Bangkitkan Nasionalisme dengan Bangga Buatan Indonesia

ASN Badan Pangan Nasional
Konten dari Pengguna
26 Mei 2022 11:02
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Munawar Khalil N tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto: BPMI Setpres
zoom-in-whitePerbesar
Foto: BPMI Setpres
ADVERTISEMENT
Beberapa tahun lalu, saya pernah ke kawasan Blok M mencari sepatu yang nyaman untuk dipakai baik ngantor maupun ngebolang. Setelah keliling mencari dan mencoba beberapa produk sepatu, pilihan saya jatuh pada sepasang sepatu dengan merk Weidenmann. Saya yang awam dengan berbagai merk sepatu pada awalnya menyangka ini brand dari luar negeri. Mungkin dari Jerman. Tapi saya tidak peduli merk. Yang penting nyaman di kaki dan bentuknya sesuai dengan yang saya harapkan.
ADVERTISEMENT
Saya baru tahu sepatu yang saya pakai ini adalah produk dalam negeri setelah sekian bulan saya pakai. Itupun karena iseng mencari di internet merk sepatu yang kurang akrab di telinga saya ini. Timbul semacam kebanggaan tersendiri memakai sepatu yang saya kira dari luar negeri, ternyata karya anak bangsa.
Saya jadi teringat cerita di atas ketika menonton acara Evaluasi Aksi Afirmasi Bangga Buatan Indonesia (BBI) yang dihadiri langsung Presiden Joko Widodo pada Selasa 25 Mei 2022. Gernas BBI yang dimulai sejak tahun 2020 lalu ini bertujuan untuk mendorong masyarakat mencintai dan membeli produk-produk dari dalam negeri, terutama produk UMKM.
Gerakan afirmasi ini dipandang urgen sebagai salah satu upaya meningkatkan perekonomian bangsa apalagi saat kita masih menghadapi dampak pandemi yang menyebabkan pelambatan di sektor ekonomi. Selain itu BBI ini menjadi perwujudan dari nasionalisme bangsa. Bahwa di tengah gempuran produk dari negara lain sebagai konsekuensi globalisasi, kita dengan sadar mau memilih untuk membeli dan menggunakan produk dari dalam negeri.
ADVERTISEMENT
Teladan Para Pemimpin
Menyeru masyarakat untuk menggunakan produk dalam negeri tidak akan bisa berhasil jika tidak ada teladan dari para tokoh dan pemimpin. Jika pemimpin tidak memberi teladan yang baik maka bisa dipastikan rakyat tidak akan mau mengikuti anjurannya.
Jika pemerintah menggaungkan BBI, selayaknya para pemimpin di berbagai lapisan menerapkannya. Presiden Jokowi dan Menparekraf Sandiaga S. Uno memberi contoh dengan memakai sepatu dan pakaian buatan dalam negeri. Pakaian adat yang digunakan pada momentum HUT Kemerdekaan RI dalam beberapa tahun terakhir juga memberi pesan kuat bahwa nusantara ini kaya dengan berbagai produk dan budaya. Tidak perlu berbangga dengan budaya dan produk dari luar.
Untuk menguatkan kebanggaan kita terhadap produk dalam negeri, kualitas produk harus menjadi perhatian utama bagi para produsen. Kualitas ini sangat penting karena akan “mengikat” konsumen untuk tidak berpindah ke lain hati. Jika kualitas asal-asalan niscaya akan memberi kesan buruk yang pada akhirnya ditinggalkan.
ADVERTISEMENT
Jika kualitas bagus, perlu desain yang menarik serta upaya melakukan branding yang kuat. Peran dari sektor swasta dan asosiasi sangat diperlukan dalam membangun kualitas produk lokal yang baik.
Bukan Sekadar Tagar
Gernas BBI tidak berhenti hanya pada kampanye dan sosialisasi #banggabuatanindonesia yang digencarkan pemerintah pusat dan daerah. Presiden Jokowi meminta agar mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk belanja produk lokal. Target pembelian produk dalam negeri sebesar 400 triliun rupiah atau 11,8% dari total gabungan APBN dan APBD yang mencapai 3.371 triliun rupiah.
Ini bisa “memaksa” pemerintah pusat dan daerah memakai produk dalam negeri untuk pengadaan barang dan jasa. Tentu ini terobosan yang sangat baik, karena perputaran ekonomi akan terjadi dan manfaatnya dari rakyat untuk rakyat.
ADVERTISEMENT
“Karena ini uang rakyat, jangan dong dibelikan barang-barang impor” tegas Presiden Jokowi.
Situasi pandemi melambatkan ekonomi, ditambah lagi perang Rusia-Ukraina memengaruhi geopolitik dan ekonomi global. Presiden minta kepada seluruh pejabat di pusat dan daerah agar punya sense of crisis. Kepekaan terhadap kondisi ini penting sehingga dalam mengeksekusi anggaran, nampak keberpihakan terhadap kepentingan dalam negeri. Jadi ada kesadaran bersama terhadap pengarusutamaan produk lokal dalam pengadaan barang dan jasa serta pemberdayaan UMKM yang dilakukan oleh pemerintah di semua tingkatan.
Pemerintah melalui berbagai kementerian dan lembaga juga pemerintah daerah memaksimalkan dukungan terhadap pelaku usaha khususnya UMKM agar bisa memasuki pasar digital sehingga bisa memperluas jangkauan.
Melalui Gernas BBI yang diluncurkan sejak 2020 lalu, hingga saat ini ada sekitar 17,2 juta UMKM yang masuk marketplace dan memasarkan produknya secara daring. Target pemerintah akan ada 30 juta UMKM yang masuk dan memanfaatkan marketplace pada 2023.
ADVERTISEMENT
Semoga dengan Gernas BBI ini UMKM bangkit dan semakin berdaya. Produk-produk lokal bukan lagi sekadar alternatif bagi masyarakat, tapi menjadi pilihan utama dan menjadi kebanggan bagi semua.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020