Psikosomatis: Ketika Masalah Psikologis Memicu Masalah Fisik

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
Konten dari Pengguna
3 Desember 2022 21:42
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Mutiah Rafifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Pernahkah kamu mengalami jantung berdebar, sakit kepala, atau bahkan gangguan pencernaan ketika sedang merasa cemas, stres, atau saat sedang memikirkan banyak hal? Tahukah kamu bahwa hal tersebut termasuk ke dalam gangguan psikosomatis? Apa itu psikosomatis? Nah, untuk mengetahui jawaban lebih lengkapnya, mari simak penjelasan berikut ini.
ADVERTISEMENT

Apa itu Gangguan Psikosomatis?

Ilustrasi Kesehatan Mental: https://www.canva.com/design/DAFTm-nfXwo/yyBql9bQbjwO5dMGiElhDw/edit?utm_content=DAFTm-nfXwo&utm_campaign=designshare&utm_medium=link2&utm_source=sharebutton
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kesehatan Mental: https://www.canva.com/design/DAFTm-nfXwo/yyBql9bQbjwO5dMGiElhDw/edit?utm_content=DAFTm-nfXwo&utm_campaign=designshare&utm_medium=link2&utm_source=sharebutton
“Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental.’’ -David Satcher
Sesuai dengan quotes dari David Satcher, seorang tokoh kesehatan terkenal asal Amerika, kondisi fisik memiliki kaitan yang erat dengan kondisi psikologis. Kondisi psikologis yang terganggu tentu dapat memicu timbulnya penyakit fisik dan begitu pula sebaliknya. Keadaan inilah yang kemudian disebut dengan istilah psikosomatis.
Istilah psikosomatis sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata psikhe yang berarti jiwa dan soma yang berarti badan atau tubuh. Psikosomatis atau yang biasa juga disebut psikofisiologis adalah suatu gangguan fisik yang dialami oleh seseorang dan pemicunya disebabkan oleh faktor psikologis. (Davison, Neale, Kring, 2006).
Tahukah kamu bahwa gangguan psikosomatis banyak terjadi pada masyarakat pada usia dewasa awal. Hal ini diakibatkan oleh tuntutan tugas pada tahap perkembangan. Ditinjau dari model perkembangan Havighurst, remaja yang berusia 13-18 tahun diharapkan mampu menerapkan sikap feminim atau maskulin yang tepat, menjalin hubungan yang dewasa dengan teman sebaya, serta keahlian terkait pekerjaan pada masa depan.
ADVERTISEMENT
Nah, pada kenyataannya, tugas-tugas tersebut tersebut tidaklah mudah untuk diselesaikan dan dapat menemui banyak hambatan. Tuntutan, tekanan, serta ketakutan tidak dapat memenuhi tugas-tugas tersebut kemudian menimbulkan stres. Nah, stres itu merupakan salah satu hal yang dapat menyebabkan psikosomatis, loh. Selain stres, kira-kira apalagi ya yang menjadi penyebab psikosomatis?

Penyebab Psikosomatis

Sejatinya, psikosomatis merupakan sebuah kondisi yang tidak mudah untuk didiagnosis. Hal ini dikarenakan gangguan psikosomatis dapat lahir dari interaksi antara faktor genetik dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sejarah kehidupan seseorang. Artinya, gangguan ini tidak memiliki gejala tunggal. Kamu bisa saja terkena gangguan psikosomatis akibat faktor-faktor berikut ini:
  • Faktor Sosial dan Ekonomi
Hal ini termasuk kepuasan dalam pekerjaan, kesukaran ekonomi, dan motivasi serta komitmen dalam bekerja. Pernahkah kamu merasa tertekan akibat tuntutan lingkungan dan orang-orang disekitarmu untuk mencapai hal-hal tertentu? Misalnya, bersekolah di tempat bergengsi, bekerja di perusahaan terkenal dengan gaji tinggi, dan lain sebagainya. Nah, tahukah kamu bahwa tuntutan-tuntutan tersebut dapat memicu munculnya stres hingga kecenderungan untuk mengidap gangguan psikosomatis, loh.
ADVERTISEMENT
  • Faktor Perkawinan atau Keluarga
Yang dimaksud faktor perkawinan atau keluarga ialah kondisi di mana keluarga dapat menimbulkan stres. Misalnya, kepuasan dalam pernikahan, termasuk perselisihan, dan perceraian. Dikutip dari halodoc.com, perceraian dapat menyebabkan gangguan psikologis dan perkembangan pada anak. Anak broken home rentan merasa kesepian, terasing, takut ditinggal sendirian, marah, merasa ditolak, tidak aman serta kebingungan.
  • Faktor Kesehatan
Misalnya kerusakan yang diakibatkan oleh berbagai macam hal, seperti penggunaan obat, benturan, dan penyakit-penyakit yang menahun. Apakah kamu pernah masuk rumah sakit, dioperasi, atau memiliki adiksi terhadap obat-obatan tertentu? Hal-hal tersebut juga bisa menjadi penyebab munculnya gangguan psikosomatis, loh.
  • Faktor Psikologis
Sesuai dengan pengertian psikosomatis di atas, penyebab utama dari gangguan ini adalah pikiran dan emosi negatif yang menimbulkan stres dan kecemasan. Dalam kehidupan sehari-hari banyak hal yang bisa bikin kamu stres, loh. Misalnya, stres akibat masalah pertemanan, ditinggal orang tersayang, urusan pekerjaan, sampai putus cinta.
ADVERTISEMENT

