Permainan Tradisional Asing di Dunia Gen Alpha: Kisah Sebelum Ada Gadget

Guru Planet Education Klaten, Penulis Buku "100 Nama 101 Cerita", Article writer di Harakatuna, Geotimes, & Kompasiana
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Muna Khansa Mufidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu setiap akhir pekan atau setiap sore, permainan tradisional menghadirkan suara keceriaan anak-anak yang terdengar riuh di halaman rumah, di lapangan ataupun di sawah. Sebelum kelahiran generasi alpha, jadwal rutin yang umum dilakukan sehabis pulang sekolah adalah bermain masak-masakan, bukannya tidur siang. Hampir tiap setelah azan asar, saya beserta teman-teman di sekitar lingkungan rumah saya asyik membuat adonan kue dari tanah dicampur dengan air. Kami juga suka bermain dari tali yang kami rangkai sendiri, yang kemudian dinamakan dengan Lompat Tali.
Kalau setiap Minggu pagi, kami biasa menggambar susunan kotak di halaman rumah. Kami melemparkan kerikil atau pecahan genting pada susunan kotak tersebut setelah itu melompati masing-masing kotak dengan satu kaki. Permainan tradisional yang satu ini biasa kami sebut dengan Engklek. Namun, gemuruh canda tawa anak-anak zaman now nyaris berbeda dengan anak-anak di masa lampau. Kini, yang terdengar hanyalah suara notifikasi games dari gadget. Kami sebagai generasi Z merasa prihatin dengan kondisi anak-anak generasi alpha.
Bagaimana tidak, setiap waktu mereka disibukkan dengan gadget yang sudah seperti kebutuhan pokok. Padahal anak-anak usia TK dan SD atau bahkan SMP, belum waktunya memegang smartphone terlalu lama. Mereka belum memiliki kepentingan dengan smartphone, sehingga terlena dengan games yang menghipnotis mereka saja. Kecuali ada tugas yang diberikan oleh guru melalui handphone, anak-anak dapat membukanya, itu pun dengan pengawasan orang tua.
Manfaat Permainan Tradisional
Permainan tradisional merupakan warisan budaya bangsa yang mengandung sarat akan kearifan lokal yang berupa nilai-nilai etika, kekeluargaan, sosial, filosofis, dan lain sebagainya. Permainan tradisional Indonesia menyimpan ciri khas tersendiri yang jauh berbeda dengan yang ada di negara lain. Sebab, jenis-jenis permainan tradisional ini berasal dari beragam daerah dan suku yang terletak di bumi pertiwi.
Beraneka jenis games di gadget dari internet cenderung menjadikan anak bersikap menyendiri, egois, dan tidak peka terhadap lingkungan sekitar. Jadi apa saja manfaat yang bisa didapat dari permainan tradisional?
1. Dari segi kognitif: dapat mengembangkan kecerdasan sosial dan emosional terhadap lingkungan sekitar, serta meningkatkan kreativitas anak.
2. Dari segi afektif: dapat menumbuhkan sikap kerja sama dan kekompakan dalam kelompok permainan. Selain itu, dapat menghidupkan suasana keceriaan.
3. Dari segi psikomotorik: meningkatkan keterampilan motorik halus dan kasar serta keseimbangan, karena otot-otot terlatih akibat dari berbagai gerakan kaki atau tangan saat bermain.
Akan tetapi, kini permainan tradisional hampir tenggelam dari permukaan. Faktor penyebab yang menjadikan permainan tradisional terancam punah ialah keberadaan lahan yang sempit dan minimnya pengetahuan orang tua tentang permainan tradisional sehingga tidak mengenalkannya kepada generasi penerus bangsa. Kemudian, adanya sikap gengsi karena dipandang sebagai permainan kuno, serta yang paling utama adalah eksistensi gadget yang disambungkan dengan internet, membuat anak-anak difokuskan dengan berbagai aplikasi games modern yang memikat hati.
