Rupiah Tertekan, Suku Bunga Jadi Taruhan: Seberapa Besar Ruang Gerak BI?

Saya mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang, suka menulis dan membaca.
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Mutiara Nabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rupiah kembali menjadi perhatian ketika pasar global menunggu arah kebijakan The Fed. Di tengah tekanan nilai tukar, inflasi yang mulai meningkat, dan kebutuhan menjaga pertumbuhan, Bank Indonesia menghadapi pilihan yang tidak sederhana
Ada kalanya keputusan bank sentral terasa jauh dari kehidupan masyarakat. Namun, ketika suku bunga berubah dan nilai rupiah bergerak tajam, dampaknya dapat merembet ke berbagai sisi kehidupan: biaya pinjaman, harga barang impor, investasi, hingga daya beli masyarakat.
Situasi tersebut kembali menjadi perhatian pada September 2026.
Bank Indonesia masih mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen, sementara JISDOR pada 16 September 2026 berada di Rp17.712 per dolar AS. Pada saat yang sama, inflasi Indonesia pada Agustus tercatat 3,19 persen secara tahunan.
Di luar negeri, pasar sedang menunggu keputusan Federal Reserve atau The Fed. Perubahan arah suku bunga Amerika Serikat dapat memengaruhi pergerakan dolar, imbal hasil aset global, dan keputusan investor dalam menempatkan modalnya.
Pertanyaannya kemudian menjadi penting: seberapa besar ruang gerak Bank Indonesia untuk menjaga rupiah tanpa membuat pertumbuhan ekonomi ikut tertekan?
Ketika Rupiah Menjadi Perhatian
Nilai tukar rupiah bukan sekadar angka yang terlihat di layar perdagangan valuta asing.
Perubahan nilai rupiah dapat memengaruhi biaya barang dan bahan baku yang berasal dari luar negeri. Bagi perusahaan yang memiliki kebutuhan impor tinggi, pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya produksi.
Dampaknya juga dapat terasa pada masyarakat apabila kenaikan biaya tersebut kemudian memengaruhi harga barang dan jasa.
Karena itu, stabilitas rupiah merupakan salah satu perhatian penting dalam kebijakan moneter Bank Indonesia.
BI sendiri menggunakan berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Kebijakan tersebut tidak hanya melalui suku bunga, tetapi juga intervensi di pasar valuta asing dan pengelolaan likuiditas.
Data terbaru BI menunjukkan bahwa JISDOR pada 16 September berada di Rp17.712 per dolar AS.
Angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih menjadi bagian dari dinamika ekonomi yang perlu diperhatikan.
Namun, persoalannya tidak berhenti pada rupiah.
BI-Rate 5,75 Persen: Naik, Lalu Ditahan
Pada Juni 2026, Bank Indonesia menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Deposit Facility menjadi 4,75 persen, sedangkan Lending Facility menjadi 6,50 persen.
Dalam rapat berikutnya pada Agustus, BI memutuskan mempertahankan BI-Rate pada 5,75 persen. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa bank sentral masih menempatkan stabilitas nilai tukar dan inflasi sebagai pertimbangan penting, sambil tetap memperhatikan pertumbuhan ekonomi.
Suku bunga memang memiliki peran penting dalam perekonomian.
Ketika suku bunga meningkat, biaya pembiayaan dapat ikut meningkat. Dunia usaha mungkin menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil kredit untuk ekspansi. Masyarakat juga dapat mempertimbangkan kembali keputusan mengambil pinjaman.
Namun, suku bunga yang lebih tinggi juga dapat meningkatkan daya tarik aset keuangan dalam rupiah, terutama ketika investor membandingkan tingkat imbal hasil dengan negara lain.
Di sinilah dilema kebijakan moneter mulai terlihat.
Menjaga stabilitas membutuhkan kebijakan yang kredibel, tetapi ekonomi juga membutuhkan ruang untuk bergerak.
The Fed dan Efeknya ke Indonesia
Mengapa keputusan The Fed begitu diperhatikan di Indonesia?
Salah satu alasannya adalah karena investor global membandingkan tingkat keuntungan dan risiko berbagai aset di seluruh dunia.
Ketika suku bunga Amerika Serikat naik atau diperkirakan akan bertahan tinggi, aset berbasis dolar dapat menjadi lebih menarik bagi sebagian investor. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pada September 2026, perhatian pasar memang tertuju pada pertemuan The Fed. Reuters melaporkan bahwa pasar memperkirakan adanya kenaikan suku bunga, sementara investor juga menunggu sinyal mengenai arah kebijakan berikutnya.
