Konten dari Pengguna

Memaknai Ekolinguistik dari Ngobrol di Warung Kopi

Mungkap Mangapul Siahaan

Mungkap Mangapul Siahaan

Dosen Pendidikan Bahasa Inggris, dan saat ini sebagai mahasiswa program doktoral di Prodi Pendidikan Ilmu Bahasa Universitas Negeri Semarang.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mungkap Mangapul Siahaan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi warung kopi (warkop). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi warung kopi (warkop). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Saya mendengar dua orang bercakap di warung kopi pekan lalu. Yang pertama, berpakaian rapi berkata, “Kita harus menjaga kelestarian alam untuk generasi mendatang.” Yang kedua, sambil menyeruput kopi hitam, membalas singkat, “Ah, jaga bumi aja, gausah pakai istilah aneh-aneh.” Saya tersenyum.

Tanpa mereka sadari, sedang terjadi perdebatan ekolinguistik di depan saya. Ekolinguistik dalam bahasa warung kopi adalah pernyataan atau pertanyaan sederhana seperti: Apakah kata-kata yang kita pakai membuat kita makin dekat atau makin jauh dari alam? Kata lestari itu indah, tapi ia terasa berat, formal, seperti pidato pejabat dan politikus di acara peresmian.

Kata “sumber daya alam” juga elegan, tapi di baliknya ada logika manajerial dan sarat kepentingan tersembunyi: alam sebagai objek, sebagai stok yang bisa dihitung dan diperjualbelikan. Sementara kata “jaga bumi” itu berbeda. Ia menyentuh. Ia personal. Ia mengajak, bukan memerintah. Inilah titik buta kita selama ini. Kita sibuk mengajarkan isu lingkungan dengan bahasa yang justru membuat orang menguap.

Di pengalaman yang lain, saya juga pernah mengamati seorang guru IPA di sebuah SMA. Dengan semangat ia menjelaskan “pelestarian lingkungan” dan “pembangunan berkelanjutan”. Murid-muridnya diam, sopan, tapi matanya kosong.

Lalu waktu istirahat, saya dengar mereka berkata satu sama lain: “Bumi makin panas, kita harus melakukan sesuatu.” Mereka menggunakan kata yang berbeda. Bukan salah guru, bukan salah kurikulum, melainkan sebuah bukti: bahasa menentukan apakah sebuah pesan ke kepala atau hanya lewat telinga.

Pendidikan Ekolinguistik

Ilustrasi linguistik. Foto: Dok. ChatGPT

Ekolinguistik mengajarkan hal yang sangat sederhana: pilihan kata bukan sekadar gaya, representatif status, dan gelar akademik. Pilihan kata adalah politik, etika dan hidup kita yang memosisikan diri menghidupi bumi. Ketika kita konsisten mengatakan “jaga bumi” dan “jaga kelestarian”, sebenarnya kita sedang memilih untuk berbicara sebagai teman kepada alam, bukan sebagai atasan atau otoritas.

Bayangkan apabila ruang akademisi, buku, dan ruang publik bertransformasi dengan nalar ini. Bukan mengubah fakta ilmiah, melainkan lebih ilmiah karena jujur tentang hubungan kita dengan alam.

Saya juga tidak dalam posisi mengusulkan agar semua buku dan ruang bertransformasi memilih diksi dan narasi obrolan warung kopi. Saya hanya bertanya: Mengapa kita takut menggunakan bahasa yang hangat, jujur, yang menyentuh, yang mengajak, untuk menyampaikan hal-hal yang sangat esensial?

Di sinilah tautannya dengan pendidikan. Apakah pada kurikulum kita—setelah 80 tahun merdeka—memengaruhi bahasa dan cara pikir kita untuk benar-benar merdeka? Apakah kurikulum kita masih terperangkap dalam gaya komunikasi yang kaku, hierarkis, dan penuh kecurigaan? Lihat saja rentetan kasus yang viral dalam setahun terakhir.

