Konten dari Pengguna

Relasi Filsafat dengan Pandemi Covid-19?

Mutia Agroli

Mutia Agroli

Analis Humas Puslitbang Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mutia Agroli tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Filsafat dan Teknologi di Era Pandemi - Sumber : Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Filsafat dan Teknologi di Era Pandemi - Sumber : Freepik.com

Filsafat sebagai sebuah dasar dari ilmu pengetahuan, maka penting kiranya filsafat dijadikan sebagai pisau kajian untuk membahas mengenai permasalahan yang sedang terjadi saat ini yaitu pandemi Covid-19. Penyebaran virus Covid-19 ini dapat dibahas melalui pemikiran filsafat dari segi ontologi, aksiologi dan epistemologi yang nantinya akan terlihat permasalahannya ada di mana.

Jika dilihat dari pandangan epistemologi menjadikan tata kehidupan manusia dan masyarakat berubah yang mana misalnya kebutuhan manusia akan teknologi menjadi meningkat dikarenakan adanya perubahan tata cara kinerja dan sekolah diubah ke metode daring. Jika dilihat dari segi aksiologi menjadikan masyarakat terlihat panik dan meningkatkan spiritualitas mereka. Kemudia jika dilihat dari segi ontologi masyarakat akan bertanya apakah ini sebuah bencana yang akan menghancurkan mereka nantinya. Beberapa pemahaman ini yang nantinya akan menjadi pertanyaan mengenai kaitan filsafat dengan pandemi Covid-19 yang sedang dialami oleh semua orang yang ada di belahan dunia.

Kita sering mendengar pepatah bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Namun ditengah situasi pandemi seperti ini pepatah tersebut tampaknya sudah tidak berlaku lagi. Kita akan lebih familiar mendengar pepatah bersatu kita mati, bercerai kita selamat. Memang terdengar sangat aneh, tapi pepatah itu lah yang harus diterapkan saat ini ditengah merebak nya kasus covid-19 yang ada di Indonesia.

Informasi mengenai pandemi covid yang tengah heboh di Indonesia saat ini ditanggapi berbagai macam oleh kalangan masyarakat, mulai dari menerima lalu mengabaikan dan ada juga yang hanya sekedar mendengar lalu merasa “masa bodo”.

Dalam pemahaman filsafat yang lebih fokus pada pemikiran filsafat manusia adalah pada dasarnya manusia bersifat singular-plural. Manusia bersifat individu dan juga makhluk sosial.

Bersifat singular dikarenakan manusia sudah terbentuk secara sifat yang tunggal sudah tidak dapat diganggu dan diubah lagi, manusia tidak ada yang bersifat sama satu dengan yang lainnya. Jika dilihat dari plural, manusia tidak lah dapat hidup sendiri artinya manusia adalah makhluk sosial yang juga membutuhkan bantuan dan peran orang lain dalam dirinya baik secara sadar ataupun tidak.

Secara psikologis (psyche) dijelaskan jika manusia sudah dibentuk dan dipengaruhi pelbagai pemikiran sejak ada di dalam kandungan ibunya mulai dari aspek pengetahuan hingga aspek hubungan antar individu. Filsuf Perancis Jean-Luc Nancy menyebutkan “aku yang sekarang ada adalah aku yang tunggal dan sudah disematkan pola pikir sejak dini, dan aku yang ada sekarang adalah aku yang sudah dibentuk dari sosial yang sudah ada”.

Justru ditengah maraknya kasus pandemi covid seperti ini sikap peduli dan tidak peduli kepada orang lain bisa menjadi “bencana”.

Dua kelompok inilah yang kemudian bepergian dan menyebarkan covid-19. Disaat inilah manusia yang bersifat singular plural harus dapat membatasi diri dengan orang lain, begitupun dengan orang lain harus dapat membatasi diri dengan kita secara langsung, yang berguna untuk keselamatan bersama.

Di saat bencana Covid-19 melanda kita lantas kebingungan bagaimana harus menyikapinya, manusia yang begitu percaya pada teknologi sekarang lumpuh. Vaksin tidak ada, begitu ditemukan juga akan memakan waktu lama untuk di identifikasi terlebih dahulu.

Kita sebagai manusia yang begitu percaya dengan teknologi juga sekarang tiba-tiba berhadapan dengan “kegelapan”, hanya satu hal yang dapat dilakukan saat ini yaitu mengisolasi diri dan berhadapan dengan kenyataan yang sulit dijelaskan dengan adanya pandemi ini.

Jika dilihat dari pandangan Albert Camus seorang filsuf yang menjelaskan jika hidup manusia adalah absurd. Letak absurditasnya yakni di satu sisi manusia hidup mengarah/menuju pada masa depan sementara di sisi lain masa depan itu mendekatkan manusia pada kematian.

Kemudian dengan adanya absurditas itu manusia pada akhirnya melarikan diri dan menciptakan keyakinan dengan beragama/berideologi yang berguna untuk menjadikan kekuatan atau kepercayaan diri untuk menjalani kehidupan mereka. Berhadapan dengan situasi pandemi ini Camus menjelaskan jika dalam situasi ini digambarkan seperti sedang perang, yang mana ketika hidup begitu terlihat mudah, kematian yang datang tiba-tiba kita juga harus mewaspadai datangnya musibah.

Pada dasarnya dalam situasi wabah seperti ini, ketika masyarakat melakukan isolasi diri dan juga kantor ditutup, begitu juga dengan sebuah aktivitas dikorbankan, sebenarnya yang kita takuti adalah kematian. Manusia tentunya sangat percaya dengan teknologi kesehatan yang sudah ada, namun siapa menyangka Covid-19 akan muncul dan menyerang banyak orang di dunia. Di sini Albert Camus menggambarkan sebuah bencana yang tidak ada penjelasannya seperti situasi Covid-19 ini yang bersifat absurd tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu. (MA)