Situasi tersebut penting bagi Indonesia karena perubahan arus modal dapat memberikan tekanan atau dukungan terhadap pasar keuangan dan rupiah.
Artinya, Bank Indonesia harus memperhitungkan apa yang terjadi di dalam negeri sekaligus membaca arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat.
Bukan berarti kebijakan Indonesia harus mengikuti The Fed.
Namun, keputusan The Fed merupakan salah satu faktor eksternal yang tidak bisa diabaikan.
Arus Modal Asing: Datang Bisa Membantu, Pergi Bisa Menekan
Dalam perekonomian terbuka, arus modal asing merupakan bagian penting dari dinamika pasar keuangan.
Ketika investor asing membeli aset Indonesia, permintaan terhadap aset dalam rupiah dapat meningkat. Sebaliknya, ketika investor menarik dananya, tekanan terhadap pasar keuangan dan nilai tukar dapat meningkat.
Karena itu, menjaga daya tarik pasar domestik menjadi salah satu bagian dari kebijakan Bank Indonesia.
BI sebelumnya telah memperluas insentif untuk mendorong masuknya modal asing, termasuk melalui kebijakan yang berkaitan dengan transaksi lindung nilai. Kebijakan tersebut bertujuan antara lain memperkuat pasar valuta asing dan mendukung stabilitas rupiah.
Perkembangan terbaru juga menunjukkan bahwa arus modal masih menjadi salah satu faktor pendukung rupiah. Sejumlah ekonom yang dikutip pada September 2026 menilai arus masuk modal yang relatif kuat melalui investasi langsung, pasar obligasi, dan instrumen seperti SRBI menjadi salah satu penopang eksternal bagi Indonesia.
Namun, modal asing juga memiliki karakter yang dinamis.
Investor dapat mengubah keputusan berdasarkan perubahan suku bunga global, risiko geopolitik, kondisi ekonomi, maupun prospek pasar.
Karena itu, ketahanan ekonomi tidak bisa hanya mengandalkan masuknya modal portofolio.
Inflasi Masih Dalam Sasaran, tetapi Tetap Perlu Diawasi
Persoalan lain yang membuat ruang gerak Bank Indonesia tidak bisa terlalu lebar adalah inflasi.
BPS mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen secara tahunan, dengan inflasi bulanan sebesar 0,21 persen.
Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi Bank Indonesia, yaitu 2,5 persen dengan deviasi 1 persen.
Namun, inflasi tetap penting diperhatikan karena berkaitan langsung dengan daya beli.
Bagi masyarakat, inflasi bukan sekadar angka statistik. Ketika harga kebutuhan meningkat, rumah tangga harus menyesuaikan kembali anggaran pengeluaran.
Jika pendapatan tidak bertambah sebanding dengan kenaikan harga, kemampuan masyarakat untuk menabung atau membeli barang lain dapat berkurang.
Karena itu, stabilitas harga menjadi salah satu alasan mengapa kebijakan moneter perlu dilakukan dengan hati-hati.
Di Sisi Lain, Ekonomi Tidak Boleh Kehabisan Napas
Bank Indonesia juga menghadapi kebutuhan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.
Suku bunga yang terlalu tinggi dalam waktu lama dapat membuat biaya pembiayaan menjadi lebih mahal. Kondisi tersebut dapat memengaruhi keputusan perusahaan untuk mengambil kredit, melakukan ekspansi, atau menambah investasi.
Bagi masyarakat, bunga pinjaman juga dapat memengaruhi keputusan konsumsi dan pembelian aset.
Karena itu, kebijakan moneter selalu memiliki konsekuensi yang perlu diperhitungkan.
Inilah alasan mengapa Bank Indonesia tidak hanya mengandalkan BI-Rate.
Bank sentral juga menggunakan kebijakan makroprudensial, operasi moneter, intervensi valuta asing, serta berbagai instrumen untuk menjaga likuiditas dan mendorong pembiayaan ekonomi.
Dengan kata lain, pertarungan menjaga ekonomi tidak dilakukan hanya melalui satu tombol bernama suku bunga.
Apakah BI Harus Menaikkan Suku Bunga Lagi?
Pertanyaan tersebut mungkin muncul ketika rupiah kembali menghadapi tekanan.
Namun, jawabannya tidak sesederhana “naik” atau “turun”.
