Batik Sora, Karya Tersembunyi dari Desa Ngadipuro dengan Kualitas Mengesankan

Mahasiswa FISIP Universitas Brawijaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Mutiara Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Blitar - Di tengah gempuran batik printing yang membanjiri pasar, Desa Ngadipuro menyimpan satu kekayaan budaya yang justru masih jarang diketahui masyarakat luas, Batik Sora. Batik tulis hasil karya tangan warga desa ini memiliki ciri khas yang membedakan dari batik-batik lainnya, yaitu motif bunga pudak yang tumbuh subur di kawasan Pantai Pudak dan menjadi identitas visual utama Desa Ngadipuro, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.
Batik sora bukan sekedar usaha rumahan biasa, batik ini dirintis sejak tahun 2018 dan kini berjalan di bawah naungan Badan Usaha Milik desa (BUMDes) desa Ngadipuro. Menjadikannya bagian dari upaya desa dalam menghidupkan ekonomi lokal lewat pemberdayaan kerajinan tangan warga. Proses produksinya sendiri masih berpusat di rumah pribadi Ibu Titin, pemilik sekaligus pengelola Batik sora yang selama bertahun-tahun menjadi motor penggerak usaha ini.
Perjuangan di Balik Selembar Kain
Perjalanan Batik Sora tidak selalu mulus, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah menyusutnya jumlah pengrajin, dari yang semula 10 orang kini tersisa hanya 2 orang. Pemilik Batik Sora mengaku sempat melakukan pembinaan mandiri untuk mempertahankan tenaga kerja, namun upaya tersebut belum sepenuhnya berhasil.
“Dengan berkurangnya tenaga pengrajin sebenarnya tidak menjadi masalah, karena Batik sora bisa bekerja sama dengan pengrajin lain,” Ujar Ibu Titin.
Beliau menambahkan bahwa penggunaan canting elektrik, alat yang tidak sepenuhnya manual, turut membantu mengatasi keterbatasan tenaga kerja tersebut. Sebagai bukti, beliau menceritakan pengalaman menyelesaikan pesanan sebanyak 9 lembar batik dengan 2 perajin dalam waktu 15 hari. Bagi Ibu Titin, Pengalaman ini juga menjadi cara untuk mengubah pola pikit masyarakat sekitar tentang keberlangsungan usaha batik di desanya, meski dengan keterbatasan yang ada.
Antara Minat pasar dan Keraguan Melangkah ke Digital
Sampai saat ini, Batik Sora masih setia dengan cara lama dalam berjualan. Bukan tanpa alasan, Batik Sora merupakan batik tulis asli, sehingga pemilik Batik Sora merasa belum cocok bila langsung terjun ke platform aplikasi seperti shopee, tokopedia dan lainnya. Ibu Titin mengaku lebih tertarik menjajaki marketplace berbasis website, yang menurut beliau lebih pas dengan karakter produk buatan tangan seperti Batik Sora.
Dari selembar kain yang digoreskan dengan tangan hingga motif bunga pudak yang menjadi ciri khasnya, Batik sora adalah bukti bahwa kualitas tak selalu berjalan beriringan dengan popularitas. Di balik keterbatasan tenaga pengrajin dan sentuhan digital yang belum maksimal, tersimpan potensi besar yang menunggu waktu untuk benar-benar terkenal luas. Dengan dukungan yang tepat baik dari BUMDes, pemerintah desa, maupun masyarakat bukan tidak mungkin Batik Sora akan segera keluar dari bayang-bayang statusnya sebagai “Permata tersembunyi” dan menjelma menjadi kebanggan Desa Ngadipuro yang dikenal masyarakat luas.
