Konten dari Pengguna

Dunia yang Membisu di Tengah Teriakan Kemanusiaan

Alan Munandar

Alan Munandar

Diaspora Indonesia di Belgia. Clinical Research Associate & Renal Care Educator. Menulis di media tentang kesehatan, teknologi, komunikasi, bisnis kesehatan, dan kisah perjalanan. Menjembatani sains, cerita, dan pengalaman lintas benua.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alan Munandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lebih dari 70 migran tenggelam di Mediterania. Rudal Rusia membunuh warga sipil di Ukraina. Ancaman sabotase mengintai jaringan energi Eropa. Tiga tragedi, satu pertanyaan: ke mana perginya rasa tanggung jawab kolektif kita?

Ada sesuatu yang sangat menyedihkan dalam cara kita mencerna berita duka hari ini. Sebuah perahu penuh manusia tenggelam di Laut Mediterania lebih dari 70 jiwa yang masing-masing punya nama, keluarga, dan mimpi dan berita itu hanya bertahan beberapa jam di halaman depan sebelum tergeser oleh hiruk-pikuk lain. Kita membaca, menghela napas, lalu melanjutkan hari.

Pada pekan yang sama, rudal Rusia kembali menghantam kota-kota di Ukraina. Serangan masif menewaskan 15 orang. Di Odesa, kota pelabuhan yang pernah dikenal sebagai mutiara Laut Hitam, tiga nyawa melayang, salah satunya seorang anak. Dan di suatu titik antara Serbia dan Hungaria, bahan peledak ditemukan tersembunyi di dekat pipa gas yang menghubungkan dua negara Eropa. Tiga peristiwa dalam hitungan hari. Tiga cerminan dari dunia yang sedang sakit.

“Ketika kematian seorang anak di Odesa hanya menjadi satu baris dalam laporan harian, kita perlu bertanya: apakah kepekaan moral kita telah tumpul oleh terlalu banyak tragedi?”

Mediterania: Kuburan Tanpa Nisan

Laut Mediterania bukan lagi sekadar jalur pelayaran bersejarah. Ia telah berubah menjadi pemakaman terbesar di dunia tanpa nisan, tanpa tanggal, tanpa nama. Sejak 2014, lebih dari 30.000 orang diperkirakan tewas atau hilang saat mencoba menyeberanginya. Angka-angka ini bukan statistik; ini adalah kehidupan yang padam demi mengejar kehidupan yang layak.

Yang terjadi pekan ini bukan anomali. Ini adalah rutinitas yang mengerikan. Para migran kebanyakan berasal dari Afrika Sub-Sahara dan Timur Tengah naik perahu yang tidak layak laut karena tidak ada pilihan lain yang tersedia. Mereka tidak melarikan diri dari kemiskinan semata; mereka melarikan diri dari konflik, penganiayaan, dan kematian yang lebih pasti di daratan. Ironinya: mereka menemukan kematian di lautan yang mereka harapkan membawa keselamatan.

Eropa telah lama bergumul dengan kebijakan migrasi yang sering kali lebih mengutamakan penjagaan perbatasan ketimbang penyelamatan nyawa. Operasi pencarian dan penyelamatan dikurangi dengan dalih bahwa keberadaannya justru mendorong lebih banyak orang untuk menyeberang. Logika ini yang rela mengorbankan nyawa demi menciptakan efek jera adalah logika yang secara moral tidak bisa dipertahankan.

Ukraina: Ketika Anak-anak Menjadi Korban Perang Orang Dewasa

Seorang anak tewas di Odesa. Kalimat itu seharusnya membuat kita berhenti. Bukan hanya membaca, tetapi benar-benar berhenti dan merenungkan apa artinya. Di balik angka korban jiwa yang tercatat dalam laporan berita, ada seorang anak yang mungkin tadi pagi masih bermain, yang tak pernah memahami mengapa dunia orang dewasa bisa sepanas itu.

