Konten dari Pengguna

Nilai Tinggi, Namun Takut Bersuara: Ada Apa dengan Sistem Pendidikan Kita?

Musisdalifah Yuliana

Musisdalifah Yuliana

Mahasiswi Sistem Informasi yang juga aktif sebagai penulis fiksi di platform digital. Minat pada teknologi dan politik membuat saya percaya bahwa setiap isu pantas diangkat, selama itu ditulis dengan suara yang jujur dan kritis.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Musisdalifah Yuliana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi oleh penulis via Canva
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi oleh penulis via Canva

Pernahkah Anda menemukan teman yang nilai akademisnya tinggi, tetapi gugup saat diminta berbicara di depan umum? Atau mungkin Anda sendiri pernah merasakannya? Fenomena ini bukan hal baru. Di balik angka-angka indah di rapor, ada banyak siswa dan mahasiswa yang belum terbiasa menyampaikan pendapat secara lisan.

Kemampuan berbicara, berdiskusi, dan menyampaikan ide seharusnya diseimbangkan dengan kemampuan akademik. Namun, sistem pendidikan kita masih terlalu fokus pada angka dan hafalan. Nilai yang tinggi masih menjadi simbol keberhasilan, padahal dunia kerja lebih membutuhkan keberanian untuk berbicara dan berpikir kritis.

Tidak jarang, lulusan yang secara akademik cemerlang justru merasa minder saat wawancara atau presentasi. Mereka belum terbiasa mengungkapkan gagasan secara jelas. Akibatnya, perusahaan harus bekerja ekstra untuk membentuk kembali keterampilan dasar komunikasi dan kolaborasi yang seharusnya sudah diasah sejak pendidikan formal.

Menurut World Economic Forum (2020), keterampilan seperti komunikasi dan kerja sama termasuk dalam 10 kemampuan paling dibutuhkan di masa depan. Sayangnya, masih banyak lulusan pendidikan di Indonesia yang belum siap secara mental dan komunikasi.

Perubahan tentu tidak bisa hanya mengandalkan pihak berwenang. Kita, sebagai generasi muda, juga bisa mulai dari hal-hal sederhana: aktif berdiskusi, berani bertanya, atau melatih kemampuan berbicara di komunitas. Dunia nyata tidak hanya menilai seberapa tinggi nilai kita, tetapi juga seberapa besar keberanian kita dalam menyampaikan siapa diri kita sebenarnya.

Sistem pendidikan perlu membangun ruang belajar yang tak hanya menuntut jawaban benar, tetapi juga mendukung siswa untuk berani bicara dan belajar dari kesalahan. Jika kita terus diam, bisa jadi kita juga bagian dari masalah itu sendiri.