Jika suku bunga dinaikkan, kebijakan tersebut dapat memberikan sinyal bahwa stabilitas menjadi prioritas. Akan tetapi, biaya pembiayaan juga berpotensi meningkat.
Sebaliknya, jika suku bunga diturunkan, biaya pembiayaan dapat lebih ringan dan memberikan ruang bagi aktivitas ekonomi. Tetapi, keputusan tersebut harus memperhitungkan kondisi rupiah, inflasi, serta respons pasar keuangan.
Karena itu, keputusan suku bunga perlu melihat berbagai indikator secara bersamaan.
Bahkan, pada September 2026 terdapat pandangan ekonom bahwa BI masih memiliki ruang untuk mempertahankan BI-Rate 5,75 persen karena inflasi berada dalam sasaran dan arus modal relatif kuat. Namun, pandangan tersebut merupakan analisis ekonom, bukan keputusan resmi Bank Indonesia. ([Indonesia Business Post][4])
Hal tersebut memperlihatkan bahwa arah kebijakan moneter masih menjadi ruang perdebatan berdasarkan perkembangan data.
Yang Dipertaruhkan Bukan Hanya Rupiah
Jika melihat persoalan secara lebih luas, yang dipertaruhkan sebenarnya bukan hanya nilai rupiah.
Ada daya beli masyarakat yang perlu dijaga.
Ada dunia usaha yang membutuhkan akses pembiayaan.
Ada perbankan yang harus tetap menjalankan fungsi intermediasi.
Ada investor asing yang mempertimbangkan risiko dan keuntungan.
Dan ada perekonomian nasional yang membutuhkan stabilitas sekaligus pertumbuhan.
Kelima hal tersebut saling berhubungan.
Rupiah yang terlalu bergejolak dapat memengaruhi inflasi. Inflasi dapat memengaruhi daya beli. Kebijakan suku bunga untuk menjaga stabilitas dapat memengaruhi biaya kredit. Sementara kondisi suku bunga dan prospek ekonomi dapat memengaruhi keputusan investor.
Karena itu, kebijakan moneter membutuhkan keseimbangan.
Ruang Gerak BI Masih Ada, tetapi Tidak Tanpa Batas
Kondisi ekonomi Indonesia saat ini menunjukkan bahwa Bank Indonesia masih memiliki sejumlah instrumen untuk menghadapi tekanan eksternal.
Cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 tercatat sekitar 146,5 miliar dolar AS, sementara inflasi masih berada dalam sasaran. BI-Rate juga telah berada pada 5,75 persen sejak Juni dan dipertahankan pada rapat Agustus.
Namun, tekanan eksternal tetap perlu diperhatikan.
Harga energi global, perkembangan geopolitik, pergerakan dolar AS, dan keputusan The Fed dapat berubah dengan cepat.
Artinya, ruang gerak Bank Indonesia memang ada, tetapi tidak tak terbatas.
Setiap keputusan memiliki konsekuensi.
Pada Akhirnya, Stabilitas Harus Bertemu Pertumbuhan
Perdebatan mengenai suku bunga sering kali disederhanakan menjadi pertanyaan: BI harus menaikkan atau menurunkan bunga?
Padahal, persoalan sebenarnya jauh lebih kompleks.
Yang perlu dilihat adalah bagaimana kebijakan tersebut berdampak terhadap rupiah, inflasi, arus modal, kredit, investasi, dan daya beli masyarakat.
Di tengah ketidakpastian global, Bank Indonesia tidak hanya dituntut untuk menjaga satu angka tetap stabil. Bank sentral perlu memastikan bahwa kebijakan moneter tetap mampu merespons tekanan eksternal sekaligus memberikan ruang bagi perekonomian domestik untuk berkembang.
Rupiah memang penting.
Suku bunga juga penting.
Arus modal asing pun penting.
Tetapi pada akhirnya, semua instrumen tersebut memiliki tujuan yang lebih besar: menjaga agar stabilitas ekonomi tidak berubah menjadi beban bagi pertumbuhan, dan pertumbuhan tidak mengorbankan stabilitas.
Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bukan hanya “BI harus menaikkan atau menurunkan suku bunga?”
Melainkan:
“Bagaimana Bank Indonesia dapat menjaga rupiah tetap stabil, inflasi tetap terkendali, dan ekonomi tetap memiliki ruang untuk tumbuh di tengah dunia yang semakin tidak pasti?”
Itulah pertaruhan sebenarnya.
