Konten dari Pengguna

Sunset & Rosie: Ketika Sejarah, Kehilangan, dan Cinta Bertemu

Munjiaturrodiah

Munjiaturrodiah

Mahasiswi UIN Jakarta

·waktu baca 14 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Munjiaturrodiah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Munjiaturrodiah. Sampul buku: Sunset & Rosie — Tere Liye, Penerbit Mahaka Publishing.
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Munjiaturrodiah. Sampul buku: Sunset & Rosie — Tere Liye, Penerbit Mahaka Publishing.

Novel Sunset & Rosie karya Tere Liye bukan sekadar kisah cinta, tetapi juga cerita tentang kehilangan, tanggung jawab, dan keputusan yang dapat mengubah kehidupan seseorang. Melalui kisah Tegar, Rosie, dan Sekar, aku melihat bahwa persoalan cinta tidak selalu sesederhana menentukan siapa yang akhirnya bersama siapa. Bagaimana jika di tengah persoalan cinta tersebut, sebuah tragedi datang dan mengubah kehidupan banyak orang dalam sekejap?

Pertanyaan itu muncul ketika membaca novel Sunset & Rosie karya Tere Liye. Pada awalnya, novel ini mungkin tampak seperti kisah cinta segitiga antara Tegar, Rosie, dan Sekar. Akan tetapi, semakin jauh membaca ceritanya, semakin terasa bahwa persoalan yang diangkat jauh lebih luas daripada sekadar menentukan siapa yang akhirnya bersama siapa.

Melalui novel ini, pembaca diajak menyaksikan persahabatan, cinta yang tidak tersampaikan, kehilangan, trauma, tanggung jawab, dan keputusan-keputusan sulit yang harus diambil manusia ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan. Menariknya, kisah fiksi ini juga bersinggungan dengan peristiwa sejarah nyata, yaitu pengeboman di Bali pada 1 Oktober 2005.

Bagiku, perpaduan antara sejarah dan romansa inilah yang membuat Sunset & Rosie menarik untuk dibaca sekaligus direnungkan. Novel ini bukan sekadar mengajak pembaca bertanya tentang siapa yang dicintai Tegar, tetapi juga tentang bagaimana manusia menghadapi kehilangan dan apakah tanggung jawab saja cukup untuk membangun sebuah hubungan.

Ketika Sejarah Menjadi Titik Balik Sebuah Cerita

Salah satu aspek yang menarik dari Sunset & Rosie adalah penggunaan peristiwa sejarah sebagai titik balik dalam kehidupan para tokohnya. Pada 1 Oktober 2005, serangkaian ledakan bom terjadi di kawasan Jimbaran, Bali. Peristiwa yang dikenal sebagai Bom Bali II tersebut menimbulkan korban jiwa dan luka-luka. Tragedi inilah yang menjadi latar penting dalam perjalanan cerita Rosie dan keluarganya.

Dalam novel, kehidupan keluarga Rosie dan Nathan berubah ketika tragedi di Jimbaran merenggut nyawa Nathan. Keluarga yang sebelumnya menjalani kehidupan bersama harus menghadapi kehilangan yang tidak pernah mereka bayangkan. Rosie kehilangan suaminya, sementara keempat anak mereka harus menghadapi kenyataan bahwa sosok ayah yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka telah tiada.

Tragedi tersebut juga membawa Tegar kembali ke kehidupan Rosie. Perasaan yang selama ini berusaha ia pendam seolah kembali berhadapan dengan kenyataan yang jauh lebih rumit. Tegar tidak lagi hanya menjadi sahabat yang menyimpan cinta kepada Rosie, tetapi juga seseorang yang berusaha membantu Rosie dan anak-anaknya melewati masa-masa sulit.

Menurutku, di sinilah latar sejarah memiliki peran penting. Peristiwa Bom Bali II bukan hanya disebutkan untuk memberikan kesan nyata pada cerita, melainkan menjadi pemicu yang mengubah arah kehidupan para tokoh. Sebuah tragedi yang terjadi dalam kenyataan dihadirkan ke dalam cerita fiksi untuk memperlihatkan bagaimana kehilangan dapat memengaruhi hubungan, keluarga, dan pilihan hidup seseorang.