Di Subang, seorang guru menampar delapan siswanya karena melompat pagar, lalu menantang orang tua yang melapor: "Laporin saja ke pak gubernur, saya tunggu." Di Sidoarjo, tamparan guru terekam 15 detik karena seorang siswa berbohong izin ke toilet. Di Palembang, seorang ibu harus membawa hasil tes urine anaknya ke sekolah untuk membuktikan bahwa anaknya tidak memakai narkoba setelah dituduh gurunya—dan anaknya trauma.

Ilustrasi merekam diam-diam. Foto: Shutterstock/Rawpixel.com

Di Banten, seorang mahasiswa merekam dosen perempuannya di toilet. Bukan sekali, melainkan enam kali. Data FSGI (Federasi Serikat Guru Indonesia) 2023 bahkan menunjukkan peningkatan kasus kekersaan verbal dan digital terhadap guru: dihina di grup chat, difitnah, dan dijadikan konten TikTok. Belum lama ini, jagat maya dihebohkan dengan kasus FH UI. Sebanyak 16 mahasiswa hukum membuat grup chat khusus untuk membicarakan tubuh 20 rekannya dan 7 dosennya dengan nada pelecehan.

Mungkin kita perlu berefleksi untuk sampai kepada tranformasi, sehingga kurikulum dan produknya bukan warisan cara berpikir kolonial. Sebuah studi mengingatkan transformasi pendidikan harus terintegrasi ke dalam kurikulum, manajerial, komunitas, dan membudaya secara membumi (Kandiko & Kingsbury, 2023).

Sejak 1970-an, para ahli telah menemukan ekolinguistik yang bermuara pada bahasa selalu terbenam dalam lingkungannya—ia dapat menghidupkan dan menciptakan dunia seperti apa (Steffensen, S. V., & Fill, A., 2014).

Ia adalah kesadaran lama yang lupa kita pakai: bahwa kata-kata membawa kekuatan, bahwa cara kita berbicara tentang alam adalah cara kita memperlakukan alam. Masyarakat Batak mengenal Marsiadapari—gotong royong yang membuat berat menjadi ringan. Di Jawa, semangat yang sama disebut Gugur Gunung: bergotong royong tanpa pamrih.

Dekolonialisasi Pendidikan di Indonesia

Dekolonialisasi dalam pendidikan—jika boleh saya sederhanakan—adalah upaya untuk mengambil kembali bahasa, identitas dan bumi kita. Diejawantahkan sebagai cara kita berbicara tentang alam, tentang hidup, dan tentang masa depan.

Ilustrasi anak muda peduli lingkungan melalui penanaman mangrove. Foto: Dok. Istimewa

Generasi muda, yang sering dituding apatis, sebenarnya sudah melakukan itu. Mereka bilang “jaga bumi”, bukan “lestari”. Mereka bilang “krisis iklim”, bukan “perubahan iklim”. Mereka tidak sedang membuat teori, tetapi sedang mencari bahasa dan hubungan yang jujur.

Warung kopi tempat dua orang itu bercakap kini sudah tutup. Namun, percakapannya masih bergema. Perjuangan untuk bahasa, identitas dan bumi yang jujur tentang hubungan hidup dengan alam ternyata bukan sekedar permainan kata. Ia berdarah-darah. Golfried Siregar ditemukan terkapar di jalan aspal dengan celana berlumur lumpur—simbol ironis dari tanah yang ia bela.

Ia bukan aktivis dengan jargon. Ia hanya orang yang memegang erat apa yang disebut orang Jawa sebagai "Hamemayu Hayuning Bawono": memelihara keselamatan dunia. Bukan dengan teori, melainkan dengan tanah di bawah kuku dan udara di dalam paru-paru.

Kesimpulan

Memperjuangkan hubungan yang jujur dengan alam memerlukan keberanian untuk berbicara dengan bahasa yang lebih manusiawi dan dekat dengan masyarakat. Menggunakan kata-kata sederhana yang menggugah dapat memperkuat kesadaran ekologi tanpa menghilangkan substansi ilmiah yang diperlukan. Pendidikan berbasis ekolinguistik dapat meruntuhkan hambatan komunikasi yang selama ini membuat generasi muda kurang peduli terhadap lingkungan.