Konten dari Pengguna

Kisah Video Game Clair Obscur: Expedition 33

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Munaf Ali Wafa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Potongan dari Game Clair Obscur: Expedition 33 Studio Sandfall. Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Potongan dari Game Clair Obscur: Expedition 33 Studio Sandfall. Dokumentasi Pribadi

Game Clair Obscur: Expedition 33 menurut saya punya cara yang berbeda dalam menyampaikan kisahnya. Game ini tidak hanya bercerita tentang perjalanan untuk mengalahkan seorang musuh, tetapi juga tentang kehilangan, kematian, harapan, dan bagaimana seseorang menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginannya.

Clair Obscur: Expedition 33 membawa cerita tentang Lumière, sebuah kota yang setiap tahunnya harus kehilangan penduduk akibat Gommage. Setiap tahun, Paintress akan melukiskan angka baru pada Monolith. Siapa pun yang telah mencapai usia tersebut akan menghilang.

Tahun ini, angka yang muncul adalah 33. Setelah melihat banyak orang yang mereka sayangi menghilang, Gustave, Maelle, dan anggota Expedition 33 lainnya berangkat menuju Monolith untuk menghentikan Paintress dan mengakhiri Gommage. Namun, perjalanan mereka ternyata membawa mereka pada kenyataan yang jauh lebih rumit daripada sekadar mengalahkan seorang musuh.

Bagian yang paling saya suka adalah ketika game memberikan dua pilihan ending: berpihak kepada Verso atau Maelle. Saya sendiri lebih menyukai ending Verso karena terasa lebih realistis.

Jika memilih Verso, Maelle dikembalikan kepada keluarganya di dunia nyata, Canvas dihancurkan, dan jiwa Verso akhirnya dibebaskan. Ada satu scene yang menurut saya sangat emosional ketika keluarga Dessendre datang ke makam Verso untuk saling menguatkan. Setelah itu, Verso dan teman-temannya melambaikan tangan kepada Alicia sebelum perlahan menghilang sebagai sebuah kenangan.

Berbeda dengan ending Maelle. Ia memilih mempertahankan Canvas dan membunuh Verso. Maelle kemudian menjadi Paintress dan melanjutkan kehidupan di dunia tersebut. Bahkan, Verso kembali hidup sebagai seorang musisi. Sekilas memang terlihat seperti ending yang bahagia, tetapi menurut saya justru cukup tragis karena Maelle kembali meneruskan siklus kehidupan semu yang sebelumnya ingin dihentikan.

Saya sebenarnya bisa memahami Maelle. Ia masih muda dan merasa Canvas adalah tempat di mana dirinya bisa mendapatkan kehidupan yang tidak ia miliki di dunia nyata. Karena itu, saya mengerti kenapa ia begitu keras mempertahankannya. Namun, menurut saya, Maelle belum mampu menerima kenyataan bahwa Verso sudah mati dan kehidupan di Canvas hanyalah sebuah ilusi.

Itulah alasan saya lebih memilih ending Verso. Menurut saya, ending ini memang lebih menyakitkan, tetapi lebih manusiawi. Kita tidak selalu bisa mendapatkan kembali orang yang telah pergi. Terkadang, satu-satunya pilihan adalah menerima kehilangan dan melanjutkan hidup.

Secara keseluruhan, Clair Obscur: Expedition 33 berhasil memberikan cerita yang emosional dan meninggalkan kesan setelah game selesai. Ceritanya bukan hanya tentang melawan Paintress, tetapi juga tentang kehilangan, kenyataan, dan keberanian untuk melepaskan sesuatu yang kita cintai.

Rating: 9,8/10.