Upaya Melestarikan Permainan Tradisonal yang Asing di Dunia Gen Alpha
Dari merebaknya konten-konten hiburan di media sosial, sudah sepantasnya kita sebagai generasi muda yang masa kanak-kanaknya hobi bermain permainan tradisional, maka sekarang saatnya kita yang mengenalkan kepada anak atau adik-adik generasi alpha agar identitas budaya bangsa tetap bertahan. Lalu upaya apa yang bisa kita tempuh untuk melestarikan permainan tradisional anak? Berikut pemaparannya.
1. Memainkan permainan tradisional secara aktif
Kita dapat memainkan permainan tradisional di mana saja, selagi area tersebut luas dan aman. Kita bisa mengajak anak-anak untuk bergabung menjadi tim dan mengajarkan strategi bermain dalam permainan tersebut. Selain itu, mereka dapat belajar nilai-nilai tradisi dan kisah sejarah dari permainan tersebut.
2. Memanfaatkan media sosial
Kini hampir seluruh individu terutama pemuda, memiliki akun media sosial. Entah kita seorang content creator atau bukan, kita bisa menciptakan konten edukasi mengenai permainan tradisional Indonesia dari bermacam-macam wilayah. Kita dapat mendesain semenarik atau seindah mungkin konten tersebut. Bisa berupa gambar visual maupun video. Diharapkan ketika para remaja sibuk scrolling TikTok, Instagram, atau Youtube, mereka dapat menyaksikan dan membaca konten permainan tradisional. Media sosial adalah metode yang efektif untuk mempromosikan permainan tradisional di tingkat lokal sampai internasional.
3. Mengadakan event atau lomba
Kita mampu merayakan momen 17 Agustus, hari pahlawan, maupun hari-hari besar lainnya dengan mengadakan event permainan tradisonal di lingkungan desa atau di area sekolah. Misalnya, seperti di SMK Muhammadiyah Cawas, Kab. Klaten yang menyelenggarakan class meeting diisi dengan permainan gobak sodor, dakon, kasti, dan bakiak. Lomba tersebut diadakan pasca asesmen semester ganjil pada Desember 2024.
Kemudian, ada pula di SD Negeri 3 Palar Kab. Klaten yang meramaikan hari Pendidikan Nasional pada bulan Mei 2025 lalu dengan mengadakan perlombaan permainan tradisional antar sekolah se-Kecamatan Trucuk di Gedung Serba Guna Bero, Trucuk. Para siswa antusias ketika mengikuti rangkaian lomba tersebut. Dari situ, anak-anak tingkatan sekolah dasar dan menengah dapat berkenalan dan mengetahui cara memainkan macam-macam permainan tradisional.
4. Mengintegrasikan dalam kurikulum pendidikan
Buku atau materi permainan tradisional dapat diintegrasikan dengan kurikulum pendidikan, misalnya pada mata pelajaran seni budaya. Hal ini memungkinkan penyebaran pengetahuan permainan tradisional yang informatif secara lebih luas dan terstruktur. Selain dari itu, buku dapat menjadi sumber belajar mandiri yang dapat dipelajari oleh siapa saja.
5. Membuat inovasi permainan tradisional dengan teknologi
Permainan tradisional tak lekang oleh waktu. Namun, agar permainan tradisional tetap menarik dan makin seru di era serba teknologi ini, kita perlu membuat inovasi tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang ada di dalamnya. Caranya, kita bisa menciptakan varian baru. Contohnya, engklek dengan menggunakan media modern seperti papan dan koin. Kemudian, ada congklak yang bisa dibuat versi digital dengan menciptakan aplikasi di smartphone.
Mari kita mulai mengaplikasikan upaya-upaya pelestarian permainan tradisional biar tidak terkikis oleh arus pergerakan zaman. Semakin kita aktif menyebarkan serta memainkannya, maka permainan tradisional akan senantiasa mewarnai kekayaan kebudayaan bangsa.
