Konten dari Pengguna

Setelah Anies Baswedan Merapat ke Cendana

Munawir Aziz

Munawir Aziz

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Munawir Aziz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setelah Anies Baswedan Merapat ke Cendana
zoom-in-whitePerbesar

Anies Baswedan sedang bergerilya untuk meningkatkan elektabilitas dan menjangkau komunitas yang lebih luas. Menjelang putaran ke-2 Pilkada DKI Jakarta, pasangan calon Anies-Uno merapat ke Keluarga Cendana.

Pada Sabtu (11/3/2017) lalu, sekitar habis maghrib, Anies mengenakan pakaian koko putih dan peci hitam, menuju Masjid At-Tin, kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Di masjid ini, telah menunggu ribuan warga yang mayoritas berpakaian putih-putih untuk memperingati acara Haul mantan presiden Soeharto dan Peringatan ke-51 Supersemar. Agenda ini, berbalut tema “Dzikir dan Shalawat untuk Negeri”.

Bersama dengan putra-putra Soeharto, Anies dengan khyusu’ mengikuti acara ini. Hadir dalam peringatan ini, Prabowo Soebianto, Ustadz Rizieq Syihab, Ustadz Arifin Ilham, dan putra-putri Soeharto: Siti Hardijanti Rukmana (Tutut), Siti Hediati Hariyadi (Titiek), Hutomo Mandala Putra (Tommy), dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek).

Di majlis ini, Anies mengungkapkan pentingnya belajar dari sejarah. Ia, secara normatif, mengungkit pentingnya menyulam masa silam. “Indonesia punya begitu banyak peristiwa bersejarah. Tugas kita adalah belajar dari sejarah untuk masa depan. Jadi, menengok ke belakang bukan sekedar mempelajari masa lalu, tapi mengambil hikmahnya untuk Indonesia ke depan,” ungkap Anies. Ia menambahkan tentang sosok mantan presiden Soeharto, “banyak pelajaran kepemimpinan yang bisa kita ambil dari figur Pak Harto,” terang Anies, sebagaimana dilansir Tempo (12/03/2017).

Apa yang terjadi pada diri Anies Baswedan? Realitas politik yang membutuhkan pendekatan menuju jaringan kekuasaan, ataukah konservatisme yang menyelimuti idealismenya? Publik tentu masih ingat, pada awal Januari 2017 lalu, Anies merapat ke markas besar Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, silaturahmi politik dengan kubu Imam Besar, Ustadz Rizieq Syihab.

Rupanya, Anies Baswedan berusaha mengeksploitasi ruang-ruang komunitas dan jaringan kuasa agar lebih optimal. Dukungan aliansi Partai Gerinda, PKS, Perindo, dan jaringan mesin partai sudah demikian massif, ia berusaha melegitimasi sebagai bagian dari wakil muslim Jakarta. Orkestrasi demonstrasi yang panjang, dari 411 (4 November 2016) dan 212 (2 Desember 2016), menjadi panggung politik untuk menggiring massa. Sekaligus mendelegitimasi figur Ahok dengan label ‘penista agama’, sesuatu yang absurd dan sampai sekarang masih menjadi perdebatan. Bahkan, aksi #BelaIslam bergeser perlahan menjadi kampanye #BelaSoeharto.

Apakah Anies Baswedan mengubah visi politiknya? Dari yang semula menjadi figur perubahan di era reformasi, menjadi pendukung bangkitnya barisan penguasa Orde Baru dan Keluarga Cendana?

Bukan. Anies sama sekali tidak mengubah pilihan politiknya. Ia hanya, secara pelan-pelan, menjelaskan karakter yang sebenarnya (*)