Konten dari Pengguna

Mindfulness: Mengasah Mental untuk Masa Depan

Mutiara Zalza

Mutiara Zalza

Mahasiswa Universitas Brawijaya Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mutiara Zalza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

kesehatan mental dalam menggapai masa depan. source: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
kesehatan mental dalam menggapai masa depan. source: pexels.com

Mindfulness? Masa Depan? Apa hubungannya? Mari kita simak!

Mindfulness pada dasarnya memiliki arti sebagai perhatian terhadap keterbukaan, keingintahuan, dan fleksibilitas. Mindfulness tentu melibatkan kesadaran akan pengalaman dari waktu ke waktu secara jelas. Kalah? Coba lagi. Menang? Berusaha untuk semakin baik. Gagal? Bukan akhir dari segalanya. Hal ini membuktikan bahwa keterbukaan terhadap realitas saat ini, dengan menerima semua emosi, pikiran, serta kesadaran tanpa melawan dan menghindari.

Masa remaja menjadi masa dimana seorang individu mulai mencari tahu jati diri, perasaan diri atau sense of self dan identitas pribadi. Mereka mulai melakukan eksplorasi mengenai apa saja nilai-nilai pribadi, tujuan, dan kepercayaan. Pada masa ini pula, remaja akan memeriksa dan mengetahui kembali identitasnya dan muncul perasaan untuk mencoba mencari tahu siapa dirinya yang sesungguhnya. Untuk memahami Mindfulness kita harus berpikir secara mendalam, kesejahteraan mental menjadi hal utama dalam menghadapi masa depan (Waney et al., 2020). Kesejahteraan mental merupakan sebuah keadaan dimana seseorang tidak hanya bebas dari stres (masalah mental) tetapi kesejahteraan mental dalam kondisi mental yang sehat dan berfungsi secara optimal. (Ryff & Keyes, 1995) menjelaskan bahwa kesejahteraan psikologis terbagi menjadi 5, yaitu:

  1. Individu mempunyai kualitas hubungan yang baik dan positif terhadap orang lain. Dalam hal ini, tentu seseorang harus memiliki hubungan yang baik dan positif terhadap orang lain, bare minimum sudah bukan hal tabu. Dengan berhubungan baik dengan orang lain menjadikan kita tidak memiliki masalah dengan orang lain.

  2. Mampu mengelola lingkungan dengan baik. Lingkungan yang baik, akan menghasilkan pribadi yang baik. Ingat dengan kutipan tersebut? Betul adanya, dengan kita mengelola lingkungan sekitar dengan baik, maka akan berbalik dengan baik kepada kita. Lingkungan tersebut tidak hanya berupa teman, melainkan lingkungan kerja yang bagus dan nyaman tentu akan berbuah baik.

  3. Kemampuan individu menerima dirinya sendiri. Hal ini tentu sulit untuk dilakukan, namun dengan berpikir secara mindfulness hal tersebut tentu dapat terlewati. Mindfulness memiliki kecenderungan untuk menghindari pikiran dan emosi yang menyakitkan, memungkinkan seseorang untuk menghadapi kebenaran dari pengalaman, bahkan ketika pengalaman tersebut tidak menyenangkan. Secara bersamaan, mindfulness mencegah individu untuk menyerap dan mengenali perasaan dan pikiran negatif secara berlebihan. Jika seseorang belum menerima dirinya sendiri, lantas bagaimana melanjutkan kehidupan yang tidak selalu menyenangkan ini?

  4. Memiliki tujuan hidup. Topik ini sensitif bagi semua individu. Namun, siapa yang tidak memiliki tujuan hidup? Tidak ada. Semua orang memiliki tujuan hidupnya sendiri, maka dengan itu kita harus berpikir secara mindful untuk mewujudkan tujuan hidup tersebut.

  5. Serta menjadi pribadi yang mandiri. Mandiri. Satu kata namun memiliki arti yang sangat dalam. Seseorang yang mandiri tentu akan mudah dalam menjalankan persoalan dan permasalahan yang dihadapi, termasuk dalam menghadapi masa depan.

Mindfulness memberikan ruang bagi mental, dengan begitu individu memiliki kebebasan untuk memilih cara untuk merespon terhadap situasi tertentu. Stahl dan Goldstein (2010) membagi praktik mindfulness kedalam dua kategori, yaitu praktik formal dan informal.

ilustrasi praktik formal mindfulness. source: pexels.com

Praktik formal sama dengan melakukan meditasi dengan posisi duduk, seperti dengan kesadaran bernapas yang memiliki arti bagaimana segala sesuatu berubah dapat berubah dalam hidup, lalu kesadaran sensasi dengan menyadari setiap sensasi yang ada, selanjutnya kesadaran atas apa yang didengar seperti apapun yang didengar cobalah untuk tidak menilai baik atau buruknya, lalu kesadaran terhadap pikiran dan emosi yang tentunya kita tidak jarang mengalaminya terlebih memikirkan masa depan, last but not least kesadaran yang tidak dipilih ialah kesadaran pada situasi saat ini yang dimana seseorang hanya terpaku pada saat ini tanpa ada usaha untuk memperbaiki esok hari.

source: pexels.com

Selanjutnya, praktik informal mindfulness dengan kebiasaan dan perilaku sehari-hari, yaitu seperti minum kopi di pagi hari, mandi, dan mengenakan pakaian. Tidak jarang kita sering memikirkan masa depan hanya dengan kita melakukan aktivitas seperti mandi, bukan?

Seni dari berikap dan pemikiran Mindfulness adalah kemampuan seseorang untuk memiliki kendali penuh atas dirinya, kemampuan untuk menilai baik buruknya pribadi, kesadaran akan apa yang terjadi saat ini, mampu berpikir secara luas dan merespon dengan kesadaran penuh serta berhenti menghakimi keadaan diri sendiri serta orang lain, dan menerima apa yang terjadi saat ini dan tetap berusaha untuk tetap memiliki pikiran yang lebih terbuka, waspada dan tentunya menyadari keadaan saat ini.

Daftar Pustaka

Noviyana, D. A., Panduwinata, V., & Asbari, M. (2023). Literaksi : Jurnal Manajemen Pendidikan Berpikir Mindfulness : Seni Mengelola Kesehatan Mental ? 01(01), 63–66.

Ryff, C. D., & Keyes, C. L. M. (1995). The structure of psychological well-being revisited. Journal of Personality and Social Psychology, 69(4), 719–727. https://doi.org/10.1037/0022- 3514.69.4.719.

Stahl, B., & Goldstein, E. (2010). A mindfulness-based stress reduction workbook (a new harbinger self-help workbook). New Harbinger Publications.

Waney, N. C., Kristinawati, W., & Setiawan, A. (2020). MINDFULNESS DAN PENERIMAAN DIRI PADA REMAJA DI ERA DIGITAL MINDFULNESS AND ADOLESCENTS ’ SELF -ACCEPTANCE IN THE DIGITAL. 22(2), 73–81.

Mutiara Zalza, Universitas Brawijaya.