Meski demikian, Sunset & Rosie tidak tepat jika dipahami sebagai novel sejarah murni. Peristiwa sejarah menjadi latar yang menggerakkan cerita, sedangkan fokus utamanya tetap pada kehidupan personal para tokoh, terutama persoalan cinta, kehilangan, dan tanggung jawab.

Bagiku, pendekatan ini justru menarik. Sejarah tidak selalu harus disampaikan melalui uraian tanggal, tokoh penting, atau penjelasan panjang tentang suatu peristiwa. Sejarah juga dapat dihadirkan melalui pengalaman manusia yang terdampak olehnya. Pembaca diajak memahami bahwa di balik sebuah tragedi, ada kehidupan yang berubah, keluarga yang kehilangan, dan orang-orang yang harus belajar menjalani hari-hari setelahnya.

Kehilangan, Trauma, dan Arti Kehadiran

Kematian Nathan tidak hanya mengubah kehidupan Rosie, tetapi juga menghadirkan persoalan yang lebih kompleks bagi orang-orang di sekitarnya. Rosie harus menghadapi kehilangan suaminya, sementara anak-anaknya juga membutuhkan dukungan untuk memahami keadaan yang terjadi. Dalam situasi tersebut, Tegar memilih untuk hadir dan membantu keluarga Rosie.

Bagiku, bagian ini memperlihatkan bahwa kehilangan tidak selalu selesai ketika peristiwa buruk itu berlalu. Ada kesedihan yang membutuhkan waktu, ada luka yang tidak dapat disembuhkan hanya dengan nasihat, dan ada orang-orang yang memerlukan pendampingan untuk kembali menjalani kehidupan.

Kehadiran Tegar menjadi penting karena ia tidak sekadar menyaksikan kesedihan Rosie dari kejauhan. Ia mengambil peran dalam membantu Rosie dan anak-anaknya melewati masa sulit. Tindakan tersebut memperlihatkan sisi Tegar yang peduli, bertanggung jawab, dan bersedia mengorbankan kenyamanannya sendiri demi orang lain.

Namun, menurutku, bagian ini juga mengingatkan pembaca bahwa menjadi seseorang yang hadir untuk orang lain tidak selalu berarti kita memahami seluruh persoalan yang sedang dihadapi orang tersebut. Kehadiran memang dapat membantu seseorang melewati masa sulit, tetapi proses pemulihan tetap membutuhkan waktu dan tidak bisa dipaksakan.

Di sisi lain, tragedi yang dialami Rosie juga memperlihatkan bahwa kehidupan tidak selalu memberi manusia kesempatan untuk memilih apa yang ingin mereka hadapi. Rosie tidak memilih kehilangan Nathan. Anak-anaknya tidak memilih tumbuh dengan pengalaman traumatis tersebut. Mereka hanya harus berusaha menjalani kehidupan setelah sesuatu yang begitu besar terjadi.

Dari sini, aku merasa bahwa novel ini tidak hanya berbicara tentang cinta dalam pengertian romantis. Ada cinta dalam keluarga, persahabatan, dan kepedulian yang diwujudkan melalui tindakan nyata. Akan tetapi, ketika cinta dan tanggung jawab hadir bersamaan, keduanya tetap dapat menimbulkan persoalan apabila ada perasaan lain yang belum diselesaikan.

Tegar: Laki-Laki Baik yang Belum Tentu Menjadi Pasangan yang Tepat

Tegar merupakan tokoh yang menarik untuk dibahas karena ia tidak bisa begitu saja dinilai sebagai orang jahat. Ia memiliki kepedulian terhadap Rosie dan anak-anaknya. Ia juga berusaha menepati janji kepada Sekar. Dari sisi tanggung jawab, Tegar memperlihatkan bahwa dirinya bukan seseorang yang dengan mudah meninggalkan kewajiban.