Perang di Ukraina telah memasuki tahun keempatnya. Dunia telah terbiasa. Dan justru di sinilah bahayanya: ketika sesuatu yang luar biasa buruk menjadi terasa biasa. Serangan udara masif yang menewaskan 15 orang dalam satu malam seharusnya menggetarkan nurani internasional. Kenyataannya, respons dunia semakin melembaga pernyataan kecaman yang seragam, sesi darurat Dewan Keamanan PBB yang berulang kali berakhir buntu karena veto, dan bantuan militer yang terus mengalir namun belum mampu mengakhiri penderitaan.

Pertanyaan yang harus diajukan bukan hanya soal bagaimana mengakhiri perang ini, tetapi juga: bagaimana kita memastikan bahwa anak-anak yang selamat tidak membawa luka psikologis yang akan membentuk generasi penuh trauma? Rekonstruksi fisik bisa direncanakan. Rekonstruksi jiwa jauh lebih sulit.

“Bahan peledak di dekat pipa gas bukan sekadar ancaman energi, ia adalah pengingat bahwa ketidakstabilan geopolitik bisa meledak kapan saja, di tempat yang tidak kita sangka.”

Ancaman Infrastruktur: Ketika Perang Merambah ke Bawah Tanah

Penemuan bahan peledak di dekat pipa gas Serbia–Hungaria menambah dimensi baru dalam lanskap ancaman keamanan Eropa. Ini bukan sekadar sabotase infrastruktur ini adalah pengingat bahwa medan perang modern tidak lagi mengenal batas geografis yang tegas. Jaringan energi, kabel bawah laut, sistem komunikasi: semuanya kini menjadi target potensial dalam konflik yang semakin kabur antara perang dan damai.

Insiden ini harus dibaca dalam konteks yang lebih luas. Eropa sedang dalam proses menyapih dirinya dari ketergantungan energi terhadap Rusia sebuah transisi yang menyakitkan dan mahal. Dalam kondisi itu, infrastruktur energi alternatif menjadi sangat strategis, dan karena itu, sangat rentan. Ketika pipa gas menjadi target, yang terancam bukan hanya pasokan energi untuk musim dingin, tetapi juga stabilitas politik domestik di negara-negara yang bergantung padanya.

Tiga Krisis, Satu Kegagalan Sistemik

Tiga peristiwa ini tampak berbeda migran yang tenggelam, warga sipil yang terbunuh oleh rudal, ancaman sabotase infrastruktur energi. Namun ketiganya memiliki benang merah: kegagalan tata kelola global yang memadai dalam mencegah, merespons, dan memulihkan krisis kemanusiaan dan keamanan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang seharusnya menjadi forum utama penyelesaian krisis global, semakin sering tampak seperti panggung sandiwara di mana kepentingan negara-negara besar mengalahkan kebutuhan kemanusiaan paling mendasar. Reformasi mendasar sistem multilateral bukan lagi pilihan ia adalah kebutuhan mendesak.

Bagi Indonesia, tiga peristiwa ini bukan sekadar berita dari benua lain. Sebagai negara dengan tradisi panjang dalam diplomasi kemanusiaan dan anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB di masa lalu, Indonesia memiliki modal moral untuk bersuara. Posisi non-blok yang selama ini dipegang bukan berarti bisu di hadapan penderitaan manusia. Justru sebaliknya netralitas yang sejati berarti berdiri di sisi kemanusiaan, bukan di sisi kepentingan geopolitik mana pun.

Pada akhirnya, yang paling menakutkan dari semua ini bukan bom, bukan gelombang Mediterania, bukan ancaman sabotase. Yang paling menakutkan adalah kemungkinan bahwa kita telah terbiasa. Bahwa kita telah belajar untuk membaca angka korban jiwa tanpa benar-benar merasakannya. Bahwa kepekaan kita telah tumpul oleh terlalu banyak tragedi yang datang silih berganti.

Jika ada pelajaran yang bisa diambil dari minggu yang gelap ini, mungkin inilah: kepekaan moral adalah otot. Ia perlu dilatih setiap hari, agar tidak mengecil dan mengeras menjadi ketidakpedulian. Membaca, memahami, dan bersuara sekecil apa pun adalah cara kita menjaga otot itu tetap hidup.