Jejak Langkah: Ketika Pena dan Organisasi Menjadi Senjata

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Negeri Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Mutia Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah suasana Batavia pada awal abad ke-20, kisah Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer membawa kita menyelami perjalanan Minke dalam memperjuangkan kebebasan pribumi. Melalui pena, pers, dan organisasi, tersaji keberanian melawan kolonialisme, membangun kesadaran rakyat, serta memperjuangkan perubahan di tengah tekanan kekuasaan.

Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer adalah buku ketiga Tetralogi Buru, setelah Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, dan sebelum Rumah Kaca. Kalau dua buku pertama bercerita tentang kegelisahan dan pengamatan, buku ini bercerita tentang tindakan bagaimana seorang pemuda pribumi mulai mengorganisir perlawanan.
Novel yang lahir dari Pulau Buru
Pram hampir separuh hidupnya dihabiskan di penjara. Empat belas tahun di antaranya ia jalani di era Orde Baru tanpa proses pengadilan, termasuk di Pulau Buru. Tetralogi ini ditulis di sana. Menurut pengantar edisi Lentera Dipantara, ceritanya lebih dulu ia tuturkan kepada sesama tahanan, agar cerita itu tidak hilang dari ingatan. Jejak Langkah terbit pada 1985 oleh Hasta Mitra, lalu dilarang Jaksa Agung pada tahun yang sama. Kisah tentang keberanian bersuara ini lahir dari penulis yang suaranya dibungkam.
Dari sekolah dokter ke dunia pergerakan
Novel dibuka dengan kedatangan Minke di Betawi, tepat saat dunia memasuki abad ke-20. Ia belajar di Sekolah Dokter, tempat siswa mendapat uang saku dan makan di asrama, dan jabatan sudah menunggu setelah lulus. Hidupnya sebenarnya tinggal dijalani dengan nyaman.
Namun di sana ia bertemu Ang San Mei, guru bahasa Inggris di sekolah Tionghoa modern milik Tiong Hoa Hwee Koan. Mei adalah gadis muda yang terlibat dalam Angkatan Muda Tionghoa dan meninggalkan negerinya tanpa dikawinkan keluarga. Lewat perkenalan itu, Minke ikut terseret ke pembicaraan tentang emansipasi perempuan, bahkan membantu menerjemahkan surat seorang gadis Jepara untuk Mei. Pertemuan ini membuat pikirannya terbuka. Setelah Mei meninggal, Minke tidak berhenti. Ia menerbitkan koran Medan sebagai ruang bagi suara pribumi.
Pena dan organisasi sebagai senjata
Minke tidak memilih perlawanan bersenjata. Ia memilih jalan jurnalistik dan organisasi, dengan tujuan mengembalikan kekuatan kepada rakyat pribumi lewat boikot, organisasi, dan penghapusan budaya feodal. Pengantar merangkum sikapnya dengan seruan "Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan."
Jalan itu tidak mulus. Gerombolan Robert Suurhof, De Zweep, menjadi ancaman nyata. Dalam novel, Suurhof tertembak dan selamat, sementara dua temannya tewas. Minke menduga Sandiman dan Prinses terlibat, tetapi semua pihak memilih berpura-pura tidak tahu. Pangemanann, pejabat polisi yang diam-diam mengaguminya, terus mengawasi.
Di sisi lain, organisasi tumbuh. Syarikat menarik uang pangkal sebenggol saja, seperseratus uang pangkal Boedi Oetomo, dan orang berduyun-duyun mendaftar. Menjelang akhir novel, anggotanya lebih dari lima puluh ribu orang, dengan perdebatan di antara cabang-cabangnya yang tak pernah sepenuhnya seragam.
Harga yang dibayar
Di bagian akhir, Minke bersiap berangkat jauh bersama istrinya, Prinses. Gubernur Jenderal Idenburg baru saja melayat Bupati Rembang. Pagi berikutnya, Minke membuka Medan dan menemukan serangan kasar terhadap sang Gubernur Jenderal, ditulis anak-anak muda pendukungnya. Ia marah sekaligus sadar tulisan itu sudah terlanjur beredar.
Tak lama polisi mengepung rumahnya. Pangemanann datang membawa surat perintah penyanderaan karena utang, bukan karena tulisan. Ia mengaku hormat pada Minke, tetapi tugas tetap dijalankan. Minke menulis surat talak untuk Prinses supaya istrinya bebas menjalani hidup tanpa dirinya, dan menitipkan salam untuk seluruh anggota Syarikat.
Perpisahan terakhirnya adalah dengan Piah, pembantunya. Piah menolak bersumpah dan menyatakan dirinya anggota Syarikat, anggota perempuan kedua di antara lebih dari lima puluh ribu anggota laki-laki. Minke memintanya mengajak perempuan lain bergabung. Piah menyelipkan handuk Prinses ke dalam koper tuannya. Novel ditutup dengan Minke menuruni tangga rumah tanpa menyadari kakinya tak berselop. Perlawanan itu ternyata sudah menjangkau orang-orang yang paling dekat dan paling sering tak diperhatikan.
Pendapat saya
Bagian yang paling membekas buat saya justru adegan Piah, bukan pidato atau rapat besar. Seorang pembantu yang jarang diperhatikan ternyata ikut berjuang, dan ia lebih setia daripada banyak orang berpendidikan. Dari situ saya melihat bahwa perlawanan tidak hanya milik tokoh besar. Pilihan Minke memakai pena juga terasa dekat dengan zaman sekarang, ketika tulisan dan suara di media sosial bisa menggerakkan orang. Bedanya, tulisan di novel dibayar dengan risiko nyata, sedangkan kita sering menulis tanpa menanggung akibat. Itu membuat saya bertanya, seberapa berani kita kalau harus membayar seperti Minke.
Mengapa masih layak dibaca
Jejak Langkah mengingatkan bahwa perubahan jarang datang dari satu orang saja. Ia lahir dari tulisan, organisasi, dan keberanian menanggung akibat. Itu pula yang membuat novel ini terus dibaca, lebih dari tiga dekade setelah terbit.
