Konten dari Pengguna

Anak Muda vs Tradisi: Bertahan atau Berubah di Era Digitalisasi Perubahan Zaman?

Ilustrasi digitalisasi (sumber: https://pixabay.com/id/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi digitalisasi (sumber: https://pixabay.com/id/)

Tradisi bukan cuma soal mengenang masa lalu, tapi juga cara kita mengenali siapa diri kita. Di tengah derasnya modernisasi dan pengaruh global, banyak tradisi mulai ditinggalkan karena dianggap nggak relevan, tapi nggak semuanya. Salah satu tradisi yang masih bertahan, bahkan makin hidup di tengah zaman digital ini adalah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Maulid itu bukan sekadar acara tahunan yang datang dan pergi. Di baliknya, ada momen penting untuk mempererat silaturahmi, memperdalam ajaran Nabi, dan yang paling utama memperkuat identitas kita sebagai umat Islam. Di era digital seperti sekarang, bentuk acaranya memang berubah-ubah. Tapi makna dan nilai-nilainya tetap bisa dijaga bahkan bisa disebarluaskan dengan lebih luas dan kreatif lewat berbagai platform digital.

Kalau ngomongin Maulid di Indonesia, bentuk perayaannya bisa sangat beragam tergantung daerah, ada yang membuat pengajian besar, pembacaan syair Barzanji atau Simtudduror, bagi-bagi makanan, sampai pawai budaya. Di Kalimantan Selatan misalnya, masyarakat Banjar punya tradisi Maulid Ad-Diba’i yang dibacakan selama dua belas hari. Mereka keliling dari rumah ke rumah, baca Maulid bareng, doa bersama, lalu makan bareng. Suasananya hangat dan akrab sebuah bentuk nyata dari cinta, kebersamaan, dan gotong royong.

Menurut Hasanah et al. (2020), peringatan Maulid di Desa Gadung, Bangka Belitung, tidak hanya menjadi agenda ibadah, tetapi juga menjadi wadah pembinaan karakter religius remaja. Kegiatan seperti lomba shalawat, puisi islami, dan menulis esai Maulid menjadi cara kreatif menanamkan nilai spiritual di tengah generasi muda. Artinya, Maulid punya potensi besar sebagai alat pendidikan karakter, bukan sekadar tradisi seremonial.

Sementara itu, menurut Nahdiyah dan Saifuddin (2021), tradisi Maulid bukan hanya bagian dari praktik keagamaan, tetapi juga menyatu erat dengan budaya masyarakat. Hal ini menjadikan Maulid bukan sekadar kegiatan ibadah, melainkan juga ekspresi budaya yang mengakar kuat di masyarakat. Di berbagai daerah, perayaan Maulid menjadi panggung kolaboratif antara nilai agama dan tradisi lokal.

Ilistrasi remaja dengan gadget (sumber: https://pixabay.com/id/)

Tantangan kita sekarang adalah bagaimana Maulid tetap bisa relevan di era digital. Anak muda lebih akrab dengan TikTok dan Instagram daripada duduk lama di pengajian. Tapi bukan berarti Maulid harus ditinggalkan justru ini saatnya memberikan “nyawa baru” pada tradisi. Menurut laporan Isnani (2022), banyak komunitas mulai melek digital. Mereka membuat siaran langsung Maulid, membagikan kutipan Maulid di media sosial, hingga membuat konten dakwah islami di YouTube dan TikTok.

Setiyaningsih dan Luluk (2022) juga mencatat bagaimana tradisi Lebaran Maulid di Karanganyar, Demak yang dikenal dengan sebutan Bodo Mulud berhasil bertahan dan beradaptasi. Warga tetap membaca al-Barzanji, berbagi makanan, dan menggelar makan bersama. Tapi yang menarik, dokumentasi acara ini kemudian dibagikan ke media sosial, menjadikannya bukan hanya acara lokal, tapi juga bagian dari gerakan digital berbasis tradisi.

Di sisi lain Siregar dan Tamimah (2022) menjelaskan bahwa di Sidoarjo, Jawa Timur, Maulid kembali hidup pasca pandemi justru karena kreativitas generasi muda. Mereka aktif membuat dekorasi, mengatur acara, bahkan mengisi materi dengan gaya lebih interaktif. Ini membuktikan bahwa selama ada kolaborasi lintas generasi, tradisi bisa tetap hidup dan bermakna.

Yang perlu kita jaga adalah esensi Maulid yaitu cinta kepada Nabi Muhammad SAW, penguatan iman, dan semangat kebersamaan. Semua ini bisa banget disampaikan lewat platform digital mulai dari podcast, reels, video pendek, hingga desain visual. Tapi tentu saja, jangan sampai semua ini hanya jadi konten viral tanpa isi. Harus tetap dibarengi dengan literasi agama yang dalam dan pemahaman yang tepat.

Pada akhirnya, Maulid adalah bagian dari jati diri umat Islam Indonesia. Dunia boleh berubah, teknologi makin maju, tapi nilai-nilai dalam Maulid tetap punya tempat. Justru kalau dibawa dengan cara yang pas dan kreatif, Maulid bisa makin dekat ke hati anak muda. Digitalisasi bukan musuh, tapi peluang untuk menyebar luas pesan cinta Rasul, menanamkan nilai kebaikan, dan memperkuat jalinan identitas umat di tengah dunia yang makin cair.

Muthiah Sholihah, mahasiswa Matematika UIN Walisongo Semarang.

Daftar Pustaka

Hasanah, U., Anriani, S., Budianti, S., Yolanda, W., & Isro’i, N. F. (2020). Kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai sarana penguatan karakter religius remaja di Desa Gadung Kecamatan Toboali. IJoCE: Indonesian Journal of Counseling and Education.

Isnani, S. (2022). Lebaran Maulid: Tinjauan bentuk dan nuansa pelaksanaan tradisi masyarakat Demak. UIN Walisongo.

Nahdiyah, & Saifuddin. (2021). Maulid Nabi, antara Islam dan tradisi. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist.

Setiyaningsih, S. I., & Luluk, A. H. (2022). Lebaran Maulid: Tinjauan bentuk dan nuansa pelaksanaan tradisi masyarakat Demak. UIN Walisongo.

Siregar, A. C. P., & Tamimah, N. (2022). Peningkatan semangat keimanan melalui perayaan Maulid Nabi Muhammad. KEAGAMAAN: Jurnal Pengabdian Masyarakat.