Konten dari Pengguna

Anies Baswedan Memadamkan Api Islam?

Munawir Aziz

Munawir Aziz

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Munawir Aziz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anies Baswedan Memadamkan Api Islam?
zoom-in-whitePerbesar

Anis Baswedan mempertaruhnya integritas dan idealismenya dengan merapat ke Front Pembela Islam (FPI). Meski ini langkah perjudian, tidak banyak opsi yang ditempuhnya dalam kontestasi politik di DKI Jakarta. Bagaimana melihat langkah Anies yang merapat ke kelompok Islam radikal, dan kekuasaan Cendana?

Pada 1 Januari 2017 lalu, Anies Baswedan sowan ke Petamburan. Tidak disangka, zig-zag politik ini merupakan perwujudan dari langkah-langkah politik Anies untuk meraih dukungan. Ia sedang berjudi dengan mendekati kelompok Islam yang memiliki kencenderungan radikal, untuk merangkul pengikut FPI, mengakses dukungan politik. Langkah politik ini, memiliki konsekuensi yang bertentangan dengan idealism-idealisme Anies.

Sejak awal, pada kemunculannya di publik sebagai akademisi dan tokoh perubahan, Anies Baswedan menyalakan api optimism dan menumbuhkan harapakan cendekiawan serta kelompok Islam moderat. Ia konsisten melabeli diri sebagai tokoh berintegritas, dengan berulangkali berpidato dan menulis tentang topik ini. Gagasannya tentang ‘Merajut Tenun Kebangsaan’ merupakan perwujudan dari idealismenya.

Namun apa selanjutnya? Anies Baswedan menghianati dirinya sendiri, ia merusak reputasinya hanya karena ingin mewujudkan ambisi sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Menghianati Cak Nur

Rupanya manuver politik menjadikan Anies Baswedan terjebak pada pilihan rumit, hingga menggadaikan idealismenya, cita-citanya untuk merajut tenun kebangsaan. Anies merobeknya dengan politik zig-zag untuk menyerap dukungan politik. Di hadapan Ustadz Riziq Syihab dan anggota FPI, Anies Baswedan mengungkap bahwa dirinya memadamkan api Islam (moderat?) ketika menjadi Rektor Paramadina. Tentu, pernyataan ini dalam rangka menarik simpati anggota FPI.

Anies Baswedan dilantik sebagai Rektor Universitas Paramadina pada 15 Mei 2007. Ia melakukan gerak cepat dengan mengganti struktur dan merombak tradisi di Paramadina. Namun, pernyataannya di Petamburan, markas FPI, menyakiti pendukung Cak Nur. Pidato Anies bermakna bahwa apa yang dibangun Cak Nur, sebagai pendiri Universitas Paramadina, merupakan sesuatu yang salah. Maka dari itu, harus dirombak, “api Islam” yang disulut Cak Nur harus dipadamkan. Padahal, Cak Nur merupakan teladan dalam pemikiran Islam Indonesia.

Almarhum Nurcholish Madjid merupakan pejuang dalam pergerakan Islam di negeri ini. Beliau konsisten dengan pemikiran-pemikiran progresif untuk mengajak umat muslim di Indonesia beragama secara kritis dan jernih.

Menurut Cak Nur, jika seorang muslim konsisten terhadap ajaran agamanya, haruslah terbuka terhadap ide-ide kemajuan (the idea of progress). Selain itu, seorang muslim haruslah bersedia belajar dari perkembangan ide-ide kemanusiaan dengan spektrum yang luas. Kemudian, memilih di antaranya, yang menurut ukuran-ukuran obyektif mengandung kebenaran universal. Cak Nur mendorong agar umat Islam terlibat dalam proses penemuan cara-cara terbaik bagi kehidupan kolektif manusia. Dari perspektif ini, Cak Nur bermaksud mendorong komunitas muslim progresif untuk menerima sepenuhnya pemikiran global yang sekarang mengelilingi kehidupan umat Islam. Misalnya, gagasan tentang demokrasi, hak asasi manusia, gender, dan perkembangan baru dalam bidang sosial, ekonomi dan politik.

Cak Nur mengajak para pemimpin muslim untuk bergerak bersama, dengan merespon secara kreatif perkembangan pemikiran yang ada di dunia saat ini. Dinamika zaman dan pergumulan pengetahuan menjadi konsentrasi Cak Nur, dengan maksud mendialogkan Islam dengan konteksnya. “Tetapi dimaksudkan untuk menduniawikan nilai-nilai yang sudah semestinya bersifat duniawi, serta melepaskan umat Islam dari kecenderungan untuk mengukhrawinya,” demikian ungkap Cak Nur (Gaus AF, 2010: 338).

Ahok meneruskan Cak Nur?

Anies Baswedan sudah lupa dengan apa yang membuatnya besar, dengan lembaga yang membuatnya bersinar. Langkah politiknya menghianati Cak Nur, pendiri Universitas Paramadina. Anies, sosok yang lahir pada 7 Mei 1969, tidak hanya menghianati Cak Nur, namun dengan bangga menjadi ‘pemadam’ dari apa yang selama ini diperjuangkan Cak Nur. Seakan, Anies gelap mata di hadapan anggota FPI yang selama ini menjadi penggerak kekerasan atas nama agama—sesuatu yang sangat ditentang oleh tokoh-tokoh muslim, dalam barisan Cak Nur dan Gus Dur.

Mirisnya, ketika Anies menghianati Cak Nur, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sosok yang selama ini dianggap menista agama—yang meneruskan perjuangan Cak Nur. Ahok bukan menista agama, namun ia menghidupkan nilai-nilai agama dalam kebijakannya. Di antaranya tentang keadilan, keberanian, perlindungan para warga miskin dan komitmen pendidikan.

Ahok berkunjung ke rumah kediaman Cak Nur, diterima oleh Omi Nurcholish Madjid pada 23 Maret 2017 lalu. “Saya pernah bertemu waktu saya kuliah di Prasetya Mulia. Saya kuliah di Prasetya Mulia, hampir tiap bulan sekali (Cak Nur) diundang jadi pembicara di Prasetya Mulia,” terang Ahok, mengisahkan pertemuannya dengan Cak Nur. “Makanya konsep Cak Nur, saya tahu sekali. Salah satunya ingin nilai-nilai agama Islam itu ada di kita, tanpa perlu membentuk partai,” ungkap Ahok, sebagaimana dilansir Detik (23/3/17). Istri Cak Nur, Ibu Omi Nurcholish Madjid sumringah dengan kedatangan Cak Nur. Ia bahkan menghadiahi Ahok buku ‘Enskiplopedi Nurcholish Madjid’.

Ahok mengambil saripati dari pemikiran Cak Nur, sementara Anies Baswedan menghianatinya. Anies memadamkan api Islam moderat yang dijaga Cak Nun selama hidupnya, sembari dengan bangga menyulut api Islam radikal dengan merangkul FPI.(*)