Membaca untuk Jiwa dan Akal: Riyadh Membaca Menginspirasi Generasi Baru

Murdiono adalah dosen dan peneliti di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang memiliki keahlian dalam bidang Pendidikan Bahasa Arab
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Murdiono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pameran Buku Internasional Riyadh 2025, yang berlangsung dari 2 hingga 11 Oktober di Universitas Princess Nourah bint Abdulrahman, bukan sekadar ajang literasi biasa. Dengan tema “Riyadh Membaca”, pameran ini menghidupkan kembali semangat perintah pertama Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW: “Iqra” (Bacalah!). Perintah ini, sebagaimana tercatat dalam Al-Qur’an:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS. Al-‘Alaq: 1)
Menjadi pijakan bahwa membaca adalah aktivitas spiritual dan intelektual yang harus dihidupkan dalam setiap generasi.
Membaca sebagai Aktivitas Spiritual dan Intelektual
Dalam dunia modern yang serba cepat, membaca sering kali dianggap sekadar kegiatan akademik atau hiburan. Namun, pameran ini menegaskan bahwa membaca adalah jembatan antara akal dan jiwa, antara dunia lahir dan batin. Melalui membaca, manusia memahami ciptaan Allah, merenungi hikmah-Nya, sekaligus memperluas wawasan dan kapasitas berpikir kritis.
Teori modern tentang literasi, seperti pendekatan multimodal literacy dan critical literacy, menekankan bahwa membaca bukan sekadar menyerap informasi, tetapi juga menganalisis, mengevaluasi, dan memaknai teks secara mendalam. Pameran ini memadukan literasi modern dengan nilai spiritual, menegaskan bahwa membaca adalah ibadah dan pembelajaran sekaligus.
Pameran Buku sebagai Inspirasi Generasi Baru
Lebih dari 2.000 penerbit dari 25 negara berpartisipasi, menjadikan pameran ini pusat pertukaran pengetahuan global. Kehadiran Uzbekistan sebagai Tamu Kehormatan menekankan pentingnya pertukaran budaya dan literasi antarbangsa. Selain buku fisik dan digital, pameran ini juga menghadirkan zona anak-anak, diskusi panel, dan sesi tanda tangan penulis, membangun budaya membaca dari usia dini.
Para penyair dan penulis dunia, seperti Rumi, menekankan pentingnya membaca untuk jiwa:
“Bacalah, dan izinkan kata-kata membimbingmu melampaui dunia ini.”
Sementara Iqbal menegaskan bahwa intelektualitas dan spiritualitas tidak bisa dipisahkan:
“Bangkitkan jiwa dengan ilmu, bangun akal dengan refleksi.”
Peran Penulis Perempuan dan Literasi Inklusif
Sorotan penting pameran ini adalah kontribusi penulis perempuan Saudi, seperti Maha Al-Rasheed dan Najah Salama, yang menunjukkan bahwa literasi adalah hak semua individu, tak terkecuali perempuan. Karya-karya mereka menginspirasi generasi muda untuk mengekspresikan gagasan, menciptakan narasi baru, dan menghidupkan budaya membaca di masyarakat.
Dalil-dalil Agama yang Menguatkan Semangat Membaca
Selain perintah Iqra, Al-Qur’an juga menegaskan:
“Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Ini menunjukkan hubungan langsung antara ilmu, membaca, dan kemuliaan spiritual. Hadis Nabi SAW juga menyatakan:
“Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat” (HR. Al-Baihaqi)
Maka, membaca adalah perjalanan yang tidak mengenal batas waktu dan usia, yang menghubungkan generasi baru dengan nilai-nilai kekal.
Refleksi
Pameran Buku Internasional Riyadh 2025 adalah manifestasi nyata bahwa membaca memperkaya jiwa dan akal. Dengan menghidupkan semangat Iqra, Riyadh menginspirasi generasi baru untuk melihat membaca bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi sebagai ibadah, refleksi spiritual, dan sarana membangun masyarakat berpengetahuan luas.
Dalam dunia yang terus berubah, membaca menjadi alat pembentuk karakter, penguat iman, dan jendela pemahaman lintas budaya. Riyadh Membaca menunjukkan bahwa setiap buku, setiap kata, adalah cahaya yang menuntun jiwa dan akal menuju ketinggian ilmu dan kematangan spiritual.