Gejala Gangguan Psikomatis

Bagaimanakah cara mengetahui apabila kamu terkena gangguan psikosomatis? Nah, berikut ini merupakan gejala-gejala yang bisa saja menjadi indikasi bahwa kamu memiliki gangguan psikosomatis. Mulai dari jantung yang berdebar-debar, pusing, mulas, lesu, reumatik, asma, dan darah tinggi, serta nafsu seks yang berkurang/berlebih merupakan gejala psikosomatik, loh. Selain itu, masalah-masalah semacam alergi, jerawat, gatal-gatal, serta eksem juga bisa menjadi indikasi bahwa anda memiliki gangguan psikosomatik yang dapat diamati dari kulit. Khusus pada perempuan, gejala psikosomatis dapat ditandai dengan gangguan menstruasi, baik siklus menstruasi yang menjadi lebih lambat maupun lebih cepat. Nah, apabila kamu mengalami gejala-gejala di atas secara terus-menerus, maka disarankan untuk segera memeriksakan diri ke tenaga kesehatan, baik dokter maupun psikolog.
ADVERTISEMENT

Cara Mengatasi Gangguan Psikosomatis

Lalu bagaimanakah cara mengatasi gejala psikosomatis yang muncul apabila sudah telanjur mengalami gejala dari gangguan tersebut?
  • Berpikir Positif
Berpikir positif sangatlah penting. Karena apabila kamu berpikir positif terhadap hal-hal yang dialami, maka kamu akan merasa lebih tenang dalam menjalani dan menghadapi segala sesuatu. Sama halnya dengan yang dijelaskan pada situs Michigan Medicine, otak menghasilkan berbagai zat kimia yang bermanfaat bagi kesehatan. Misalnya, zat endorfin yang bisa menghilangkan rasa sakit. Nah, produksi zat tersebut bergantung pada pikiran dan emosi kamu. Jika tubuh kamu merasa sakit, tetapi kamu tetap berpikir positif dan yakin, maka otakmu akan memproduksi endorfin untuk membantu kesembuhamu.
  • Mengenali Emosi dan Pikiran-Pikiran Negatif
Emosi merupakan suatu hal yang tak terpisahkan dan telah menjadi bagian dalam diri manusia. Emosi negatif adalah reaksi emosional yang tidak menyenangkan dan mengganggu. Kamu bisa mulai belajar untuk memahami apa yang menjadi penyebab munculnya keluhan fisik, apakah memang berasal dari faktor psikologis, misalnya emosi negatif (marah, kecewa, sedih), cemas, serta pengalaman atas kejadian yang tidak menyenangkan, dan lain-lain.
ADVERTISEMENT
  • Mengelola stres
Stres memang dapat menjadi pemicu timbulnya berbagai macam penyakit. Namun, tahukah kamu bahwa stres yang dikelola dengan tepat dapat memberikan dampak positf, misalnya produktivitas. Oleh karena itu, penting untuk menemukan sumber stressor (pemicu munculnya masalah) sehingga kamu dapat mengelola serta menyalurkan stres dengan baik.
  • Meminta Bantuan
Jika keluhan yang kamu alami terjadi secara terus-menerus dan tidak kunjung membaik, maka segera periksakan dirimu ke tenaga kesehatan, baik dokter maupun psikolog.

Kesimpulan

Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa menjaga kesehatan mental adalah hal yang sangat penting. Hal ini dikarenakan kesehatan mental dapat memengaruhi berbagai aspek dalam diri seseorang, salah satunya kesehatan fisik. Dengan mental yang sehat kamu dapat mencapai kesehatan fisik, sehingga dapat menjalani hidup dengan baik dan menyenangkan. Selain itu, perlu adanya sikap mawas diri dan peka terhadap diri sendiri karena mau bagaimana pun diri sendirilah yang paling mengerti akan apa yang dialami dan dirasakan. Terakhir, jangan sungkan ataupun malu untuk meminta bantuan profesional, baik dokter maupun psikolog ya.
ADVERTISEMENT
Referensi:
Apriyani, R. (2018). Faktor-faktor Penyebab Psikosomatis pada Orang dengan Kecenderungan Psikosomatis. Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi, 6, 426-427.
Elvira. 2020. Pengaruh Perfeksionisme terhadap Kemunculan Simtom Psikosomatis yang Dimediasi oleh Keterhubungan Sosial. Skripsi. Surabaya: Universitas Airlangga.
Yustika, G. (2022, September 8). Serba-serbi Psikosomatis, Mulai dari Penyebab, Gejala, dan Pencegahannya. Orami.co.id. https://www.orami.co.id/magazine/psikosomatis
editor-avatar-0
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020