"Ing Ngarsa Sung Tuladha" di Era Layar: Refleksi Komunikasi pada Hari Pendidikan

Diaspora Indonesia di Belgia. Clinical Research Associate & Renal Care Educator. Menulis di media tentang kesehatan, teknologi, komunikasi, bisnis kesehatan, dan kisah perjalanan. Menjembatani sains, cerita, dan pengalaman lintas benua.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Alan Munandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai bentuk penghormatan atas kelahiran Ki Hajar Dewantara, tokoh yang mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa di Yogyakarta pada 3 Juli 1922 sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial yang diskriminatif (Amanatullah, 2020). Semboyannya yang agung, Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, telah menjadi ruh pendidikan Indonesia selama lebih dari satu abad (Inspektorat Jenderal Kemendikdasmen, 2024). Namun di tengah riuh rendah notifikasi digital dan kecerdasan buatan yang makin canggih, patut kita bertanya: apakah ruh komunikasi pendidikan yang Ki Hajar wariskan masih benar-benar hidup? Jawabannya tidak sederhana dan itulah yang membuat pertanyaan ini penting untuk diajukan justru di hari ini.
Ketika Kelas Berubah, Komunikasi Tertinggal
Ruang kelas hari ini bukan lagi empat dinding dengan papan tulis hitam. Ia adalah layar laptop, grup WhatsApp kelas, video YouTube, dan antarmuka kecerdasan buatan yang menjawab pertanyaan siswa dalam hitungan detik. Namun transformasi fisik ruang belajar ini tidak selalu diiringi transformasi cara berkomunikasi. Banyak pendidik yang bermigrasi ke platform digital hanya untuk memindahkan metode lama: ceramah satu arah, informasi satu arah, relasi satu arah (Ridho et al., 2024).
Penelitian Astiti dan Raharja (2023) di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Bagasasi menunjukkan bahwa pendidikan era digital memperkenalkan paradigma baru dalam interaksi antara dosen dan mahasiswa, namun efektivitasnya sangat bergantung pada kualitas komunikasi yang dibangun, bukan semata pada teknologi yang digunakan (Astiti & Raharja, 2023). Dengan kata lain, platform digital hanyalah medium. Komunikasi yang bermakna tetap menjadi inti dari proses belajar yang sejati.
Guru sebagai Komunikator, Bukan Sekadar Pengajar
Ki Hajar Dewantara tidak pernah memisahkan antara pendidik dan komunikator. Baginya, mendidik adalah berkomunikasi dengan seluruh keberadaan diri: dengan keteladanan (tuladha), dengan dorongan semangat (mangun karsa), dan dengan kepercayaan (handayani) (Amanatullah, 2020). Ketiganya adalah prinsip komunikasi yang jauh melampaui sekadar transfer pengetahuan.
Penelitian dari Universitas Pendidikan Indonesia membuktikan hal ini secara empiris: komunikasi interpersonal guru memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap efektivitas pembelajaran siswa kelas X Administrasi Perkantoran di Sekolah Menengah Kejuruan (Amalia & Suwatno, 2019). Artinya, guru yang mampu membangun kedekatan emosional, mendengarkan secara aktif, dan merespons dengan empati akan tetap menjadi yang paling berpengaruh, dengan atau tanpa bantuan teknologi. Temuan serupa dikonfirmasi oleh penelitian di MIN 1 Medan yang menyimpulkan bahwa keterbukaan, keakraban, dan penggunaan bahasa yang mudah dipahami menjadi penentu utama meningkatnya motivasi belajar siswa (Maulidayani et al., 2025).
Paradoks Digitalisasi dan Kesenjangan Komunikasi
Di tengah euforia digitalisasi pendidikan, ada fakta yang kerap luput dari percakapan kita pada setiap Hardiknas: komunikasi pendidikan yang berkualitas belum merata. Penelitian Ridho et al. (2024) mencatat bahwa meskipun era digital membuka peluang baru, tantangan berupa keterbatasan akses dan ketimpangan literasi digital masih nyata dirasakan, terutama di daerah yang jauh dari pusat pembangunan (Ridho et al., 2024). Artinya, transformasi komunikasi pendidikan yang sedang berjalan baru menjangkau sebagian, dan belum seluruh, anak bangsa.
Ketimpangan ini bukan hanya soal infrastruktur perangkat keras. Ia adalah kesenjangan komunikasi yang sistemik: anak-anak di wilayah tertinggal tidak hanya kekurangan akses internet, tetapi juga kekurangan akses terhadap guru yang terlatih berkomunikasi secara efektif, empatik, dan adaptif. Hardiknas seharusnya menjadi momentum untuk jujur mengakui bahwa reformasi komunikasi dalam pendidikan tidak bisa berhenti pada pengadaan perangkat digital semata.
Tiga Pergeseran yang Perlu Terjadi
Ada tiga pergeseran mendasar yang perlu dilakukan dalam komunikasi pendidikan Indonesia.
Pertama, kembalikan komunikasi ke jantung kurikulum pelatihan guru. Kompetensi komunikasi interpersonal yang empatik, adaptif, dan inklusif harus menjadi prioritas dalam program pendidikan dan pelatihan guru di semua jenjang, bukan sekadar pelengkap di antara pelatihan teknologi.
Kedua, tempatkan peserta didik sebagai subjek dialog, bukan penerima pesan. Komunikasi pendidikan yang sehat adalah dialog dua arah. Penelitian menunjukkan bahwa keaktifan siswa berpendapat dan keberanian mengajukan pertanyaan adalah indikator utama efektivitas komunikasi di dalam kelas (Maulidayani et al., 2025).
Ketiga, rawat tradisi komunikasi lisan berbasis kearifan lokal. Indonesia kaya dengan tradisi bercerita, berdiskusi, dan berdebat secara santun yang merupakan warisan komunikasi jauh lebih tua dari media sosial. Digitalisasi media pembelajaran dapat menjadi jembatan, bukan pengganti, dari tradisi komunikasi yang humanis ini (Astiti & Raharja, 2023).
Pendidikan Sejati adalah Komunikasi yang Manusiawi
Ki Hajar Dewantara mengajarkan bahwa pendidikan sejati adalah humanisasi, yaitu proses memanusiakan manusia melalui tuntunan yang penuh keteladanan dan kepercayaan (Amanatullah, 2020). Dan humanisasi hanya mungkin terjadi melalui komunikasi yang manusiawi: komunikasi yang mendengar, peduli, dan mempercayai potensi setiap peserta didik.
Di hari yang istimewa ini, mari kita tidak hanya merayakan pendidikan dengan upacara dan semboyan, tetapi dengan sungguh-sungguh memperbaiki cara kita berbicara, mendengar, dan bertumbuh bersama. Karena pada akhirnya, kualitas pendidikan sebuah bangsa ditentukan bukan oleh kecanggihan teknologi yang dimilikinya, melainkan oleh kedalaman komunikasi yang terjadi di dalamnya.
Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026.
