Konten dari Pengguna

Resensi Film "Para Perasuk": Bukan Sekadar Film Kerasukan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Munaf Ali Wafa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Official First Look Film “Para Perasuk”. Foto: Rekata Studio
zoom-in-whitePerbesar
Official First Look Film “Para Perasuk”. Foto: Rekata Studio

Film Para Perasuk hadir dengan cerita unik yang mengangkat kehidupan masyarakat Desa Latas beserta tradisi turun-temurun berupa pesta sambetan atau kerasukan. Meskipun judulnya memberikan kesan film horor, karya ini justru tidak terlalu mengandalkan elemen ketakutan seperti jumpscare atau adegan yang sengaja dibuat untuk menakut-nakuti penonton. Unsur kerasukan lebih difungsikan sebagai bagian dari budaya masyarakat sekaligus sarana untuk menyampaikan cerita dan konflik sosial.

Karakter Bayu merupakan salah satu daya tarik yang paling kuat dalam film ini. Ia tidak sekadar digambarkan sebagai pemuda yang ingin menjadi seorang Perasuk, melainkan juga sebagai seorang anak yang memiliki hubungan cukup kompleks dengan ayahnya. Konflik keluarga ini membuat karakter Bayu terasa lebih manusiawi, karena keputusannya untuk bertahan di desa sebenarnya tidak hanya didasari oleh ambisi pribadinya.

Perbedaan pandangan mulai terlihat ketika ayah Bayu yang hidup sendiri, memiliki keinginan untuk menikah lagi dan mengajak Bayu pindah ke Jakarta. Bayu menolak tawaran tersebut karena ia tidak ingin kembali mengalami hidup susah di ibu kota. Ia pernah merasakan sulitnya kehidupan di sana, hingga hanya bisa makan dua kali sehari. Bagi Bayu, desa justru memberikan kesempatan untuk mencari nafkah dan menjalani kehidupan yang lebih baik, serta jalan untuk mewujudkan keinginannya menjadi seorang Perasuk. Di sisi lain, sang ayah berpandangan bahwa membawa Bayu ke Jakarta untuk membantunya berjualan galon adalah salah satu cara untuk memperbaiki kehidupan mereka.

Hal yang menarik dari dinamika ini adalah bagaimana Bayu sebenarnya memiliki rasa sayang yang besar kepada ayahnya. Ia menjadi sosok anak yang bersedia melakukan banyak hal demi sang ayah, meskipun apa yang ia lakukan tidak selalu sesuai dengan keinginannya sendiri. Namun, di sinilah muncul sebuah ironi. Apa yang menurut Bayu merupakan bentuk pengorbanan untuk ayahnya, belum tentu menjadi sesuatu yang sebenarnya dibutuhkan oleh sang ayah.

Karakter ayah Bayu sendiri adalah sosok yang sedang berusaha bangkit dari kegagalan. Ia merasa gagal dalam mendidik anaknya dan juga mengalami kegagalan dalam berbagai usaha yang pernah dijalaninya. Perasaan tersebut semakin berat ketika ia sampai mencuri sebuah handphone dan akhirnya masuk penjara. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa ayah Bayu tidak hanya menghadapi masalah ekonomi, tetapi juga sedang berhadapan dengan rasa bersalah terhadap dirinya sendiri sebagai seorang ayah.

Pada akhirnya, hubungan Bayu dan ayahnya menunjukkan bahwa dalam sebuah keluarga, kasih sayang tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dipahami. Seorang anak bisa merasa bahwa dirinya sedang melakukan yang terbaik untuk orang tuanya, sementara orang tua justru memiliki harapan yang berbeda terhadap anaknya. Keduanya sama-sama ingin memperbaiki keadaan, tetapi memiliki cara yang berbeda. Hal tersebut membuat konflik Bayu terasa lebih dekat dengan kehidupan nyata, terutama terkait persoalan seperti pilihan untuk merantau atau tetap tinggal di daerah asal.

Kesimpulan

Sebagai sebuah film drama Indonesia, Para Perasuk arahan sutradara Wregas Bhanuteja dari skenario yang ia tulis bersama Defi Mahendra dan Alicia Angelina berhasil membuktikan bahwa kisah tentang kerasukan tidak melulu berwujud horor. Melalui ambisi Bayu yang bercita-cita menjadi perasuk di desanya, film ini justru menyajikan narasi mendalam mengenai kompleksitas konflik keluarga. Niat baik dan ambisi sang ayah maupun Bayu untuk memperbaiki nasib diperlihatkan dapat dengan mudah menjelma menjadi obsesi yang berujung pada keegoisan. Pada akhirnya, film ini patut diapresiasi karena dengan cerdas merangkai unsur tradisi lokal menjadi sarana kontemplasi sosial yang sangat relevan dengan realita kehidupan nyata.