah kedinasan. Pemerintah memberikan fleksibilitas bagi lulusan PPG Prajabatan untuk bebas memilih mengikuti seleksi PPPK atau tidak. Sehingga terserah teman-teman, hendak melamar di sekolah negeri atau swasta.
Ketiga, dilansir dari saluran WhatsApp PPG Prajabatan sampai PPPK-PNS, menginformasikan bahwa di setiap gelombang seleksi PPG Prajabatan terdiri dari program studi yang tidak selalu dibuka pendaftarannya. Misalnya, program studi biologi, fisika, kimia, sejarah, ekonomi, geografi, sosiologi, dan bahasa Inggris. Dari sini kita mengetahui jika fakta ini harus menjadi acuan bagi teman-teman yang program studinya semasa kuliah linier dengan program studi yang telah disebutkan. Apakah harus mempersiapkan diri dengan belajar latihan-latihan soal tes substantif mulai dari saat ini juga ataukah tidak.
Keempat, lulusan jurusan pendidikan boleh untuk memulai karier di sekolah swasta. Tetapi perlu diingat, umumnya di sekolah swasta memiliki kebijakan yang berbeda berkenaan dengan diperbolehkannya ikut serta program PPG Prajabatan. Ada sekolah swasta yang memberi akses izin ada pula yang tidak bisa membebaskan para tenaga pendidiknya mendaftar beragam program dari pemerintah pusat. Tergantung teman-teman bisa memanfaatkan situasi atau tidak.
Sebenarnya, jika kita mengamati para fresh graduate yang bekerja di sekolah negeri, rasanya tidak terlalu gelisah. Hanya saja merasa prihatin dengan kondisi mereka. Faktor tersebut dapat terjadi lantaran beberapa sebab, di antaranya soal gaji yang tidak layak, belum ada kepastian bisa mendaftar seleksi PPPK, dan segala probabilitas ditanggung sendirian. Memang banyak faktor penyebab yang menjadi pertimbangan teman-teman fresh graduate agar kembali merenung sebelum mengambil langkah untuk melamar di tingkat satuan pendidikan negeri.
Berdasarkan keempat jawaban yang telah dianalisis bersama, ada satu saran yang barangkali bisa menjadi jalan tengah untuk pertanyaan “Ikut PPG Prajabatan atau jadi guru honorer?” saran tersebut adalah:
Sesudah selesai menempuh perkuliahan S1 keguruan, fresh graduate dapat menyiapkan diri untuk turut serta dalam rangkaian seleksi PPG Prajabatan. Sehingga berpikir untuk bekerja di sekolah tertentu bisa ditunda terlebih dahulu. Teman-teman bisa memperoleh pengalaman kerja dengan cara mencari pekerjaan lain sambil belajar giat guna persiapan mengikuti proses seleksi PPG Prajabatan dengan matang.
Semoga segelintir saran ini dapat membuka wawasan teman-teman alumni keguruan. Pada akhirnya keputusan berada di tangan teman-teman.