Namun, justru di sinilah letak persoalan yang menurutku penting untuk dipertanyakan.

Tegar masih menyimpan perasaan yang begitu besar terhadap Rosie, sementara Sekar adalah perempuan yang memiliki hubungan dengannya dan menaruh harapan terhadap masa depan mereka. Dalam keadaan seperti ini, tanggung jawab Tegar kepada Sekar menjadi rumit karena ada perasaan yang belum selesai di dalam dirinya.

Bagiku, seseorang bisa menjadi laki-laki yang baik, tetapi bukan berarti ia otomatis menjadi pasangan yang tepat. Kebaikan, kepedulian, dan tanggung jawab memang merupakan hal penting dalam sebuah hubungan, tetapi banyak faktor lain yang harus dipikirkan.

Aku melihat bahwa persoalan Tegar bukan semata-mata karena ia masih mencintai Rosie. Perasaan manusia memang tidak selalu dapat diatur sesuai keinginan. Seseorang bisa berusaha melupakan masa lalu dan membangun hubungan baru, tetapi di sisi lain tetap menyadari dan menemukan bahwa ada perasaan yang belum selesai. Hal yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana ia mengambil keputusan ketika menyadari keadaan tersebut.

Jika Tegar berusaha memenuhi janjinya kepada Sekar, tetapi hatinya masih tertuju kepada Rosie, apakah keputusan itu benar-benar adil bagi Sekar?

Menurutku, di sinilah tanggung jawab dapat menjadi sesuatu yang menyakitkan ketika tidak disertai kejelasan. Janji seharusnya bukan sekadar sesuatu yang dipenuhi agar seseorang tidak merasa bersalah. Janji juga berkaitan dengan kesediaan untuk menjalani dan menjalin hubungan secara utuh, bukan hanya bertahan karena merasa harus bertanggung jawab.

Ketika Dua Orang Saling Mencintai, tetapi Terlambat Mengambil Langkah

Menurutku, persoalan cinta dalam Sunset & Rosie menjadi semakin rumit karena perasaan itu tidak hanya datang dari satu pihak. Aku melihat bahwa Rosie pun memiliki perasaan terhadap Tegar. Namun, perasaan yang mungkin sama-sama ada itu tidak serta-merta membawa mereka pada hubungan yang diharapkan. Tegar terlalu lama menyimpan perasaannya, terlalu lama menunggu, dan tidak kunjung mengambil langkah yang jelas. Sementara waktu terus berjalan, kehidupan Rosie juga bergerak ke arah yang berbeda hingga ia akhirnya menerima Nathan sebagai pasangan hidupnya.

Bagiku, ada sesuatu yang menyedihkan dari keadaan tersebut. Terkadang, seseorang bukan tidak memiliki kesempatan untuk bersama orang yang dicintainya, melainkan terlalu lama membiarkan kesempatan itu berlalu tanpa kepastian. Ketika akhirnya menyadari apa yang sebenarnya diinginkan, keadaan sudah berubah dan orang yang dicintainya telah membangun kehidupan bersama orang lain.

Aku tidak menganggap Rosie salah karena menerima Nathan. Rosie berhak menjalani hidupnya dan memilih seseorang yang hadir dalam kehidupannya. Namun, dari sudut pandangku, keputusan Tegar yang terlalu lama tidak bergerak juga memiliki konsekuensi. Ia tidak bisa mengharapkan keadaan tetap sama setelah sekian lama membiarkan perasaannya sendiri tidak menemukan kejelasan.

Yang membuat persoalan ini semakin menarik adalah ketika Tegar kemudian berusaha menjalani hubungan dengan Sekar. Aku melihat kemungkinan bahwa Sekar menjadi seseorang yang ia terima dalam kehidupannya, tetapi bukan perempuan yang sejak awal ia inginkan. Ini bukan berarti Tegar sama sekali tidak memiliki kepedulian terhadap Sekar. Ia bisa saja menyayangi Sekar dan sungguh-sungguh ingin bertanggung jawab kepadanya. Namun, bagiku, ada perbedaan antara memilih seseorang karena benar-benar ingin membangun kehidupan bersamanya dan memilih seseorang karena merasa sudah waktunya melanjutkan hidup.

