Konten dari Pengguna

Ruang Gerak Berlin Kian Sempit Usai AfD Menang di Saxony-Anhalt

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muthmainnah Mardhiah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagaimana Lonjakan Suara AfD di Magdeburg Menyempitkan Ruang Negosiasi Berlin dan Mengancam Komitmen Keamanan Komunal Uni Eropa-NATO

Para pendukung AfD merayakan dengan membawa papan yang menampilkan kandidat unggulan Ulrich Siegmund setelah hasil awal pemilihan negara bagian Saxony-Anhalt di acara malam pemilihan partai tersebut di Magdeburg, Jerman, Minggu, 6 September 2026. Foto: AI Generated
zoom-in-whitePerbesar
Para pendukung AfD merayakan dengan membawa papan yang menampilkan kandidat unggulan Ulrich Siegmund setelah hasil awal pemilihan negara bagian Saxony-Anhalt di acara malam pemilihan partai tersebut di Magdeburg, Jerman, Minggu, 6 September 2026. Foto: AI Generated

Pada 6 September 2026, lanskap politik Jerman terguncang ketika hasil pemilu negara bagian Saxony-Anhalt mengkonfirmasi kemenangan bersejarah bagi Alternative für Deutschland (AfD) dengan 43,8% suara, lebih dari dua kali lipat capaiannya pada 2021 dan hasil terbaik partai itu sepanjang sejarahnya. AfD, yang berdiri pada tahun 2013 sebagai gerakan anti-euro, kini diklasifikasikan Badan Perlindungan Konstitusi Jerman (BfV) sebagai organisasi ektstremis sayap kanan, klasifikasi yang diperkarakan partai itu di pengadilan dan dinilai bermotif politik oleh pimpinannya. Di sisi lain, Partai Christian Democratic Union (CDU), yang dipimpin oleh Kanselir Friedrich Merz, kehilangan semua kursi daerah pemilihan (constituencies) yang mereka miliki sebelumnya, dan turun ke 17,2%. Tidak hanya perubahan signifikan yang terjadi di Magdeburg, perubahan ini menunjukkan ancaman bagi sistem keamanan internasional Eropa yang selama ini bergantung pada Berlin.

Runtuhnya Benteng Cordon Sanitaire dan Krisis Legitimasi Berlin

Meskipun Saxony-Anhalt hanya mencakup sekitar 1,7 juta dari 83 juta jiwa total populasi Jerman, hasil pemilu ini memicu gelombang kejutan geopolitik. Sejak tahun 2023, cabang regional AfD di Saxony-Anhalt telah dikategorikan secara resmi sebagai kelompok ekstrimis sayap kanan yang terkonfirmasi (gesichert rechtsextremistisch), menurut Badan Intelijen Domestik Saxony-Anhalt (Verfassungsschutz). Benteng politik yang dibangun oleh partai-partai populer diruntuhkan oleh kemenangan mutlak partai dengan status hukum tersebut. Ini menunjukkan bahwa Kanselir Friedrich Merz sedang kehilangan legitimasi, karena jajak pendapat keluar (exit poll) menunjukkan bahwa hanya 9% orang di Saxony-Anhalt yang puas dengan kepemimpinannya. Kapasitas kepemimpinan Berlin untuk membuat kebijakan pertahanan kawasan untuk NATO dan Uni Eropa terancam oleh krisis stabilitas domestik Jerman.

Dilema Keamanan: Annatara Tuntutan Lokal dan Komitmen Geopolitik

Kemenangan telak AfD di Saxony-Anhalt memperdalam krisis politik pemerintah koalisi di Berlin dan mempertegas jurang pemisah antara aspirasi pemilih domestik dengan komitmen luar negeri pemerintah federal. Ketidakmampuan pemerintah federal untuk mempertahankan kebijakan luar negeri konvensional, khususnya sanksi terhadap Rusia dan bantuan militer untuk Ukraina di tengah meningkatnya penolakan publik di wilayah Jerman Timur adalah sumber ketegangan. Dengan menggunakan struktur Two Level Games yang dibuat oleh Robert Putnam (1988), peningkatan dukungan terhadap AfD secara signifikan menyempitkan kemungkinan kemenangan domestik Jerman di tingkat II, yang membatasi fleksibilitas diplomasi Kanselir Friedrich Merz di tingkat I, dan menimbulkan risiko pengunduran diri tidak disengaja (pembangkangan tidak disengaja) terhadap komitmen bantuan militer Ukraina dan sanksi ekonomi atas Rusia.

Menatap Dua Meja: Kerangka Two-Level Games dan Konsep Win-Set

Dalam studi Hubungan Internasional, Robert Putnam (1988) menjelaskan bahwa pembuatan kebijakan luar negeri merupakan permainan dua tingkat (two-level game). Pada Level I (international), para pemimpin negara bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan diplomatik dengan aktor antarnegara. Pada Level II (Domestik), kesepakatan tersebut harus meratifikasi atau mendapat persetujuan dari konstituensi internal, seperti parlemen, partai politik, dan publik. Win-set, yaitu jumlah total kemungkinan kesepakatan Level 1 yang dapat diterima dan diratifikasi oleh mayoritas nasional di Level II, adalah konsep utama dalam teori ini. Semakin kecil ukuran win-set domestik, semakin terbatas ruang gerak negosiator di tingkat internasional, yang meningkatkan risiko involuntary defection, yaitu kondisi dimana seorang pemimpin gagal memenuhi janji komitmen internasional bukan karena niat buruk (voluntary defection), melainkan karena ruang gerak yang lebih terbatas di tingkat domestik.

