Kenapa Pasien Pulang Bingung? Ini yang Kurang dari Nakes Kita

Diaspora Indonesia di Belgia. Clinical Research Associate & Renal Care Educator. Menulis di media tentang kesehatan, teknologi, komunikasi, bisnis kesehatan, dan kisah perjalanan. Menjembatani sains, cerita, dan pengalaman lintas benua.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Alan Munandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah pulang dari dokter tapi malah makin bingung?
Dokternya sudah bicara panjang lebar, resepnya sudah di tangan, tapi kamu tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi pada tubuhmu. Rasanya seperti baru selesai rapat yang tidak ada kesimpulannya. Atau lebih tepatnya, seperti bicara sama orang yang sibuk sendiri.
Sayangnya, ini bukan pengalaman satu dua orang.
Obat Saja Tidak Cukup
Nakes, baik dokter, perawat, maupun bidan, dilatih bertahun-tahun untuk memahami tubuh manusia. Dan itu tidak mudah. Tapi di tengah semua ilmu yang mereka pelajari, ada satu hal yang sering tidak mendapat perhatian cukup: bagaimana caranya bicara dengan orang yang sedang sakit, takut, dan butuh didengar.
Komunikasi terapeutik bukan soal harus ramah atau harus senyum terus. Lebih dari itu, ini soal cara berkomunikasi yang punya tujuan. Tujuannya sederhana: pasien paham kondisinya, merasa aman, dan tidak pulang dengan kepala penuh tanda tanya.
Praktiknya bisa sangat sederhana. Menatap mata pasien saat menjelaskan. Menggunakan kata-kata yang tidak perlu dicari dulu di Google. Memberi jeda supaya pasien bisa bertanya. Hal-hal kecil yang dampaknya ternyata tidak kecil sama sekali.
Didengar Itu Bagian dari Sembuh
Banyak penelitian menunjukkan bahwa pasien yang merasa dipahami oleh nakesnya punya hasil pengobatan yang lebih baik. Mereka lebih patuh minum obat, lebih jujur soal gejala yang dirasakan, dan tingkat kecemasannya lebih rendah selama perawatan.
Sebaliknya, pasien yang tidak paham apa yang sedang terjadi pada tubuhnya lebih rentan stres. Dan stres, seperti yang kita tahu, tidak membantu proses penyembuhan sama sekali.
Bayangkan dua pasien kanker yang menjalani kemoterapi. Yang satu dapat penjelasan lengkap, dokternya sabar menjawab pertanyaan, dan dia tahu apa yang akan terjadi di setiap sesi. Yang satu lagi hanya dikasih jadwal dan disuruh datang. Secara medis, prosedurnya sama. Tapi pengalaman dan kondisi mentalnya bisa sangat berbeda.
Komunikasi yang baik bukan pelengkap pengobatan. Ia bagian dari pengobatan itu sendiri.
Kenapa Masih Sering Diabaikan?
Ini pertanyaan yang wajar. Kalau manfaatnya jelas, kenapa masih banyak nakes yang komunikasinya terasa dingin atau terburu-buru?
Jawabannya tidak sederhana.
Beban kerja nakes di Indonesia itu berat. Dokter di puskesmas bisa menangani 50 sampai 80 pasien dalam sehari. Dalam situasi seperti itu, “komunikasi yang baik” terasa seperti kemewahan yang tidak ada waktunya. Padahal justru di sanalah masalahnya, sistem yang kewalahan akhirnya mengorbankan kualitas interaksi.
Di sisi pendidikan, komunikasi terapeutik memang masuk kurikulum. Tapi porsinya sering kalah jauh dibanding kompetensi klinis. Mahasiswa kedokteran bisa menghabiskan ratusan jam belajar anatomi, tapi hanya beberapa sesi untuk belajar bagaimana menyampaikan diagnosis buruk kepada pasien yang baru pertama kali mendengar kata “tumor.”
Satu hal lagi yang jarang diakui terbuka: masih ada anggapan bahwa komunikasi itu soal kepribadian bawaan. Kalau kamu memang orangnya hangat dan mudah bergaul, ya sudah beres. Padahal komunikasi terapeutik adalah keterampilan. Bisa dipelajari, bisa dilatih, dan bisa terus diperbaiki, sama persis seperti keterampilan medis lainnya.
Bukan Soal Harus Lembut
Perlu diluruskan satu hal: komunikasi terapeutik bukan berarti nakes harus selalu berbicara pelan dan penuh kelembutan. Dalam kondisi darurat, yang dibutuhkan justru ketegasan dan kejelasan. Tidak ada waktu untuk basa-basi.
Yang dimaksud komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang tepat situasi. Tahu kapan harus memberi ruang, kapan harus langsung ke inti, kapan pasien butuh dijelaskan ulang, dan kapan mereka hanya butuh seseorang yang duduk diam di sebelah mereka.
Perawat yang menjelaskan prosedur dengan tenang sebelum memasang infus. Bidan yang berbicara jujur kepada ibu yang baru saja kehilangan bayinya, dengan suara yang tidak gemetar tapi juga tidak kaku. Itu bukan sekadar sopan santun. Itu kerja profesional.
Yang Perlu Berubah
Tulisan ini bukan untuk menyudutkan nakes. Sebagian besar dari mereka bekerja keras dalam kondisi yang tidak ideal, dan itu perlu diapresiasi.
Tapi ada yang perlu dibenahi.
Pelatihan komunikasi terapeutik harus diperlakukan serius, bukan dijadikan kelas pelengkap yang bisa dilewat begitu saja. Simulasi menghadapi pasien marah, pasien yang tidak mengerti, atau pasien yang baru mendapat kabar buruk perlu jadi bagian rutin dari pendidikan nakes sejak awal.
Dan standar kualitas layanan kesehatan perlu mulai memasukkan aspek komunikasi, tidak hanya angka kesembuhan atau angka komplikasi. Pasien yang secara medis berhasil ditangani tapi pulang dengan trauma karena diperlakukan dingin, itu bukan kesuksesan penuh.
Tubuh yang diobati memang penting. Tapi orangnya yang perlu disembuhkan.
