Krisis Santri "Nanggung": Ketika Kalimat "Bisa Ngajar" Tak Lagi Cukup Jadi Modal

Mahasiswa Hukum Pidana Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Mus'ad Firdaus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena santri "nanggung" yang kebingungan arah ini adalah bom waktu. Lantas, jika modal "setengah-setengah" ini yang dibawa keluar dari gerbang pesantren, apa yang sebenarnya harus dilakukan oleh para alumni ini?
Mengapa Santri "Setengah-Setengah" Sering Gagal Amanah?
Sebelum mencari solusi, kita harus jujur melihat akal masalahnya:
1. Sindrom "Pelarian", Mengajar dipilih bukan karena passion atau kompetensi, melainkan karena bingung tidak tahu harus bekerja apa lagi.
2. Kelebihan Beban Mental, Berpikir bahwa mengajar ilmu agama di kelas formal sama mudahnya dengan mengaji santai, padahal butuh kedisiplinan dan administrasi (RPP, silabus, dll).
3. Gagap Budaya Kerja, Terbiasa dengan ritme pesantren yang kekeluargaan, sehingga kaget saat dihadapkan pada profesionalisme dunia kerja luar yang menuntut ketepatan waktu.
Empat Langkah Konkret untuk Alumni Pesantren "Nanggung"
Jika Anda adalah bagian dari alumni yang merasa modalnya tanggung, berhenti meratapi nasib atau memaksakan diri mengambil amanah yang belum mampu Anda pikul dengan baik. Lakukan rekonstruksi diri dengan langkah-langkah ini:
1. Turunkan Ego, Akui Batasan Diri
Jangan merasa karena menyandang status "alumni pesantren" maka Anda otomatis wajib dan mampu mengajar semua hal. Mengakui bahwa kemampuan Anda masih "setengah" adalah langkah awal yang bijak agar tidak memberi janji palsu (tidak amanah) pada lembaga yang mempekerjakan Anda.
2. Ambil Kursus Keahlian Praktis (Up-Skilling)
Dunia hari ini tidak hanya berputar di atas meja kelas. Jika kemampuan mengajar Anda pas-pasan, alihkan kemudi untuk mempelajari hard skill baru yang polanya bisa dipelajari cepat di luar pesantren.
Keahlian Digital: Belajar copywriting, desain grafis via Canva/Photoshop, atau manajemen media sosial. Banyak pesantren saat ini butuh admin untuk konten mereka.
Keahlian Teknis: Ambil kursus menjahit, barista, otomotif, atau instalasi listrik.
Bahasa Asing: Jika modal bahasa Arab atau Inggris di pesantren ada dasarnya, perdalam itu secara profesional, bukan sekadar teoritis nahwu-sharaf.
3. Terapkan Metode "Magang Hidup" (Apprenticeship)
Jangan langsung mengincar posisi guru tetap atau posisi tinggi lainnya.
Ikutlah dengan alumni senior yang sudah sukses berbisnis atau bekerja.
Jadilah asisten terlebih dahulu.
Belajarlah cara mereka mengelola waktu, berkomunikasi dengan klien, dan menyelesaikan tanggung jawab. Dunia kerja butuh ketahanan mental yang sering kali tidak tertulis di kitab kuning.
4. Jika Tetap Ingin Mengajar, Belajarlah Ilmu Pedagogi
Menguasai isi kitab atau buku itu hanya 30% dari syarat menjadi guru. 70% sisanya adalah bagaimana cara menyampaikannya agar murid paham (ilmu pedagogi) dan bagaimana mengelola emosi serta waktu. Masuklah ke komunitas guru, baca buku tentang metode mengajar modern, dan tempatkan diri Anda sebagai "pembelajar", bukan orang yang "paling tahu".
Kesimpulan
Menjadi lulusan pesantren yang "setengah-setengah" bukanlah akhir dari segalanya. Yang berbahaya adalah ketika kemampuan kita setengah-setengah, namun keras kepala menganggapnya sudah utuh, lalu merusak amanah orang lain. Pesantren telah membekali kita fondasi akhlak; sekarang tugas kita di luar gerbang adalah membangun dinding-dinding keahlian profesional di atas fondasi tersebut.
