Konten dari Pengguna

Anies di antara FPI dan Cendana

Munawir Aziz

Munawir Aziz

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Munawir Aziz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

   Anies di antara FPI dan Cendana
zoom-in-whitePerbesar

Setelah memasuki gelanggang putaran ke-2 proses politik DKI Jakarta, pelajaran apa yang dapat kita nikmati dari kontestasi ini?

Gelombang kebencian atas isu ‘penistaan agama’ telah bergeser menjadi #BelaIslam, yang mengilhami demonstrasi besar-besaran di Jakarta. Walaupun sangat kental dengan nuansa komodifikasi agama dan kepentingan politik, demonstrasi itu berhasil menyulut sentimen agama, yang dibarengi dengan kebencian terhadap etnis tertentu.

Isu agama dan etnis menjadi amunisi dalam kontestasi politik.

Nah, yang paling mencengangkan adalah pergerakan pasangan calon Anies-Baswedan dan Sandiaga Uno yang merangsek di antara kekuatan Islam radikal dan jaringan Keluarga Cendana.

Di beberapa forum, Anies Baswedan—yang tumbuh dengan citra dan intelektual reformis—menyanjung mantan Presiden Soeharto. Anies mengungkap betapa anak-anak bangsa perlu belajar dari Soeharto, sebagai bagian dari sejarah panjang negeri ini.

Menurut Anies Baswedan, Soeharto merupakan sosok pemimpin yang perlu dijadikan teladan, sebagai tokoh yang konsisten membicarakan pembangunan.

“Banyak pelajaran yang bisa diambil dari Pak Harto. Kita sebagai generasi penerus harus ambil hikmahnya, bukan sekedar menengok ke belakang,” terang Anies, seperti dilansir CNNIndonesia, (12/03/2017).

Antara Kaki Tommy dan FPI

Rupanya, Anies Baswedan bermain di antara kaki Tommy Soeharto dan FPI. Ia sering mengungkap betapa kunjungan politiknya berusaha merangkul semua kalangan.

Namun, nyatanya pasokan kekuatan terbesar berada dari lingkar kekuasaan Keluarga Cendana dan barisan laskar FPI yang berada pada domain Islam garis keras. Isu-isu agama dan kebencian terhadap etnis Tionghoa, menjadi amunisi yang diteriakkan para pendukung FPI dan jaringannya.

Anies juga mendapat dukungan dari jaringan Keluarga Cendana, melalui Tommy Soeharto. Namun, pertanyannya: apakah Tommy tulus mendukung Anies, ataukah hanya sebagai bidak catur dalam politik untuk melakukan manuver menuju 2019?

Di beberapa forum, Tommy sudah santer dideklarasikan sebagai calon presiden pada periode pilpres mendatang.

Tommy Soeharto membangun (kembali) panggung di partai politik. Ia mendirikan Partai Berkarya, sebagai kendaraan politik untuk melanjutkan dinasti kekuasaan yang pernah berjaya semasa ayahnya menjadi presiden.

Partai Berkarya sah sebagai partai politik yang berbadan hukum, pada Senin, 17 Oktober 2017. Menkumham mengeluarkan SK, bernomor: M.HH-20.AH.11.01 Tahun 2016. SK ini juga mengesahkan pengurus Partai Berkarya pada periode 2016-2021.

Partai ini merupakan penggabungan Partai Nasional Republik dan Partai Beringin Karya. Tommy Soeharto bertindak sebagai Ketua Dewan Pembina partai ini, yang berusaha mengusung romantisme Soeharto sebagai bagian strategi kampanye politik.

Partai Berkarya dipimpin oleh Neneng A. Tutty (Ketua Umum) dan wakilnya Yockie Hutagalung, serta Sekjen Badaruddin Andi Picunang. Mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Tedjo Edhy Purdijatno duduk sebagai Ketua Dewan Pertimbangan.

Pasangan calon Anies-Baswedan didukung oleh Keluarga Cendana. Kedekatan pasangan calon ini dengan putra-putri Soeharto sudah kelihatan sejak awal tahun 2017 ini.

Pada Februari lalu, berlangsung pertemuan antara Anies-Sandi dengan Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto), yang kini menjadi anggota DPR-RI dari Partai Golkar. Hadir pula Prabowo Soebianto, Ketua Umum Partai Gerindra—partai yang mengusung Anies-Sandi pada Pilkada DKI Jakarta. Prabowo merupakan mantan suami Titiek Soeharto.

Anies juga meminta dukungan dari pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Ustadz Rizieq Syihab. Pada 1 Januari 2017 lalu, Anies melakukan lawatan politik menuju Petamburan, markas besar FPI.

Pada forum itu, Anies berbicara tentang visinya terhadap DKI Jakarta, dan ungkapan kedekatan terhadap FPI. Forum itu juga menjadi penanda resminya dukungan FPI—yang selama ini menjadi aktor kekerasan beragama—terhadap pasangan calon Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Laporan riset Wahid Foundation, mengungkapkan bahwa FPI menjadi aktor non-negara yang melakukan pelanggaran terbesar terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan sepanjang tahun 2016 lalu.

FPI dan aksi massa, berada pada indeks angka 24 tindakan sepanjang tahun. Data ini tentu menjadi catatan penting, betapa seringnya FPI menjadi aktor kekerasan, memaksakan kehendak dan bahkan, pada beberapa kasus, membubarkan paksa forum-forum ilmiah yang dibarengi dengan ungkapaan kebencian.

Nah, dari dua kaki kekuatan itu, kita bisa melihat misi politik dan pragmatism Anies-Sandi. Lalu, apakah Anies Baswedan-Sandiaga Uno dapat konsisten mengaktualisasikan visinya untuk Jakarta? Ataukah, ia hanya bermain dalam resiko politik yang akan membuatnya terjerat pada dilemma politik masa depan? (*)