Konten dari Pengguna

KDRT yang Tak Terlihat: Kekerasan Verbal dalam Hubungan Pernikahan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mutia Maharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.magnific.com/free-vector/hand-drawn-toxic-relationship-illustration_66242779.htm#fromView=search&page=1&position=4&uuid=f4867b8f-8cf4-4c89-b148-b214ad27b20b&query=https%3A%2F%2Fwww.magnific.com%2Ffree-vector%2Fdivorce-illustration-concept_9008819.htm%23fromView%3Dsearch%26page%3D1%26position%3D17%26uuid%3D806a9f61-4520-4e06-88ce-0056a313c258%26query%3DKDRT%2Byang%2BTak%2BTerlihat%253A%2BKekerasan%2BVerbal%2Bdalam%2BHubungan%2BPernikahan
zoom-in-whitePerbesar
https://www.magnific.com/free-vector/hand-drawn-toxic-relationship-illustration_66242779.htm#fromView=search&page=1&position=4&uuid=f4867b8f-8cf4-4c89-b148-b214ad27b20b&query=https%3A%2F%2Fwww.magnific.com%2Ffree-vector%2Fdivorce-illustration-concept_9008819.htm%23fromView%3Dsearch%26page%3D1%26position%3D17%26uuid%3D806a9f61-4520-4e06-88ce-0056a313c258%26query%3DKDRT%2Byang%2BTak%2BTerlihat%253A%2BKekerasan%2BVerbal%2Bdalam%2BHubungan%2BPernikahan

Ketika mendengar istilah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), sebagian besar masyarakat biasanya langsung membayangkan kekerasan fisik seperti memukul, menendang, atau tindakan agresif lainnya yang meninggalkan luka pada tubuh korban. Padahal, kekerasan dalam rumah tangga tidak selalu berbentuk fisik. Ada bentuk kekerasan lain yang sering terjadi, tetapi kerap dianggap sepele karena tidak meninggalkan bekas yang terlihat, yaitu kekerasan verbal.

Dalam kehidupan rumah tangga, kekerasan verbal sering muncul dalam bentuk bentakan, hinaan, kata-kata merendahkan, ancaman, mempermalukan pasangan, hingga ucapan yang terus-menerus membuat korban merasa tidak berharga. Kalimat seperti “kamu tidak berguna”, “kamu selalu gagal”, “tidak ada yang mau sama kamu selain saya”, atau ucapan bernada meremehkan lainnya sering dianggap sebagai bagian dari emosi sesaat dalam hubungan. Padahal, jika terjadi terus-menerus, kekerasan verbal dapat memberikan dampak psikologis yang sangat serius bagi korban.

Masalahnya, kekerasan verbal sering kali sulit dikenali karena dianggap “bukan kekerasan sungguhan”. Banyak korban bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami kekerasan psikologis dalam hubungan pernikahan. Di masyarakat Indonesia, masih terdapat anggapan bahwa selama tidak ada kekerasan fisik, maka rumah tangga tersebut dianggap baik-baik saja. Akibatnya, banyak korban memilih diam dan bertahan meskipun mengalami tekanan emosional setiap hari.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kekerasan verbal merupakan bentuk KDRT yang sering tidak terlihat, tetapi dampaknya dapat berlangsung sangat lama. Luka akibat ucapan yang merendahkan tidak tampak secara fisik, tetapi dapat merusak kesehatan mental, rasa percaya diri, hingga kualitas hubungan keluarga secara keseluruhan.

Kekerasan Verbal dalam Hubungan Pernikahan

Dalam psikologi, kekerasan verbal termasuk bentuk kekerasan emosional atau psychological abuse. Kekerasan ini dilakukan melalui kata-kata, nada bicara, maupun bentuk komunikasi yang bertujuan merendahkan, mengontrol, mengintimidasi, atau melukai kondisi psikologis pasangan.

