Konten dari Pengguna

Sulit Mencari Teladan: Buku adalah Jawabannya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mus'ad Firdaus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar: Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Gambar: Dokumen Pribadi

Perbincangan negatif sudah menjadi makanan rakyat Indonesia, mulai dari pendidikan—umum atau keagamaan—sampai ranah hukum, semua menyajikan penzoliman, kekerasan, tidak kemanusiaan, dan tidak mungkin menjadi teladan.

Pemuda-pemudi kini ramai mencari junjungan atas "apa itu keadilan dan apa itu kebaikan?" Mereka awalnya sudah muak tentang berita sosial media atau stasiun TV, tapi rasa muak itu menemukan rumah ternyaman dengan membaca buku dan membuka dunia.

Krisis Figur di Layar Kaca

Ketika ruang publik gagal menyuguhkan figur yang bersih, lembar-lembar buku hadir sebagai kompas alternatif. Di sana, generasi muda tidak lagi dipaksa menelan drama politisi atau pemuka moral yang hobi bersilat lidah.

Lewat buku, mereka bisa "berdiskusi" langsung dengan Tan Malaka tentang arti perjuangan, menyelami gagasan keadilan ala Socrates, atau belajar keteguhan hati dari Pramoedya Ananta Toer, atau berpetualang dengan Tere Liye dengan hidup penuh arti. Buku menyediakan teladan yang tidak bisa korupsi, tidak bisa berselingkuh dari nilai kemanusiaan, dan tidak bisa memanipulasi demi rating semata.

Perlawanan Lewat Literasi

Fenomena beralihnya anak muda ke literasi ini bukanlah pelarian yang pasif. Ini adalah sebuah bentuk perlawanan intelektual. Saat realitas di sekitar menawarkan standar moral yang makin merosot, membaca menjadi cara mereka menjaga kewarasan.

Mereka sadar bahwa mencari contoh ideal di layar kaca atau media sosial hari ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami—melelahkan dan sering kali berujung kecewa. Daripada terjebak dalam pusaran hoaks dan nihilisme, mereka memilih menenggelamkan diri dalam samudra pemikiran yang lebih jernih. "Antara lembaran buku dan pena yang menunggu."

Menjemput Teladan dari Dunia Gagasan

Pada akhirnya, buku bukan sekadar tumpukan kertas bertinta. Ia adalah laboratorium karakter tempat anak muda meramu kembali definisi kebaikan yang telah dikaburkan oleh realitas sehari-hari.

Jika bangsa ini sedang mengalami kebangkrutan keteladan di dunia nyata, maka biarlah pemuda-pemudinya menjemput teladan itu dari dunia gagasan. Mereka tidak hanya membaca untuk tahu, tetapi untuk membawa nilai-nilai warasan itu pulang, lalu memakainya untuk membenahi Indonesia yang sedang carut-marut ini.

Meniru Keteladanan Para Pendiri Bangsa

Pilihan anak muda untuk berpaling ke buku sebenarnya bukanlah tren baru, melainkan sebuah warisan genetis dari para pendiri bangsa ini. Bung Hatta dulu pernah berkata, "Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas." Bagi Hatta, jeruji besi kehilangan kekuatannya ketika pikiran terkoneksi dengan kebijaksanaan dunia lewat halaman-halaman kertas.

Senada dengan itu, Bung Karno juga menceritakan bagaimana buku menyelamatkannya dari kekosongan figur teladan di dunia nyata: "Di dalam alam khayal, di dalam alam pemikiran itu, saya berjumpa dengan orang-orang besar."

Ketika anak muda hari ini merasa asing di negerinya sendiri karena dikepung oleh badut politik, mereka mengikuti jejak Sukarno dan Hatta. Mereka melarikan diri ke dalam buku untuk bertemu dengan "orang-orang besar" yang mengajarkan mereka cara mencintai kebenaran.

Setelah Bertamu pada Buku

Pada akhirnya, buku pun bertambah, tulisan bertumpuk, dan ide-ide berkembang. Nyatanya, jika seorang bisa tumbuh dengan buku, kenapa negara tidak mengambil contoh kecil dari situ?

Bukankah sejarah itu ditulis? dan untuk mengukir sejarah, kita harus merenungi sebuah negara dan kemudian kita harus mengetahui, bagaimana rakyat bisa sejahtera?