Di sinilah aku merasa Sekar berada dalam posisi yang tidak adil. Ia datang dengan perasaan dan harapannya sendiri, tetapi harus berhadapan dengan cinta lama Tegar yang tak kunjung menemukan penyelesaian. Padahal, Sekar tidak seharusnya menjadi tempat seseorang berlabuh hanya karena ia gagal mengambil kesempatan bersama orang yang lebih dahulu dicintainya.

Tentu saja, manusia tidak selalu bisa menentukan siapa yang akan dicintainya. Perasaan juga dapat tumbuh setelah dua orang menjalani hubungan. Namun, menurutku, hubungan yang sehat membutuhkan kejujuran sejak awal. Jika Tegar masih menyimpan perasaan yang begitu kuat terhadap Rosie, ia perlu memahami perasaannya sendiri sebelum menjanjikan masa depan kepada Sekar.

Pada akhirnya, aku melihat kisah ini sebagai pengingat bahwa terlambat mengambil keputusan bukan hanya dapat mengubah kehidupan kita sendiri, tetapi juga dapat memengaruhi kehidupan orang lain. Tegar mungkin harus menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa mengulang waktu bersama Rosie. Namun, Sekar juga tidak seharusnya menanggung akibat dari perasaan yang tidak pernah benar-benar dibereskan Tegar.

Sekar dan Perempuan yang Hanya Menerima Sisa Perasaan

Dari semua persoalan dalam novel ini, posisi Sekar adalah salah satu hal yang paling membuatku berpikir. Sekar bukan perempuan yang tidak memiliki perasaan. Ia memiliki harapan, mencintai Tegar, dan ingin menjalani hubungan yang memiliki masa depan. Namun, perasaannya harus berhadapan dengan kenyataan bahwa Tegar belum sepenuhnya selesai dengan masa lalunya bersama Rosie.

Sekar mungkin dapat dipandang sebagai perempuan yang terlalu baik karena masih berusaha memahami keadaan Tegar. Namun, aku tidak menyalahkannya karena memilih mengalah. Bagiku, keputusan untuk melepaskan seseorang yang belum benar-benar memilih kita juga dapat menjadi bentuk keberanian.

Aku justru merasa bahwa menikah dengan seseorang yang sejak awal belum sepenuhnya yakin terhadap perasaannya sendiri berpotensi menimbulkan luka yang lebih panjang. Pernikahan bukan hanya tentang memenuhi janji atau mempertahankan hubungan yang sudah dibangun. Pernikahan juga tentang kesiapan untuk memilih pasangan dengan kesadaran penuh.

Memang, cinta dapat tumbuh seiring waktu. Tidak semua hubungan harus dimulai dengan perasaan yang begitu besar. Ada cinta yang berkembang melalui kebersamaan, kepercayaan, dan proses saling mengenal. Namun, menurutku, ada perbedaan antara cinta yang sedang bertumbuh dan hubungan yang dijalani hanya karena seseorang merasa wajib bertahan.

Jika Tegar benar-benar belum mampu memberikan cinta yang dibutuhkan Sekar, apakah Sekar harus terus menunggu sampai perasaan itu muncul? Apakah kesabaran seorang perempuan harus selalu dibuktikan dengan kesediaannya menerima keadaan yang menyakitkan?

Bagiku, jawabannya tidak.

Tanggung Jawab dan Cinta: Dua Hal yang Tidak Selalu Berjalan Bersamaan

Salah satu hal yang paling aku renungkan setelah membaca Sunset & Rosie adalah perbedaan antara tanggung jawab dan cinta. Keduanya memang dapat berjalan berdampingan, tetapi bukan berarti keduanya selalu memiliki makna yang sama.

