Konten dari Pengguna

Tradisi Ketupat: Persiapan Lebaran yang Sarat Makna di Setiap Sudut Rumah

Muthia Ananda

Muthia Ananda

Mahasiswa Ilmu komunikasi Universitas Amikom purwokerto

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muthia Ananda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemrosesan pembuatan ketupat, mentradisi berketurunan yang menghangati bersuasana Ramadan, Banyumas, Minggu (30/3/2025) .Foto: Muthia Ananda/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pemrosesan pembuatan ketupat, mentradisi berketurunan yang menghangati bersuasana Ramadan, Banyumas, Minggu (30/3/2025) .Foto: Muthia Ananda/kumparan

Ketupat menjadi salah satu ikon kekhasan Lebaran yang tak pernah absen di meja makan masyarakat Indonesia. Lebih dari sekadar makanan, ketupat memiliki makna historis dan simbolis yang mendalam. Tradisi membuat ketupat biasanya dimulai beberapa hari sebelum Lebaran, di mana keluarga bersama-sama menganyam janur (daun kelapa muda) menjadi pembungkus ketupat. Proses ini menjadi momen kebersamaan yang mempererat hubungan keluarga.

Berproses mengisi ketupat,Momen terpenting dalam menyambut lebaran yang memenuhi terberkahi, Banyumas, Minggu (30/3/2025). Foto: Muthia Ananda/kumparan

Ketupat sendiri memiliki makna filosofis, seperti ngaku lepat (mengakui kesalahan) dalam tradisi Jawa, yang melambangkan permohonan maaf dan penyucian diri setelah menjalani ibadah puasa. Anyaman yang rumit mencerminkan berbagai kesalahan kemanusiaan, sementara warna keputih-putihan nasi di dalamnya melambangkan hati yang bersih setelah memohon ampunan. Ketupat biasanya disajikan dengan opor ayam, rendang, atau sambal goreng sebagai pelengkap.

Pembicara berkenan teruntuk mengenai perasaan narasumber:

Muthia: Bagaimana perasaan kakak saat membuat ketupat?

Vinda: Ada rasa senang, terharu, dan bangga karena kebiasaan melestarikan tradisi. Saya terharu karena bisa berkumpul dengan keluarga untuk membuat ketupat.

Di beberapa daerah, seperti Jawa dan Lombok, tradisi Lebaran Ketupat dirayakan seminggu setelah Idulfitri sebagai bentuk syukur bersama masyarakat. Ketupat juga sering digantung di pintu rumah sebagai simbol penolak bala. Tradisi ini menunjukkan bahwa ketupat bukan hanya makanan, tetapi juga warisan budaya yang mengandung makna spiritual dan sosial, memperkuat tali silaturahmi serta rasa syukur di Hari Kemenangan.

Proses memasak opor ayam, Banyumas, minggu (30/3/2025) . Foto. Muthia

Opor ayam sering kali hadir pada momen-momen istimewa, seperti Lebaran atau acara keluarga lainnya. Namun, kenikmatannya tidak terbatas pada hari-hari tertentu saja. Opor ayam rumahan yang sederhana pun dapat menjadi hidangan istimewa yang menghangatkan suasana. Bahkan, bagi sebagian keluarga, opor ayam telah menjadi hidangan wajib yang selalu hadir di meja makan saat Lebaran tiba.

Tidak perlu hidangan yang mewah, opor ayam rumahan yang sederhana pun mampu menghadirkan kebahagiaan di bulan Ramadan. Dengan bahan-bahan yang mudah diperoleh dan cara pembuatan yang praktis, opor ayam dapat menjadi hidangan andalan saat santap sahur maupun berbuka puasa.

Tidak lupa sekeluarga kami mengunjungi ke pemakaman almarhum simbah.

Momen ziarah makam sewaktu lebaran (30/3/2025)

Bagi sebagian orang, ziarah makam merupakan wujud penghormatan dan ungkapan kerinduan kepada keluarga atau kerabat yang telah berpulang. Momen ini menjadi kesempatan untuk memanjatkan doa, membersihkan pusara, serta menaburkan bunga sebagai lambang kasih sayang.

Akan tetapi, ziarah makam juga mengandung makna yang lebih mendalam. Ketika berada di tengah pusara, kita diingatkan akan kefanaan dunia dan hakikat bahwa setiap manusia akan kembali kepada Sang Pencipta. Kesadaran ini diharapkan dapat memotivasi kita untuk menjalani hidup dengan lebih baik, melakukan kebajikan, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah kematian.

Ziarah makam pada hari Lebaran memiliki makna yang mendalam. Selain sebagai perwujudan penghormatan dan kerinduan, momen ini pun menjadi pengingat akan kefanaan dunia. Di tengah sukacita perayaan Lebaran, kita diingatkan bahwa kehidupan ini bersifat sementara dan setiap manusia akan kembali kepada Sang Khalik.Suasana yang demikian memungkinkan para peziarah untuk merenungkan kehidupan, mengenang memori indah bersama orang-orang yang telah berpulang, serta memohon ampunan atas segala khilaf dan dosa.

Ziarah makam pada hari Lebaran bukan sekadar mengunjungi tempat peristirahatan terakhir orang-orang terkasih, melainkan juga upaya menjalin silaturahmi dengan alam yang berbeda. Kita mengirimkan doa dan harapan kepada mereka yang telah berada di alam barzakh, seraya mempererat tali persaudaraan dengan keluarga dan kerabat yang masih hidup.