Konten dari Pengguna

Krisis PTM Indonesia Adalah Krisis Komunikasi Kesehatan

Alan Munandar

Alan Munandar

Diaspora Indonesia di Belgia. Clinical Research Associate & Renal Care Educator. Menulis di media tentang kesehatan, teknologi, komunikasi, bisnis kesehatan, dan kisah perjalanan. Menjembatani sains, cerita, dan pengalaman lintas benua.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alan Munandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi cek tensi. Foto: rawpixel.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi cek tensi. Foto: rawpixel.com

Angka itu seharusnya cukup untuk membuat kita tersadar. Sejak diluncurkan pada Februari 2025, lebih dari 70 juta warga Indonesia sudah mengikuti program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Dari pemeriksaan itu, satu dari lima peserta ternyata mengidap hipertensi, 5,9 persen menderita diabetes, dan satu dari dua peserta punya masalah gigi (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia [Kemenkes RI], 2025). Hipertensi dan diabetes adalah dua faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke, sekaligus dua penyebab kematian tertinggi di Indonesia (Kemenkes RI, 2025). Pertanyaannya, di tengah derasnya arus informasi digital, kenapa jutaan orang masih tidak menyadari dirinya sedang sakit? Jawabannya bukan hanya soal akses layanan. Ini juga soal komunikasi yang gagal sampai.

Penyakit yang senyap, pesan yang juga senyap

Hipertensi dijuluki silent killer bukan tanpa alasan. Ia tidak menyebabkan nyeri, demam, atau gejala mencolok, sehingga banyak orang baru menyadarinya saat komplikasi serius muncul (Ritonga, 2022). Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi hipertensi pada kelompok usia 18 hingga 24 tahun sudah mencapai 10,7 persen, dan 17,4 persen pada kelompok 25 hingga 34 tahun (Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan [BKPK] Kemenkes RI, 2024). Anak muda pun tidak luput. Ironisnya, strategi komunikasi kita tentang penyakit ini bekerja dengan cara yang serupa, yaitu pelan, sepi, dan jarang mengusik perhatian publik.

Pesan kesehatan tentang penyakit tidak menular (PTM) di Indonesia masih cenderung disampaikan dalam format kaku, mulai dari brosur di puskesmas, poster di klinik, hingga siaran pers yang tenggelam dalam banjir konten media sosial. Bahasanya teknis, distribusinya terbatas pada ruang yang hanya disambangi mereka yang sudah peduli kesehatannya. Padahal data Mashuri et al. (2024) di empat kabupaten Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat yang tidak mengakses program komunitas seperti POSBINDU memiliki pengetahuan lebih rendah tentang faktor risiko hipertensi dibanding yang aktif mengaksesnya. Ketika kanal edukasi sempit, pengetahuan publik pun ikut sempit.

Banjir konten, miskin informasi yang relevan

Kita hidup di era ketika seseorang bisa menonton ratusan konten viral dalam satu malam, tetapi tidak pernah menemukan satu konten pun yang menjelaskan bahwa tekanan darah di atas 140/90 mmHg adalah ancaman nyata bagi nyawanya. Ini bukan paradoks teknologi. Ini kegagalan framing dalam komunikasi kesehatan kita.

Teori agenda-setting mengingatkan bahwa media tidak hanya memberi tahu apa yang sedang terjadi, tetapi juga menentukan apa yang dianggap penting (Dearing & Rogers, 1996). Dearing dan Rogers menyebut ada tiga komponen yang saling memengaruhi dalam proses ini, yaitu agenda media, agenda publik, dan agenda kebijakan. Di era media sosial, dinamikanya makin kompleks karena pengguna tidak sekadar menerima agenda, melainkan ikut membentuknya (Albalawi & Sixsmith, 2015). Ketika PTM tidak mendapat porsi yang memadai dalam agenda media dan terdesak oleh berita politik serta hiburan, masyarakat pun tidak menempatkannya sebagai prioritas pribadi.

Deteksi dini bukan akhir dari pekerjaan

Program CKG sebenarnya terobosan penting karena membuka deteksi dini secara masif dan gratis. Namun deteksi dini tanpa tindak lanjut komunikasi yang kuat hanya akan berhenti di laporan. Pemeriksaan boleh menjangkau 70 juta orang, tetapi jika hasilnya tidak diterjemahkan menjadi pesan yang dimengerti, dirasa relevan, dan diingat oleh masyarakat, dampaknya terbatas.

Dari informasi ke narasi

Ada beberapa pergeseran mendasar yang perlu kita lakukan. Strategi komunikasi PTM perlu beralih dari sekadar penyampaian informasi ke pendekatan berbasis narasi. Angka statistik jarang menggerakkan emosi manusia, tetapi cerita konkret tentang seorang ibu di Banjarmasin yang baru tahu dirinya hipertensi saat masuk IGD dapat membekas jauh lebih lama. Komunikasi kesehatan berbasis cerita lebih efektif memantik perubahan perilaku karena bekerja pada level emosi, bukan hanya kognisi.

Pesan yang menyesuaikan, bukan memaksa

Kampanye juga perlu lebih personal dan kontekstual. Pesan satu format untuk semua sudah tidak relevan di era algoritma. Konten pendek di TikTok untuk gen Z, video Reels untuk milenial, broadcast WhatsApp untuk kelompok lansia, masing-masing punya bahasa dan ritmenya sendiri. Pesan kesehatan harus menyesuaikan, bukan memaksakan satu gaya.

Tenaga kesehatan bukan satu-satunya juru bicara

Yang tidak kalah penting adalah meninggalkan pola di mana tenaga kesehatan menjadi satu-satunya sumber pesan. Studi Ritonga (2022) tentang strategi komunikasi hipertensi di Banjarmasin menunjukkan bahwa pelibatan influencer lokal, kader komunitas, dan kemitraan dengan pelaku usaha kecil memperluas jangkauan pesan secara signifikan. Tokoh masyarakat dan pemuka agama bukan kelemahan dalam strategi komunikasi modern. Di banyak daerah, mereka justru pintu utama menuju kepercayaan publik.

Alarm yang sudah berbunyi

Hasil CKG 2025 telah membunyikan alarm. Satu dari dua orang yang kita temui setiap hari kemungkinan mengidap masalah kesehatan yang belum tertangani. Pertanyaannya kini bukan apakah datanya cukup, melainkan apakah kita sebagai pemerintah, akademisi, jurnalis, dan warga biasa cukup serius menerjemahkan data itu ke dalam percakapan sehari-hari, di ruang keluarga, di grup WhatsApp tetangga, dan di obrolan warung kopi.

Penyakit tidak menular bukan sekadar urusan medis. Ia juga urusan komunikasi, dan tanggung jawabnya tidak bisa hanya disandarkan ke Kemenkes.