Menurutku, perempuan membutuhkan pasangan yang bertanggung jawab. Namun, perempuan juga membutuhkan seseorang yang benar-benar mencintainya. Tanggung jawab memberikan rasa aman, sedangkan cinta memberikan makna emosional dalam sebuah hubungan. Keduanya tidak seharusnya dipertentangkan, tetapi juga tidak dapat saling menggantikan begitu saja.

Seseorang mungkin bersedia memenuhi kewajibannya, menepati janji, dan melakukan hal-hal yang dianggap benar. Akan tetapi, apabila ia tidak jujur mengenai perasaannya, tindakan tersebut tetap berpotensi menyakiti pasangannya.

Aku tidak ingin mengatakan bahwa setiap hubungan harus selalu dipenuhi perasaan romantis yang menggebu. Bagiku, cinta yang dewasa justru sering terlihat dalam tindakan sederhana, misalnya kesediaan untuk mendengarkan, menghormati keputusan pasangan, hadir ketika dibutuhkan, dan bertanggung jawab terhadap pilihan yang telah dibuat.

Namun, cinta yang dewasa juga menuntut kejujuran. Terkadang, bentuk tanggung jawab yang paling sulit bukanlah memaksakan diri untuk bertahan, melainkan berani mengakui bahwa kita belum mampu memberikan apa yang dibutuhkan.

Dalam konteks Tegar dan Sekar, persoalannya bukan sekadar apakah Tegar sanggup menepati janjinya. Persoalan yang lebih besar adalah apakah ia dapat menjalani hubungan tersebut tanpa membuat Sekar terus-menerus berhadapan dengan perasaan Tegar terhadap perempuan lain.

Menurutku, tidak ada seorang pun yang harus menghabiskan hidupnya untuk membuktikan bahwa dirinya layak dicintai oleh seseorang yang tidak memilihnya.

Apakah Mengalah Selalu Berarti Kalah?

Kisah Sekar juga membuatku berpikir tentang arti mengalah dalam sebuah hubungan. Kita sering melihat seseorang yang memilih pergi sebagai pihak yang kalah, seolah-olah keberhasilan cinta hanya dapat diukur dari siapa yang akhirnya memiliki orang yang dicintainya.

Padahal, menurutku, melepaskan seseorang tidak selalu berarti kalah. Ada keadaan ketika bertahan justru membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri. Ada pula keadaan ketika pergi merupakan cara untuk menghentikan luka yang berpotensi menjadi semakin panjang.

Sekar tidak harus dibenci hanya karena ia tidak menjadi pilihan akhir bersama Tegar. Ia juga tidak harus dipuji semata-mata karena bersedia mengalah. Yang lebih penting adalah memahami bahwa ia memiliki hak untuk menentukan kehidupan dan kebahagiaannya sendiri.

Aku tidak tahu apakah keputusan Sekar terasa sulit atau mudah baginya. Namun, jika seseorang menyadari bahwa hubungan yang dijalaninya tidak memberikan kepastian emosional yang dibutuhkan, memilih berhenti bukanlah tindakan yang memalukan.

Bagiku, cinta bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling pantas mendapatkan seseorang. Cinta seharusnya menjadi ruang tempat dua orang saling memilih, saling menghargai, dan bersedia membangun kehidupan bersama.

Karena itu, aku tidak menyalahkan Sekar jika pada akhirnya ia memilih untuk tidak bertahan dalam keadaan yang menyakitkan. Ia layak mendapatkan seseorang yang tidak hanya bersedia bertanggung jawab kepadanya, tetapi juga mencintainya dengan sungguh-sungguh.

Ketika Novel Cinta Mengajak Kita Memahami Sejarah dan Kemanusiaan

Setelah melihat hubungan antartokohnya, aku merasa bahwa Sunset & Rosie menarik karena mampu mempertemukan dua persoalan yang berbeda, tetapi saling berhubungan: tragedi sejarah dan persoalan pribadi manusia.

