Langkah Lawan Corona dari Tengah Lautan

a passionate writer
Tulisan dari Muthyarana Darosha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pelataran kota terlihat sepi. Hanya sedikit kendaraan yang mondar-mandir. Imbauan pemerintah daerah untuk melakukan gerakan #dirumahaja dan physical distancing barangkali memang diterapkan sebagian masyarakat Kota Painan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
Beralih dari pusat kota, di sudut kota, tepatnya di tepian Pantai Carocok, Kabupaten Pesisir Selatan. Tak banyak yang berbeda dari situasi sebelumnya. Masih tampak seperti hari-hari biasa, hiruk-pikuk aktivitas tepi pantai, orang-orang yang mulai menjemur ikan hasil tangkapan, dan beberapa nelayan yang duduk di depan rumah sekadar menikmati angin tepi pantai.
Ya, sudah tentu gerakan bekerja dari rumah tidak bisa dipukul rata untuk semua pekerjaan. Seperti mereka yang bekerja di sektor informal dan menaruh harapan di tengah lautan. Tak ada pilihan lain bagi nelayan, selain tetap melaut, walaupun corona makin merebak.
“Karena nggak ada pekerjaan lain. Sudah lama saya jadi nelayan,” begitu tutur Jodi, seorang nelayan di Pantai Carocok.
Pada kesempatan itu Jodi menceritakan kesehariannya sebagai seorang nelayan. Kalau akan menangkap ikan dengan jala yang besar, Jodi dan beberapa kawannya akan berangkat sekitar pukul dua pagi. Lalu jala akan ditarik pukul delapan atau sembilan pagi. Jikalau hanya menggunakan jaring, biasanya Jodi bernagkat pukul lima sore, dan pulang dengan membawa hasil tangkapan sekitar pukul sembilan malam.
Namun pagi itu sedikit berbeda. Pagi itu hari Minggu, kira-kira pukul 09.00 WIB. Matahari sudah naik sebagian. Suara dentuman ombak berpadu dengan gemersik angin sepoi di Pantai Carocok. Tepi pantai tidak terlalu ramai seperti biasanya. Biasanya, pada jam-jam ini nelayan telah mulai menarik jala yang ditebar pada dini hari. Saya memutuskan untuk bergabung dengan lima-enam orang nelayan yang tengah duduk bersantai di sebuah pondokan.
Setelah bercengkrama beberapa menit, nelayan-nelayan tersebut mulai membeberkan alasan mereka tidak melaut hari ini.
“Ombaknya lagi gede, jadi kita nggak ke laut,” terang Ujang, satu diantara enam nelayan lainnya.
Joni bercerita, beberapa hari belakangan cuaca tak menentu. Tiba-tiba hujan, atau tiba-tiba badai, padahal sebelumnya cuaca cerah. Hal tersebut sangat memepengaruhi hasil tangkapannya. Bahkan, ia mengaku sudah dua hari mereka tidak pergi melaut.
“Cuacanya kurang bersahabat. Kadang paginya cerah siangnya hujan. Kadang siangnya cerah, tapi malam harinya badai. Hasil tangkapan jadi sedikit, bahkan kami tidak melaut,” ceritanya.
Selain hasil tangkapan yang menurun, Jodi mengatakan bahwa penjualan ikannya turut menurun sejak corona merebak. Ikan hasil tangkapan yang biasanya juga didistribusikan ke beberapa daerah lain, sekarang hanya dipasarkan ke masyarakat sekitar saja. Hal ini sejalan dengan peraturan pemerintah daerah untuk membatasi kegiatan bepergian.
“Untuk penjualan menurun sekitar 20 persen, lah,” kata Jodi.
Tak dipungkiri, Jodi dan kawan-kawan pun turut khawatir dengan mewabahnya corona. Apalagi dengan kondisi pekerjaan mereka yang benar-benar tidak bisa dikerjakan dari rumah.
“Rasa takut sudah pasti ada, tapi banyak alasan yang membuat kami untuk tetap ke laut,” tutur Jodi.
Dari itu, untuk meminimalisir, Jodi dan kawan-kawan selalu berusaha menerapkan anjuran yang telah disampaikan pemerintah, yakni menggunakan masker saat keluar rumah, memcuci tangan secara berkala, menjaga kebersihan, dan berusaha melakukan physical distancing.
“Walapun tidak bisa bekerja dari rumah, kami berusaha melakukan anjuran-anjuran yang telah disampaikan. Seperti menggunakan masker saat bepergian, dan lebih sering mencuci tangan dengan sabun,” kata Jodi.
Jodi mengimbau agar nelayan lainnya untuk melakukan hal serupa, sebagai bentuk antisipasi. Jodi juga juga megimbau agar masyarakat tidak keluar rumah sesukanya, dan berupaya untuk mematuhi aturan yang telah ditetapkan.
Disela-sela perbincangan Jodi dan kawan-kawan juga menceritakan alasan lain mereka mengapa mereka tetap bekerja. Alasan terebesar, selain kepentingan ekonomi pribadi mereka.
“Kalau nggak ada nelayan yang mau melaut, siapa yang akan memasok kebuthan ikan untuk masyarakat? Sedangkan saat pandemi masyarakat harus tetap mengkonsumsi makanan yang bergizi,” begitu ujar Jodi.
Jodi dan kawan-kawan berharap langkah kecilnya dengan memasok ikan, bisa membantu masyarakat melawan corona.
