Konten dari Pengguna

Cerpen "27" Krisis Eksistensial: Menolak Waras di Usia Matang

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mutia Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di sini aku duduk pukul 23.15 WIB, mendengarkan deru angin malam yang menyelinap lewat ventilasi kamar. Bukan karena sedang galau memikirkan masa lalu, tapi ingatan ini justru tertahan pada konflik emosional yang tersaji apik dalam Cerpen "27".

Sketsa dua perempuan berkerudung di bangku taman, menggambarkan momen ulang tahun ke-27 yang sunyi, sekaligus awal mula terbangunnya ikatan emosional di antara dua orang yang awalnya saling asing.                                                                                                                                                                             Gambar ilustrasi ini dibuat sendiri diaplikasi gemini.
zoom-in-whitePerbesar
Sketsa dua perempuan berkerudung di bangku taman, menggambarkan momen ulang tahun ke-27 yang sunyi, sekaligus awal mula terbangunnya ikatan emosional di antara dua orang yang awalnya saling asing. Gambar ilustrasi ini dibuat sendiri diaplikasi gemini.

Cerpen "27" karya Denita Sal Sabila yang dipublikasikan di Kompas.id hadir sebagai tamparan keras bagi dinamika emosional generasi muda. Cerpen ini menceritakan dengan sangat dingin fenomena invisible loneliness atau kesepian tersembunyi yang dihadapi oleh seseorang tepat ketika ia menginjak usia kematangan, yakni 27 tahun. Di fase ini masyarakat sering dianggap sebagai gerbang kemapanan, tokoh dalam cerita ini justru terjebak dalam pusaran krisis eksistensial yaitu sebuah kondisi ketika seseorang mulai mempertanyakan makna keberadaan, tujuan hidup, dan kerapuhan dirinya di dunia.

Untuk menguliti bagaimana konflik batin ini dibangun secara estetis, buku Teori Pengkajian Fiksi karya Burhan Nurgiyantoro (2018) menyediakan pisau bedah struktur fiksi yang sangat tajam. Nurgiyantoro menegaskan bahwa sebuah karya cerita merupakan totalitas yang dibangun oleh keterjalinan unsur intrinsik yang saling mengikat. Lewat buku tersebut, kita dapat melihat bagaimana sang penulis mengeksplorasi kesunyian menjadi sebuah cerita yang utuh dan menggugah. Salah satu unsur intrinsik yang paling menonjol dan menopang keutuhan cerita tersebut adalah penokohan jiwa dari setiap konflik yang berdetak dalam cerpen ini.

Penokohan

Tokoh utama dalam cerpen ini adalah tokoh “Aku” dan seorang gadis lawan bicaranya. Masing-masing tokoh memiliki karakteristik yang kompleks dan mendalam, menggambarkan spektrum pemikiran dan emosi manusia dalam menghadapi fase pendewasaan, rasa terasing, serta pencarian kesamaan makna hidup. Kesamaan makna itulah yang pertama kali muncul ke permukaan lewat sebuah pengakuan sederhana namun muatan emosional.

“Wah! Umur kita beda sehari saja, besok ulang tahun saya yang kedua puluh tujuh juga!”

Kutipan ini menggambarkan tokoh gadis tersebut sebagai sosok yang ekspresif dan membawa kehangatan di tengah suasana yang canggung. Kutipan ini memiliki kesamaan usia "kedua puluh tujuh" menjadi elemen penting yang mencerminkan kerinduan tersembunyi manusia akan titik temu emosional dengan sesamanya. Karakter ini menunjukkan bagaimana sebuah kesamaan kecil mampu meruntuhkan dinding pembatas sosial bagi orang yang sedang merasa kesepian. Namun di balik kehangatan pertemuan itu, ada lapisan yang lebih dalam sebuah kerinduan yang mengalir deras ke masa yang telah lampau.

“Saya jadi teringat dengan ulang tahun saya tahun lalu, saya sekeluarga juga selalu merayakan acara ulang tahun di rumah. Tahun lalu sangat meriah, semua teman-teman masa kecil saya datang ke rumah sebagai kejutan yang tidak pernah saya sangka. Mereka diundang langsung oleh kedua orangtua saya, ada pesta kecil-kecilan yang sudah keluarga saya siapkan. Malam itu terasa sangat meriah dan membahagiakan, saya jadi rindu mereka semua.”

