Konten dari Pengguna

Rupiah di Titik Nadir: Minyak, Geopolitik, dan Rapuhnya Fondasi Ekonomi Domestik

Alan Munandar

Alan Munandar

Clinical Research Associate & Renal Care Educator. Menulis di media tentang kesehatan, teknologi, komunikasi, bisnis kesehatan, dan kisah perjalanan. Menjembatani sains, cerita, dan pengalaman lintas benua.

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alan Munandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi uang. Foto oleh Mufid Majnun on Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi uang. Foto oleh Mufid Majnun on Unsplash

ANGKA itu terasa berat. Pada Jumat pagi, 15 Mei 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menembus Rp 17.606, melemah 77 poin atau 0,44 persen hanya dalam satu sesi perdagangan. Bloomberg (2026) mencatat posisi tersebut pada pukul 09.35 WIB, mempertegas bahwa tekanan terhadap rupiah bukan lagi sekadar fluktuasi sesaat.

Ini bukan yang pertama kali. Dalam beberapa pekan terakhir, rupiah terus menggoreskan rekor-rekor yang tidak ingin kita rayakan. Kontan.co.id (2026) mencatat bahwa pada 12 Mei 2026, rupiah sempat menyentuh Rp 17.521 per dolar AS secara intraday, yang kala itu menjadi level terlemah sepanjang sejarah. Kini level tersebut sudah terlewati lagi.

Apa yang sedang terjadi?

Jawaban singkatnya: banyak hal sekaligus. Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia, menyebut bahwa pelemahan kali ini dipicu utamanya oleh aksi jual saham oleh investor asing menjelang pengumuman rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI). Di sisi lain, ia juga menunjuk ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz yang justru makin memanas sebagai faktor kedua yang tak kalah signifikan (Kumparan, 2026).

Konflik di Selat Hormuz bukan isu kecil. Jalur perairan itu biasanya mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Ketika Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran "di ujung tanduk" setelah Teheran menolak proposal Washington, harga minyak melonjak dan indeks dolar kembali menguat ke level 98 (CNBC Indonesia, 2026a). Bagi Indonesia sebagai negara net importir energi, kenaikan harga minyak global adalah kabar buruk ganda: devisa terkuras lebih cepat, sekaligus tekanan inflasi dari dalam.

Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, sudah memberi peringatan lebih awal. Ia memperkirakan bahwa jika harga minyak Brent bertahan di atas 110 dolar AS per barel dan arus modal asing belum pulih, rupiah berpotensi menguji level Rp 17.800 (Kompas.com, 2026). Proyeksi itu kini terasa bukan lagi skenario terburuk, melainkan bisa jadi skenario tengah.

Yang membuat situasi ini lebih mengkhawatirkan adalah kondisi domestik yang tidak sedang dalam posisi prima untuk menahan guncangan eksternal. CNBC Indonesia (2026b) melaporkan bahwa cadangan devisa Indonesia turun dari 156,5 miliar dolar AS pada akhir Desember 2025 menjadi 146,2 miliar dolar AS per April 2026. Artinya, hanya dalam empat bulan, cadangan devisa terkikis lebih dari 10 miliar dolar AS, sebagian besar untuk intervensi pasar valuta asing.

Dari sisi fiskal, tekanannya juga nyata. Defisit APBN pada kuartal I-2026 tercatat sebesar Rp 240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB, naik lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya 0,43 persen (CNBC Indonesia, 2026b). Pasar membaca angka-angka ini. Ketika investor mempertanyakan kemampuan pemerintah menjaga defisit di bawah batas tiga persen sepanjang 2026, kepercayaan pada aset berdenominasi rupiah melemah.

Bank Indonesia tidak tinggal diam. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan bahwa bank sentral terus melakukan intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Non-Deliverable Forward (NDF) untuk menjaga stabilitas nilai tukar (Kumparan, 2026). Intervensi tersebut memang perlu, tetapi bukan solusi jangka panjang jika tekanan fundamental tidak diselesaikan.

Ini adalah persoalan yang lebih dalam dari sekadar nilai tukar. Listya Endang Artiani, dosen dan peneliti Universitas Islam Indonesia, mengingatkan bahwa pelemahan rupiah hampir selalu merupakan gejala dari kombinasi tekanan eksternal dan kerentanan internal. Ketika investor global mencium ketidakpastian, mereka menarik dana dari pasar negara berkembang untuk mencari imbal hasil lebih tinggi di aset berdenominasi dolar (Tempo.co, 2025). Indonesia harus menjadi negara yang cukup menarik dan cukup stabil agar logika itu tidak selalu berpihak pada pelarian modal.

Persoalannya, daya tarik itu tidak bisa dibangun semalam. Ia tergantung pada kepercayaan jangka panjang terhadap tata kelola fiskal, konsistensi kebijakan moneter, serta kemampuan industri dalam negeri untuk tidak terlalu bergantung pada impor bahan baku berdenominasi dolar. Selama rantai ketergantungan itu belum dipotong, setiap guncangan eksternal akan selalu menemukan pintu masuk yang sama.

Rupiah yang melemah bukan hanya angka di layar terminal Bloomberg. Ia adalah biaya yang dibayar setiap hari oleh importir, produsen yang bergantung bahan baku luar negeri, dan masyarakat yang merasakan kenaikan harga barang. Langkah intervensi memang perlu, tetapi tanpa perbaikan struktural yang konsisten, kita hanya memindahkan masalah ke kuartal berikutnya.

Pertanyaan yang sebenarnya bukan seberapa rendah rupiah akan jatuh hari ini. Pertanyaannya adalah apakah kita sedang membangun fondasi yang cukup kuat agar jatuhnya tidak seterusnya menjadi lebih dalam.