Literasi yang Terluka oleh Pengalaman Sosial Anak

Guru Planet Education Klaten, Penulis Buku "100 Nama 101 Cerita", Article writer di Harakatuna, Geotimes, & Kompasiana
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muna Khansa Mufidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejauh ini, kemampuan literasi anak Indonesia belum meraih skor rata-rata yang memuaskan dibandingkan dengan negara lain. Pada umumnya, penyebab minat membaca dan menulis anak bisa menjadi rendah dikarenakan adanya faktor internal, seperti tidak memiliki motivasi, malas, atau jenuh dan karena faktor eksternal, seperti lingkungan yang kurang mendukung dan dominasi hiburan digital. Akan tetapi, dalam banyak kasus, kurangnya minat membaca tidak selalu disebabkan oleh faktor-faktor tersebut. Tidak semua luka literasi datang dari kegagalan metode yang diterapkan.
Anak-anak berhenti membaca bukan karena mereka tidak mampu. Lebih tepatnya, mereka berhenti karena membaca tidak lagi terasa aman secara sosial. Di titik inilah literasi terluka bukan oleh buku, melainkan oleh pengalaman bersama manusia di sekelilingnya.
Pengalaman Kecil yang Mengubah Hubungan Anak dengan Buku
Pengalaman yang memengaruhi minat baca anak tidak selalu merupakan peristiwa besar atau konflik terbuka. Sering kali, pengalaman sosial kecil yang terjadi tanpa disadari dapat mengubah hubungan erat anak dengan buku seperti tawa teman ketika ia salah membaca, koreksi cepat oleh guru di depan kelas, atau ekspresi kecewa orang dewasa yang sebenarnya bermaksud membantu. Bagi jiwa kanak-kanak, berbagai momen tersebut cukup menggeser makna membaca dari aktivitas yang menggembirakan menjadi situasi yang penuh penilaian.
Barangkali tak hanya anak kecil yang merasakan hal sedemikian rupa. Anak remaja hingga dewasa pun ada juga yang dapat mengalami perubahan pandangan mengenai buku lantaran pengalaman sosial yang tidak nyaman. Tidak jarang orang tua menegur anaknya yang selama 3 jam menatap layar gadget sehingga menyia-nyiakan waktu untuk belajar. Kerap kali anak atau gadget yang disalahkan. Padahal sebetulnya ada suatu persoalan tersembunyi terjadi pada anak yang tidak diketahui oleh orang tua.
Hasil asesmen dan survei budaya membaca memang menunjukkan bahwa tingkat literasi membaca di tanah air menghadapi tantangan yang serius. UNESCO mencatat jika hanya 0,001 % penduduk Indonesia tergolong pembaca aktif, yaitu hanya satu dari seribu orang yang membaca secara rutin di luar kebutuhan sekolah atau pekerjaan. Sementara itu, kemampuan membaca siswa Indonesia memperoleh skor rata-rata 359 poin pada Programme for International Student Assessment (PISA) 2022. Ini jauh di bawah rata-rata OECD yang memperlihatkan bahwa banyak siswa belum mencapai kompetensi literasi fungsional yang optimal.
Kombinasi antara kemampuan membaca anak yang minim dan budaya membaca yang belum memadai menunjukkan jika literasi masih menjadi sebuah rintangan besar yang secara kontinu melanda masyarakat. Kurangnya tingkat kemampuan literasi tidak hanya bersumber dari kemampuan teknis. Tetapi, juga pada pola rutinitas dan pengalaman sosial yang merangkai hubungan antara anak dengan buku sejak dini.
Refleksi untuk Guru dan Orang Tua tentang Rasa Aman dalam Literasi
Bagi guru dan orang tua selayaknya perlu menciptakan suasana maupun feedback yang menyenangkan anak-anak ketika mereka baru memulai untuk belajar menyukai kegiatan membaca dan menulis. Hampir semua anak membutuhkan rasa aman untuk berani salah, bertanya, dan mencoba membaca. Membaca bisa berubah menjadi aktivitas yang berisiko secara sosial pada saat setiap kali muncul kesalahan kemudian langsung disorot atau dikoreksi dengan kata-kata yang negatif.
Dalam literasi, cara penyampaian sering lebih berpengaruh daripada isi koreksi. Anak mudah mengingat rasa malu atau takut selepas ia memandang ekspresi orang tua atau guru yang tidak menyenangkan bagi pandangan anak. Di samping itu, membaca di hadapan orang lain bukanlah sekadar akademik, tapi merupakan pengalaman sosial. Bagi anak, membaca berarti menampakkan kemampuan diri. Meskipun ia sudah mampu membaca, tetap saja masih membutuhkan perlindungan emosional. Satu sampai dua kejadian sosial yang mengganggu proses kegiatan membacanya, maka dapat menjadikan anak menutup diri dari buku untuk jangka waktu yang cukup lama.
Kita sebagai guru maupun orang tua hendaknya bisa menyaksikan bahwa luka literasi tidak selalu berupa protes atau tangisan. Luka literasi dapat berupa penolakan halus seperti munda-nunda membaca, kehilangan motivasi atau minat, memilih diam, dan masih banyak lagi perilaku anak yang berakar dari hasil luka literasi. Lalu, bagaimana agar anak terhindar dari efek luka literasi akibat pengalaman sosial yang dapat terjadi kapan saja?
Guru dan orang tua mampu menciptakan rasa aman ketika anak sedang belajar membaca ataupun menulis. Rasa aman adalah fondasi yang kerap dikesampingkan dalam pengajaran literasi. Berbagai upaya seperti strategi, media, dan kurikulum tidak akan bekerja dengan efisien apabila anak tidak merasa aman secara sosial pada waktu berinteraksi dengan teks dan orang dewasa di sekitarnya. Dari fenomena ini, bukan metode atau buku yang menentukan lahirnya literasi anak, melainkan bagaimana orang-orang dewasa merespons dengan hangat dan membuat kondisi yang tidak menghakimi. Dari situlah, rasa aman sebagai arena aktivitas membaca dan menulis yang perlahan tumbuh dengan sehat.
