Konten dari Pengguna

Di Kampung Sri Rahayu, Purwokerto, Anak-Anak Tumbuh di Tengah Keterbatasan Ruang

Mutia Nur Azizah

Mutia Nur Azizah

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mutia Nur Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana Jalanan Kampung Sri Rahayu usai hujan (Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Jalanan Kampung Sri Rahayu usai hujan (Dokumentasi Pribadi)

Di sudut Purwokerto, anak-anak di Kampung Sri Rahayu tumbuh di lingkungan yang serba terbatas. Rumah kos yang sempit dan tekanan ekonomi keluarga membuat sebagian dari mereka lebih sering menghabiskan waktu di jalan daripada di ruang belajar. Mengamen dan mengemis perlahan menjadi bagian dari keseharian, dengan risiko putus sekolah yang terus membayangi, Minggu (23/1/2026).

Kondisi tersebut berlangsung di Kampung Sri Rahayu, RT 4/RW 10, Kelurahan Karangkelsem, Purwokerto Selatan. Lingkungan permukiman yang padat, keterbatasan ruang tinggal, serta tuntutan ekonomi membuat banyak orang tua kesulitan memberikan pengawasan dan pendampingan yang optimal bagi anak-anak mereka. Akibatnya, jalanan menjadi ruang aternatif yang mudah diakses, meski menyimpan berbagai risiko bagi tumbuh kembang anak.

Berbagai Ruang, Berkurang Pengawasa

Di Kampung Sri Rahayu, satu bangunan kos kerap dihuni oleh dua hingga tiga kepala keluarga. Keterbatasan ruang membuat aktivitas keluarga berlangsung dalam kondisi serba terbagi, termasuk dalam hal pengasuhan anak.

Ketua RT setempat, Bono, menyebut situasi tersebut telah berlangsung lama dan berdampak langsung pada kehidupan anak-anak di lingkungan tersebut.

"Mayoritas warga di sini ekonominya ke bawah. Banyak yang tinggalnya masih kos, satu bangunan bisa diisi beberapa kepala keluarga. pengawasan ke anak-anak jadi tidak maksimal," ujar Bono,

Dalam kondisi seperti itu, anak-anak tumbuh dengan minim aktivitas terarah. Sebagian bermain di sekitar lingkungan kampung, sementara sebagian lainnya mulai mengikuti aktivitas jalanan bersama teman, kakak, atau anggota keluarga.

Jalanan sebagai Rutinitas Harian

Berdasarkan pendapatan lapangan, tercatat 22 anak yang sepenuhnya hidup dijalanan dengan aktivitas utama mengamen dan mengemis. Selain itu, terdapat anak-anak yang masih bersekolah maupun yang telah putus sekolah, namun tetap rutin turun ke jalan.

Bono menilai, kebiasaan turun ke jalan sering kali bermula dari tekanan ekonomi, lalu berkembang menjadi rutinitas yang sulit dihentikan.

"Ada anak yang awalnya masih sekolah, tapi karena sering ikut ke jalan lama-lama jadi malas sekolah. Akhirnya berhenti," katanya

Hasil wawancara dengan anak-anak Kampung Sri Rahayu memperkuat temuan tersebut. mereka mengaku mengenal banyak teman sebaya yang terbiasa mengamen, dengan rentang usia mulai dari anak kecil hingga remaja. Uang yang diperoleh umumnya digunakan untuk membeli kebutuhan pribadi, seperti tas, botol minum, atau barang yang mereka inginkan. Hal ini menunjukan bahwa aktivitas jalanan telah menjadi bagian dari keseharian anak-anak, bukan semata pilihan darurat.

Staf Dinas Sosial Purwokerto Bidang Rehabilitasi Sosial (Dokumentasi Pribadi)

Pendekatan Sosial, Bukan Penertiban

Menanggapi fenomena anak jalanan, Dinas Sosial Kabupaten Banyumas menegaskan bahwa persoalan ini merupakan masalah kesejahteraan sosial yang menjadi tanggung jawab negara. Namun, penanganannya tidak dapat dilakukan secara instan atau sepihak.

Staf Dinas Sosial Kabupaten Banyumas, Wahyu, menjelaskan bahwa pihakanya bekerja berdasarkan data dan laporan dari masyarakat maupun wilayah.

"Kami tidak bisa langsung menarik anak dari jalanan. Penanganan harus berdasarkan data dan laporan. Pendekatan kami bukan penertiban, tetapi rehabilitasi sosial," ujar Wahyu.

Ia menjelaskan, program pendampingan rutin bagi anak jalanan sempat berjalan, namun terhenti sejak pandemi Covid-19 sekitar tahun 2020. Sejak saat itu, penanganan lebih banyak dilakukan secara kasus per kasus, misalnya ketika terdapat aduan masyarakat atau anak terjaring razia.

Jika anak telah terdata, Dinas Sosial melakukan penanganan sementara melalui rumah singgah dan rehabilitasi sosial, sebelum diupayakan dikembalikan ke keluarga atau wilayah asal.

Mindset dan Lingkungan Jadi Tantangan

Menurut Wahyu, tantangan terbesar dalam penanganan anak jalanan bukan hanya keterbatasan program, tetapi juga mindset anak dan lingkungan sekitar. Tidak sedikit anak yang merasa nyaman hidup dijalan dan enggan kembali ke sekolah, meskipun telah mendapatkan pembinaan.

Program pendidikan alternatif seperti kejar paket sebenarnya tersedia, namun tidak selalu diminati. Anak-anak kerap memilih tetap bekerja di jalan karena dapat memperoleh uang secara langsung.

"Perubahan itu tidak bisa instan dan tidak bisa hanya dari pemerintah. Harus ada kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, lembaga sosial, dan keluarga," kata Wahyu.

Harapan Pendampingan Berkelanjutan

Warga Kampung Sri Rahayu berharap penanganan anak jalanan tidak berhenti pada tindakan sementara, tetapi disertai pendampingan pendidikan dan penguatan lingkungan secara berkelanjutan. Mereka meyakini anak-anak masih dapat diarahkan jika mendapat dukungan yang konsisten.

"Kami berharap ada pendampingan, jangan cuma ditertibkan. Anak-anak ini sebenarnya masih bisa diarahkan kalau ada yang mendampingi," ujar Bono.

Kondisi di Banyumas menunjukan bahwa persoalan anak jalanan bukan semata persoalan ketertiban, melainkan persoalan struktural yang berkaitan dengan ekonomi keluarga, keterbatasan hunian, serta akses terhadap pendampingan sosial dan pendidikan. Melalui kolaborasi lintas sektor, warga berharap anak-anak dapat kembali memiliki ruang aman untuk tumbuh, belajar, dan menata masa depan.