Bentuk kekerasan verbal dalam pernikahan dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Beberapa contoh yang sering ditemukan adalah membentak pasangan di depan orang lain, mempermalukan pasangan, membanding-bandingkan dengan orang lain, memberikan hinaan terus-menerus, mengancam, menyalahkan pasangan atas semua masalah, hingga melakukan silent treatment sebagai bentuk manipulasi emosional.

Sayangnya, banyak perilaku tersebut justru dinormalisasi dalam kehidupan rumah tangga. Tidak sedikit orang menganggap bentakan atau hinaan sebagai hal biasa karena dipicu emosi sesaat. Padahal, hubungan yang terus dipenuhi komunikasi agresif dapat menciptakan lingkungan psikologis yang tidak sehat bagi pasangan maupun anak.

Penelitian dalam jurnal Kekerasan Verbal Terhadap Istri di Dalam Rumah Tangg, menjelaskan bahwa kekerasan verbal merupakan bentuk kekerasan yang cukup sering terjadi tetapi masih kurang disadari oleh masyarakat karena tidak meninggalkan luka fisik yang tampak. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kekerasan verbal dapat menyebabkan tekanan emosional yang mendalam pada korban.

Dalam beberapa hubungan, kekerasan verbal bahkan dilakukan secara berulang hingga menjadi pola komunikasi sehari-hari. Pelaku sering menggunakan kata-kata kasar sebagai bentuk dominasi dan kontrol terhadap pasangan. Akibatnya, korban perlahan kehilangan rasa percaya diri dan mulai merasa bahwa dirinya memang pantas diperlakukan seperti itu.

Di Indonesia, budaya patriarki juga sering menjadi faktor yang memperkuat kekerasan verbal dalam rumah tangga. Sebagian korban memilih diam karena takut dianggap melawan pasangan, takut dicap gagal mempertahankan rumah tangga, atau khawatir mendapatkan stigma sosial dari lingkungan sekitar.

Dampak Psikologis yang Sering Diremehkan

Meskipun tidak meninggalkan luka fisik, kekerasan verbal dapat memberikan dampak psikologis yang sangat serius. Kata-kata yang menyakitkan dan diucapkan terus-menerus dapat memengaruhi cara korban memandang dirinya sendiri.

Korban kekerasan verbal sering mengalami penurunan harga diri, kecemasan, stres berkepanjangan, overthinking, gangguan tidur, hingga depresi. Dalam beberapa kasus, korban menjadi kehilangan rasa percaya terhadap dirinya sendiri karena terlalu sering menerima kritik dan hinaan dari pasangan.

Penelitian mengenai dampak verbal abuse terhadap kondisi psikologis menunjukkan bahwa korban dapat mengalami respons emosional seperti sedih, takut, kecewa, kecemasan berlebih, bahkan muncul pikiran menyakiti diri sendiri.

Selain itu, kekerasan verbal juga dapat menyebabkan trauma emosional jangka panjang. Korban mungkin menjadi lebih sensitif terhadap kritik, sulit membangun hubungan sehat dengan orang lain, atau mengalami ketakutan ketika menghadapi konflik dalam hubungan interpersonal.

Penelitian lain mengenai dampak psikologis kekerasan verbal pada perempuan bercerai menunjukkan bahwa korban mengalami stres emosional yang cukup berat, seperti sering menangis, sulit fokus, mudah tersinggung, dan mengalami gangguan tidur akibat tekanan psikologis dalam rumah tangga.

Yang lebih berbahaya, kekerasan verbal sering terjadi secara perlahan dan berulang sehingga korban menjadi terbiasa dengan perlakuan tersebut. Banyak korban akhirnya menganggap hinaan atau bentakan sebagai bagian normal dari hubungan pernikahan. Kondisi ini membuat korban semakin sulit menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam hubungan yang tidak sehat.

Mengapa Banyak Korban Memilih Bertahan?

Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa banyak korban tetap bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan verbal. Jawabannya tidak sesederhana “karena tidak berani pergi”.

Dalam banyak kasus, korban bertahan karena adanya ketergantungan emosional maupun ekonomi terhadap pasangan. Ada pula korban yang berharap pasangannya akan berubah seiring waktu. Selain itu, tekanan sosial dan stigma perceraian di masyarakat membuat banyak individu memilih mempertahankan rumah tangga meskipun kondisi psikologisnya terganggu.