Bom Bali II merupakan peristiwa nyata yang membawa dampak besar bagi para korban dan keluarga yang ditinggalkan. Dalam novel ini, tragedi tersebut menjadi awal dari perubahan besar dalam kehidupan Rosie, anak-anaknya, dan Tegar. Peristiwa itu mengingatkan pembaca bahwa sejarah bukan hanya kumpulan tanggal dan kejadian, melainkan juga pengalaman manusia yang kehilangan, berduka, dan berusaha melanjutkan hidup.

Sementara itu, kisah cinta para tokohnya memperlihatkan bahwa tidak semua persoalan manusia berasal dari keadaan yang berada di luar kendali mereka. Ada pula persoalan yang muncul dari keputusan, keraguan, dan ketidakjujuran terhadap perasaan sendiri.

Di satu sisi, Rosie dan keluarganya harus menghadapi kehilangan yang tidak mereka pilih. Di sisi lain, Tegar dan Sekar harus menghadapi persoalan hubungan yang berkaitan dengan pilihan dan tanggung jawab mereka sendiri. Perbedaan ini membuatku melihat bahwa manusia tidak selalu dapat mengendalikan apa yang terjadi dalam hidupnya, tetapi tetap memiliki tanggung jawab terhadap cara mereka memperlakukan sekitarnya.

Menurutku, di situlah kekuatan cerita ini. Pembaca tidak hanya diajak bersedih karena kehilangan Nathan atau mengikuti perjalanan perasaan Tegar terhadap Rosie. Pembaca juga diberi ruang untuk mempertanyakan makna pengorbanan, kehadiran, dan cinta yang tidak selalu sederhana.

Novel ini mungkin tidak memberikan jawaban yang sama bagi setiap pembaca. Ada yang akan melihat Tegar sebagai sosok yang penuh pengorbanan, ada yang akan mempertanyakan keputusannya, dan ada pula yang lebih bersimpati kepada Sekar. Bagiku, perbedaan penafsiran tersebut justru membuat novel ini menarik untuk dibicarakan.

Penutup: Tidak Semua yang Bertanggung Jawab Benar-Benar Mencintai

Pada akhirnya, Sunset & Rosie bukan hanya cerita tentang seorang laki-laki yang mencintai sahabatnya sejak lama. Novel ini juga berbicara tentang kehilangan, proses pemulihan, hubungan antarmanusia, dan keputusan yang harus diambil ketika perasaan tidak berjalan sesuai harapan.

Melalui latar tragedi Bom Bali II, Tere Liye memperlihatkan bagaimana sebuah peristiwa sejarah dapat mengubah kehidupan seseorang. Sementara melalui hubungan Tegar, Rosie, dan Sekar, pembaca diajak merenungkan bahwa cinta tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan mengikuti perasaan ataupun memenuhi sebuah janji.

Bagiku, Tegar tetaplah tokoh yang memiliki sisi baik. Ia peduli, bertanggung jawab, dan bersedia hadir untuk orang-orang yang membutuhkannya. Namun, menjadi orang baik tidak otomatis menjadikannya pasangan yang tepat bagi Sekar.

Aku juga tidak menganggap Sekar sebagai perempuan yang kalah. Justru, aku melihat bahwa seseorang yang berani melepaskan hubungan yang berpotensi menyakitinya sedang berusaha memberikan kesempatan kepada dirinya sendiri untuk menemukan kebahagiaan yang lebih utuh.

Dari novel ini, aku sampai pada satu pemikiran sederhana: kita memang tidak selalu bisa memilih peristiwa yang datang dalam hidup, tetapi kita tetap perlu bertanggung jawab terhadap keputusan yang kita ambil setelahnya.

Kita tidak hanya membutuhkan seseorang yang bersedia tinggal. Kita juga membutuhkan seseorang yang memang ingin tinggal.

Dan menurutku, perbedaan antara keduanya adalah salah satu hal terpenting yang dapat kita renungkan setelah membaca Sunset & Rosie.