Konten dari Pengguna

Indonesia Terlalu Kaya untuk Hanya Jadi Konsumen Modest Fashion

Munawaroh Hasan

Munawaroh Hasan

Dosen dan Praktisi di Bidang Bisnis dan Ekonomi

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Munawaroh Hasan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: https://www.freepik.com/free-photo/beautiful-women-wearing-hijab_22896319.htm#fromView=search&page=1&position=3&uuid=eb0b41d6-ff22-423e-97c4-0ea6e7a33fc6&query=modest+fashion
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://www.freepik.com/free-photo/beautiful-women-wearing-hijab_22896319.htm#fromView=search&page=1&position=3&uuid=eb0b41d6-ff22-423e-97c4-0ea6e7a33fc6&query=modest+fashion

Di tengah gelombang globalisasi yang menyeragamkan gaya hidup, modest fashion hadir sebagai penanda zaman. Ia bukan sekadar busana tertutup, tetapi simbol dari nilai-nilai spiritual, kesopanan, dan identitas yang beragam. Modest fashion telah berevolusi menjadi kekuatan ekonomi dan budaya yang signifikan.

Dalam lanskap global yang makin inklusif dan sadar identitas, busana yang menutupi justru menjadi bentuk ekspresi yang paling terbuka.

Indonesia, dengan lebih dari 240 juta penduduk Muslim, memiliki seluruh prasyarat untuk menjadi pusat modest fashion dunia.  Kita memiliki ekosistem pelaku usaha yang dinamis, warisan tekstil yang kaya, serta daya kreatif dari generasi muda yang progresif. Namun kenyataannya, posisi Indonesia dalam State of the Global Islamic Economy masih berada di peringkat ketiga setelah Malaysia dan Turki (SGIE, 2023).

Lebih mencemaskan lagi, kontribusi ekspor modest fashion terhadap total ekspor non-migas Indonesia justru terus menurun dari 5,04% pada 2014 menjadi hanya 3,28% pada 2023, meskipun nilainya tumbuh dari USD 7,36 miliar menjadi USD 9,5 miliar (Kementerian Perdagangan, 2024). Ini bukan karena kualitas kita menurun, melainkan karena kita belum membangun diferensiasi berbasis strategi yang tepat.

Localism: Akar yang Menghidupkan Ekosistem Modest Fashion

Di sinilah localism atau fashion localism menjadi jawaban. Konsep ini menekankan pentingnya memanfaatkan nilai-nilai lokal, bahan baku domestik, dan narasi budaya sebagai fondasi dari desain, produksi, dan promosi.

Penelitian yang saya lakukan menunjukkan bahwa ketika pelaku modest fashion mengintegrasikan localism ke dalam model bisnis mereka dengan menjalin kolaborasi dengan pengrajin lokal, mengangkat motif dan teknik tradisional, serta membangun cerita otentik, maka mereka tidak hanya bertahan, tapi juga tumbuh. Studi serupa oleh Perera dan Ranaweera (2022) di Sri Lanka menunjukkan hasil yang konsisten: localism meningkatkan loyalitas konsumen, efisiensi rantai pasok, dan kinerja bisnis secara menyeluruh.

Sayangnya, ekosistem industri modest fashion Indonesia masih didominasi oleh usaha mikro. Data Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) 2024 mencatat bahwa dari seluruh peserta, lebih dari 90% berasal dari kategori UMKM mikro, dengan hanya satu UMKM menengah (Kementerian Perdagangan, 2024).

Ini menunjukkan bahwa skala usaha kita belum siap menembus pasar global secara sistemik. Padahal, banyak dari mereka sudah memiliki produk yang layak ekspor. Keterbatasan ini bukan pada kreativitas, tetapi pada kurangnya ekosistem produksi dan pemasaran berbasis lokal yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Solusi Strategis: Bangun Ekosistem dari Akar Lokal

Untuk itu, kita membutuhkan strategi industri yang terstruktur. Pertama, negara harus hadir dengan insentif fiskal yang mendukung pelaku modest fashion berbasis localism, baik berupa pembebasan pajak, subsidi bahan baku lokal, maupun program kemitraan dengan pengrajin dan desainer daerah.

Kedua, dibutuhkan pengembangan kawasan kreatif modest fashion terpadu di daerah-daerah berbasis budaya seperti Pekalongan, Solo, atau Lombok. Ketiga, kita harus membangun kampanye publik skala nasional yang mendorong konsumen bangga memakai busana lokal seperti #BanggaBerbusanaLokal.

Lebih dari itu, modest fashion Indonesia bisa menjadi alat diplomasi budaya yang efektif. Jika Korea Selatan menggunakan K-pop dan K-fashion untuk memikat dunia, Indonesia dapat menggunakan modest fashion sebagai representasi nilai kesopanan, toleransi, dan keberagaman. Setiap pakaian bukan hanya busana, tetapi pesan. Dan pesan yang berasal dari budaya sendiri, ketika dibawakan dengan kepercayaan diri dan strategi yang tepat, dapat menggema hingga pasar global.

Dari Akar Nusantara Menuju Panggung Global

Indonesia tidak perlu meniru Paris, Dubai, atau Istanbul. Kita punya jalur sendiri. Kita punya batik, tenun, dan songket. Kita punya desainer yang tak sekadar membuat pakaian, tapi menceritakan identitas. Jika kita mampu mengintegrasikan localism ke dalam model bisnis yang berorientasi pada keberlanjutan dan ekspansi global, maka Indonesia bukan lagi sekadar pasar Muslim terbesar di dunia, melainkan pencipta arah dan pusat gravitasi baru dalam industri modest fashion global.

Kini saatnya kita berhenti menjadi pengekor tren global. Dengan strategi localism, modest fashion Indonesia bisa menjadi pemimpin. Dari akar budaya yang dalam, kita membangun jenama yang kuat, dan dari komunitas lokal yang hidup, kita melangkah ke panggung global dengan jati diri yang utuh.