Konstelasi Elektoral Saxony-Anhalt dan Veto Oposisi Radikal

Berdasarkan hasil resmi Landes Wahlausschuss, AfD memenangi pemilu dengan perolehan 43,8% suara (39 dari 83 kursi di parlemen/Landtag), memenangi 38 dari 41 daerah pemilihan. AfD hanya kurang 3 kursi dari mayoritas mutlak (42 kursi) untuk dapat memerintah sendiri. CDU merosot tajam ke posisi kedua dengan 17,2% (15 kursi). Partai Social Democratic Party (SPD) meraih 9,3% (8 kursi), Greens 8,9% (8 kursi), Die Linke 8,6% (8 kursi), dan Bündnis Sahra Wagenknecht (BSW) masuk ke parlemen dengan 5,3% (5 kursi). Tingkat partisipasi pemilih melonjak signifikan hingga mencapai 77,8%.

Menurut program dan manifesto resminya, AfD mengusung pendekatan “nation-first” yang menuntut penghentian total bantuan finansial dan militer ke Ukraina, pencabutan sanksi Uni Eropa terhadap Moskow, serta perbaikan dan pembukaan kembali pipa gas Nord Stream. Meskipun ada perdebatan internal antara faksi Jerman Barat dan Timur, kedua faksi setuju penuh bahwa bantuan Ukraina tidak diperlukan. Bekerja sama dengan AfD dan BSW, mereka meloloskan resolusi tidak mengikat di parlemen Saxony-Anhalt yang menuntut penghentian bantuan militer ke Ukraina dan pencabutan sanksi atas Rusia, yang menunjukkan manifestasi elektoral ini. Kanselir Friedrich Merz menyatakan bahwa prinsip dasar pemerintahannya untuk mempertahankan kebebasan dan mendukung Ukraina menghadapi Rusia tidak akan berubah sedikit pun sebagai tanggapan atas hasil pemilu.

Penyempitan Win-Set Domestik dan Ancaman Involuntary Defection

Jika dilihat dari kacamata teori Putnam (1988), lonjakan elektoral AfD di Saxony-Anhalt secara langsung mempersempit win-set Kanselir Merz di Level II. Ketika Merz mencoba membuat komitmen internasional baru di Level I, seperti berjanji untuk memberikan bantuan pertahanan kepada Ukraina, ia menghadapi oposisi domestik yang semakin kuat di Level II. penolakan publik di wilayah timur, yang ditunjukkan oleh resolusi gabungan AfD-BSW di Magdeburg, menunjukkan bahwa setiap pembagian anggaran pertahanan atau bantuan luar negeri di Bundestag berisiko mengalami kebuntuan ratifikasi. Jika dinamika parlemen atau tekanan oposisi memaksa Merz untuk mengurangi atau menunda eksekusi komitmen pertahanan di tingkat Eropa, Jerman akan berada dalam kondisi defection yang tidak diinginkan. Pada akhirnya, melemahkan kredibilitas diplomasi Jerman di mata sekutu NATO dan EU.

Di Balik Suara AfD: Kecemasan Ekonomi dan Deprivasi Kolektif Jerman Timur

Kritik terhadap pandangan yang menyederhanakan kemenangan AfD semata-mata sebagai isu geopolitik dapat ditelaah dari perspektif sosiologis pemilih domestik. Menurut sejumlah studi dan jajak pendapat, alasan utama warga Jerman Timur mendukung AfD bukan hanya kecintaan pada diplomasi Rusia, namun alasan utamanya adalah ketakutan akan kehilangan status sosial (fear of falling) dan kemerosotan ekonomi (economic fear/status anxiety). Kecemasaan kelas menengah disebabkan oleh penutupan pabrik, kenaikan harga listrik, inflasi, dan kekhawatiran tentang masa depan industri otomotif. Selain itu, mayoritas pemilih di Jerman Timur merasa diperlukan sebagai warga negara kelas dua (second-class citizens) dibandingkan dengan warga negara Barat. AfD berhasil mengeksploitasi alienasi politik ini dan mempopulerkan narasi bahwa anggaran pertahanan seharusnya digunakan untuk pemulihan ekonomi domestik.

Untuk mencegah kelumpuhan keseluruhan kebijakan internasional di Level I pemerintah federal di bawah Kanselir Merz harus memiliki kemampuan untuk memperluas keuntungan domestik melalui strategi insentif dan komunikasi politik di Level II, termasuk restrukturisasi dan pembayaran sisi. Berlin harus menjawab kecemasan struktural masyarakat Jerman Timur lebih dari retorika pertahanan. Untuk meredakan perbedaan politik dan mengurangi basis kecemasan elektoral AfD, pemerintah federal harus menyeimbangkan komitmen keamanan internasional dengan paket stabilisasi ekonomi domestik.

Kesimpulannya, pemilu Saxony-Anhalt pada 6 September 2026 menunjukkan betapa perubahan politik lokal di negara bagian kecil dapat menghambat fleksibilitas geopolitik negara kekuatan utama. Kemenangan AfD menunjukkan bahwa kepemimpinan diplomasi Jerman di Eropa akan terus dibayangi oleh ancaman kelumpuhan politik jika tidak ada keselarasan antara tuntutan domestik di Level II dan komitmen internasional di Level I.