Kutipan ini menyoroti sisi nostalgia yang mendalam dalam diri sang gadis. Ia digambarkan sebagai sosok yang sangat menghargai kebersamaan keluarga dan memori masa kecilnya yang hangat. Gambaran kerinduan ini mencerminkan kontras yang tajam antara kebahagiaan masa lalu dengan realitas masa kini yang sunyi. Karakter ini menjadi simbol dari transisi pendewasaan, di mana seseorang mulai merasakan kerinduan yang akut terhadap masa-masa yang telah berlalu. Ironisnya, justru dari dalam kesunyian itulah ia melemparkan pertanyaan yang paling telak pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan mudah.

”Jadi, kenapa kakak saat ini merayakan ulang tahun sendirian?”

Kutipan ini memperlihatkan sifat tokoh gadis yang penuh perhatian, peka, dan memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap kondisi orang lain. Pertanyaan langsung ini tidak hanya menggerakkan dialog, tetapi juga berfungsi untuk memancing keterbukaan emosional dari lawan bicaranya. Karakter ini digambarkan sebagai pendengar yang empati, sosok yang berusaha memecah kesunyian dan menggali alasan di balik tindakan merayakan ulang tahun dalam kesendirian. Dan seolah menjawab dorongan empati itu, tokoh gadis pun balik mengungkapkan fakta tentang dirinya sendiri dengan jujur, tanpa hiasan.

”Sebenarnya saya baru berulang tahun besok,”

Kutipan pendek ini menekankan kejujuran dan keputus-asaan dari tokoh gadis tersebut dalam mengungkapkan fakta dirinya. Ungkapan ini menunjukkan karakter yang terbuka dan tidak berpura-pura, sekaligus menjadi pembuka bagi pengakuan emosional yang lebih dalam setelahnya. Pernyataan ini mempertegas kemiripan situasi yang ia miliki dengan tokoh “Aku”, menciptakan ikatan psikologis yang semakin dekat di antara keduanya. Kejujuran itu rupanya bukan titik akhir, melainkan pintu masuk menuju pengakuan yang jauh lebih berat yaitu sebuah rasa takut yang selama ini ia simpan sendiri.

”Saya hanya takut tidak sempat, jadi saya merasa perlu merayakan ulang tahun saya lebih dahulu, hari ini saja. Tapi setelah tahu ada orang yang punya tanggal lahir yang sama persis dengan saya, yaitu Kakak,”

Kutipan ini menggambarkan tokoh gadis sebagai sosok yang didera kecemasan dan ketakutan tersembunyi akan waktu. Frasa "takut tidak sempat" mengindikasikan beban batin dan kerapuhan mental yang berat, memperlihatkan sisi karakternya yang merasa terburu-buru atau tidak pasti akan masa depannya sendiri. Karakter ini mencerminkan dari korban kesepian modern (invisible loneliness), yang secara defensif berusaha merayakan eksistensi dirinya sendiri sebelum semuanya terlambat. Meski demikian, ketakutan itu ternyata tidak mengunci sang gadis dalam kegelapannya justru ia membawanya pada sebuah transformasi yang mengharukan.

”Tolong rayakan ulang tahun saya besok bersama Kakak juga. Doakan saya sebelum Kakak meniup lilin itu bersama orang-orang yang Kakak kasihi. Terima kasih sudah ada untuk saya hari ini, saya sangat bersyukur.”

Kutipan ini menonjolkan sifat tokoh gadis yang penuh kepasrahan, ketulusan, dan rasa terima kasih yang mendalam. Karakter ini bertransformasi dari seseorang yang penuh kecemasan menjadi sosok yang dipenuhi rasa syukur atas kehadiran orang lain. Permintaan untuk didoakan mencerminkan watak yang merindukan validasi spiritual dan kasih sayang yang tulus. Tokoh ini menjadi simbol dari harapan, menunjukkan bahwa di balik rasa sunyinya usia 27 tahun, ia tetap mendambakan koneksi kemanusiaan yang hangat dan berarti.

Daftar Pustaka

  • Sabila, D. S. (2026 , Maret 04). 27. kompas.id.

  • Nurgiyantoro, Burhan. (2018). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.