Sebagian korban juga mengalami manipulasi emosional atau gaslighting, yaitu kondisi ketika pelaku membuat korban merasa bahwa dirinya terlalu sensitif atau berlebihan. Akibatnya, korban mulai meragukan perasaannya sendiri dan menganggap bahwa apa yang dialaminya bukan kekerasan.

Fenomena ini juga sering dibahas dalam diskusi masyarakat di media sosial Indonesia. Dalam salah satu diskusi di Reddit Indonesia, banyak pengguna menyampaikan bahwa kekerasan verbal sering dianggap lebih “tidak terlihat” dibanding kekerasan fisik, padahal dampaknya terhadap psikologis korban bisa berlangsung sangat lama.

Di sisi lain, tidak sedikit korban yang bertahan demi anak atau mempertahankan citra keluarga di lingkungan sosial. Padahal, rumah tangga yang dipenuhi kekerasan verbal justru dapat memberikan dampak buruk bagi perkembangan emosional anak.

Dampak terhadap Anak dan Lingkungan Keluarga

https://www.magnific.com/free-vector/gender-violence-concept_9009084.htm#fromView=search&page=1&position=2&uuid=f4867b8f-8cf4-4c89-b148-b214ad27b20b&query=https%3A%2F%2Fwww.magnific.com%2Ffree-vector%2Fdivorce-illustration-concept_9008819.htm%23fromView%3Dsearch%26page%3D1%26position%3D17%26uuid%3D806a9f61-4520-4e06-88ce-0056a313c258%26query%3DKDRT%2Byang%2BTak%2BTerlihat%253A%2BKekerasan%2BVerbal%2Bdalam%2BHubungan%2BPernikahan

Kekerasan verbal dalam rumah tangga tidak hanya memengaruhi pasangan, tetapi juga anak-anak yang tumbuh di lingkungan tersebut. Anak yang sering melihat pertengkaran, bentakan, atau hinaan dalam keluarga dapat mengalami tekanan emosional meskipun tidak menjadi korban langsung.

Penelitian mengenai kekerasan komunikasi verbal dalam keluarga menunjukkan bahwa paparan kekerasan verbal dapat memengaruhi perkembangan perilaku dan kondisi emosional anak. Anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang mudah cemas, takut, agresif, atau mengalami kesulitan membangun hubungan interpersonal yang sehat.

Selain itu, anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan verbal juga berisiko menganggap pola komunikasi agresif sebagai sesuatu yang normal. Akibatnya, pola tersebut dapat terbawa hingga dewasa dan memengaruhi hubungan sosial maupun pernikahannya di masa depan.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat aman justru berubah menjadi sumber tekanan psikologis bagi seluruh anggota keluarga.

Pentingnya Kesadaran dan Komunikasi Sehat dalam Pernikahan

Kekerasan verbal dalam hubungan pernikahan perlu dipahami sebagai masalah serius, bukan sekadar persoalan emosi sesaat. Kesadaran mengenai pentingnya komunikasi sehat menjadi langkah awal untuk mencegah kekerasan emosional dalam rumah tangga.

Dalam hubungan yang sehat, perbedaan pendapat memang wajar terjadi. Namun, konflik seharusnya diselesaikan melalui komunikasi yang saling menghargai, bukan melalui hinaan, ancaman, atau kata-kata yang merendahkan pasangan.

Pendidikan mengenai kesehatan mental dan komunikasi interpersonal juga penting agar masyarakat mampu mengenali tanda-tanda hubungan yang tidak sehat sejak awal. Selain itu, dukungan sosial dari keluarga, teman, maupun tenaga profesional sangat dibutuhkan bagi korban kekerasan verbal agar mereka tidak merasa sendirian.

Konseling pernikahan, terapi psikologis, maupun layanan pendampingan korban KDRT dapat menjadi langkah penting untuk membantu korban memulihkan kondisi emosionalnya dan membangun hubungan yang lebih sehat.