Konten dari Pengguna

Bahasa, Sastra, dan Politik: Tiga Wajah yang Saling Menyapa dalam Kehidupan Kita

mutiara tarawiyah

mutiara tarawiyah

seorang mahasiswa universitas pamulang dengan jurusan sastra indonesia

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari mutiara tarawiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bahasa bukan hanya soal kata dan kalimat. Di dalamnya ada kekuatan untuk mempengaruhi cara orang berpikir. Karena itu, bahasa seringkali berhubungan dengan politik. Siapa yang menguasai bahasa, bisa menguasai makna. Dan di situlah letak kekuatan sesungguhnya.

Dalam dunia politik, bahasa digunakan untuk menarik simpati, menanamkan ide, bahkan mengendalikan opini publik. Coba saja lihat menjelang pemilu. Setiap calon punya cara berbicara yang berbeda. Ada yang memilih kata sederhana supaya terdengar dekat dengan rakyat, ada juga yang memakai istilah berat agar tampak pintar dan berwibawa. Semua itu strategi berbahasa.

sumber: internet
zoom-in-whitePerbesar
sumber: internet

Sastra juga tidak jauh dari dunia politik. Lewat karya sastra, penulis bisa menyampaikan kritik sosial tanpa harus berteriak di jalan. Puisi, cerpen, atau novel sering menjadi ruang aman bagi suara yang dibungkam. Dari masa ke masa, banyak karya lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan atau kekuasaan yang menindas.

Kita bisa melihat contohnya dari karya-karya Wiji Thukul, Pramoedya Ananta Toer, atau penyair muda masa kini yang menulis keresahan sosial lewat media digital. Kata-kata mereka tidak hanya indah, tapi juga tajam. Bahasa dalam sastra menjadi alat perjuangan.

sumber: internet

Hubungan antara bahasa, sastra, dan politik menunjukkan bahwa semua itu tidak bisa dipisahkan. Bahasa memberi bentuk pada pikiran politik. Sastra memberi nyawa pada suara yang tidak sempat terdengar. Politik memberi konteks pada bagaimana kata-kata digunakan di ruang publik.

Di era digital sekarang, kekuatan bahasa terasa makin besar. Satu kalimat di media sosial bisa menggerakkan ribuan orang. Kadang untuk hal baik, tapi kadang juga untuk hal yang menyesatkan. Karena itu, penting bagi kita untuk lebih sadar dalam memilih dan memakai bahasa.

Sastra bisa menjadi penyeimbang. Ia mengajarkan empati, kejujuran, dan keberanian menyuarakan kebenaran. Sementara bahasa menjadi jembatan agar pesan dalam sastra bisa sampai ke hati banyak orang.

Bahasa dan sastra seharusnya tidak hanya dipelajari di ruang kelas, tapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita menulis dengan jujur, berbicara dengan sopan, atau berani menyampaikan pendapat tanpa menyakiti orang lain, di situ sebenarnya kita sedang menjalankan politik kebahasaan yang beretika.

Bahasa adalah cermin bangsa. Sastra adalah jiwanya. Politik adalah arah pergerakannya. Ketiganya saling terhubung dan membentuk wajah masyarakat kita hari ini. Menjaga bahasa dan sastra berarti juga menjaga kesadaran politik kita agar tetap manusiawi.