Konten dari Pengguna

Toxic Productivity Gara-Gara Media Sosial?

Muthia Nuraini Sutrisno

Muthia Nuraini Sutrisno

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muthia Nuraini Sutrisno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pexels

Sering kali kita melihat di media sosial berbagai konten bertema “Productive morning routine” “punya rumah di umur 20 tahun” atau “berpenghasilan ratusan juta di usia muda”. Konten semacam ini tidak jarang membuat kita terdorong untuk melakukan hal yang sama. Kita mulai memikirkan berbagai kegiatan yang harus dilakukan agar bisa mencapai standar tersebut, dan secara tidak sadar, kita terjebak ke dalam fase toxic productivity.

Apa itu Toxic Productivity?

Toxic productivity adalah kondisi dimana seseorang mendorong dirinya untuk bekerja terus menerus tanpa memperhatikan kesehatan fisik maupun mental serta menganggap waktu istirahat sebagai sesuatu yang tidak produktif. Keinginan untuk selalu aktif ini sering kali tumbuh dari rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO), yang secara tidak sadar dipengaruhi oleh algoritma media sosial.

Ironisnya, tekanan sosial di dunia maya menjadi salah satu pemicu utama. Media sosial menampilkan kehidupan yang tampak sempurna dan penuh pencapaian, sehingga membuat kita merasa harus selalu mengejar “versi ideal diri”.

Dampak Serius: Burnout

Dorongan untuk terus produktif tanpa henti dapat menimbulkan masalah serius, salah satunya burnout. Burnout merupakan kondisi stres kronis yang berhubungan erat dengan pekerjaan, dan biasanya disebabkan oleh tekanan dan tuntutan kerja yang berlebihan atau berkelanjutan. Akibatnya, kecemasan meningkat, kualitas tidur menurun, produktivitas justru menurun, dan relasi sosial ikut terganggu. Bahkan, individu bisa kehilangan makna dari aktivitas yang dijalani karena hanya berfokus pada hasil.

Lebih jauh lagi, kita mulai memaknai nilai hidup semata-mata dari pencapaian. Kita merasa harus “selalu ada hasil” agar layak diakui. Istirahat dianggap malas, bermain dianggap buang waktu, dan setiap kegiatan harus memiliki hasil yang terukur.

Apakah solusinya berhenti produktif?

Tentu tidak. Produktivitas tetap penting, namun harus disertai kesadaran diri, batasan yang sehat, dan pemahaman bahwa kita adalah manusia, bukan robot. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengindari atau keluar dari toxic productivity:

• Belajar membedakan inspirasi dengan tekanan sosial.

Penting memiliki literasi emosional untuk menyadari kapan kita sedang bekerja karena semangat, dan kapan karena “rasa takut tertiggal”.

• Memberi jeda untuk istirahat.

Sadari bahwa istirahat bukan lawan dari produktivitas, melainkan bagian penting dari siklusnya.

• Melatih self-compassion

Bersikap menerima diri dengan segala keterbatasan, memberi ruang untuk istirahat, dan tetap menghargai diri meski tidak sedang “menghasilkan” apa pun.

• Menerapkan work-life balance

Seimbangkan waktu untuk bekerja, belajat, beristirahat, bersosialisasi, dan merawat diri. Produktivitas yang sehat bukan bekerja tanpa henti, tetapi tahu kapan harus berhenti dan menikmati hidup.

Dengan menjaga keseimbangan ini, kita bisa tetap tumbuh tanpa mengorbankan kesehatan mental dan hubungan sosial yang bermakna.

Penutup

Sudah saatnya kita mendefinisikan ulang makna produktivitas. Bukan hanya soal hasil, tetapi juga soal kualitas hidup. Bukan tentang seberapa banyak kita menciptakan, melainkan seberapa bermakna hal-hal yang kita jalani.

Biarkan media sosial menjadi tempat berbagi inspirasi, bukan ladang perbandingan. Biarkan kita menjalani hidup dengan ritme sendiri. Karena pada akhirnya, kita hidup bukan untuk menjadi manusia yang merasa kurang, melainkan manusia yang tumbuh, beristirahat, dan merasa cukup dengan damai.