Konten dari Pengguna

Merawat Nurani, Membangun Negeri: Refleksi Insan PU di MTQ Korpri

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mutri Batul Aini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kafilah Kementerian PU pada Saat Defile Menuju Lapangan Karebosi Kota Makassar untuk mengikuti Kegiatan Pembukaan MTQ Korpri ke VIII
zoom-in-whitePerbesar
Kafilah Kementerian PU pada Saat Defile Menuju Lapangan Karebosi Kota Makassar untuk mengikuti Kegiatan Pembukaan MTQ Korpri ke VIII

Fondasi Spiritual di Balik Pundak Abdi Negara

Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah ujung tombak penyelenggara negara. Di tangan merekalah berbagai layanan publik, fasilitas, dan infrastruktur dirajut, dengan masyarakat Indonesia sebagai penerima manfaat utamanya. Di tangan mereka pula, keringat rakyat yang terhimpun melalui pajak dikelola dalam wujud APBN dan APBD. Amanah ini bukan perkara remeh; maju mundurnya bangsa serta sejahtera atau tidaknya masyarakat sangat ditentukan oleh integritas ASN dalam mengelola roda pemerintahan.

Menjawab beban amanah tersebut, pemerintah terus mendorong penguatan kualitas sumber daya manusia aparatur. Nilai dasar (core values) BerAKHLAK (Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif) yang dilandasi oleh Surat Edaran Menteri PANRB Nomor 20 Tahun 2021 serta diakselerasi melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara, menjadi pedoman baku pembentukan karakter ASN modern. Tak hanya itu, penegakan integritas juga diperketat melalui instrumen disiplin seperti Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2021 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.

Namun, apakah sederet regulasi, kode etik formal, dan sistem pengawasan administratif semata cukup menjamin lahirnya pribadi aparatur yang berintegritas utuh?

Sebagai bangsa yang berlandaskan Pancasila—dengan meletakkan “Ketuhanan yang Maha Esa” pada sila pertama—nilai spiritualitas sejatinya adalah jangkar moral yang paling hakiki. Regulasi lahiriah membutuhkan pengawas eksternal, tetapi keimanan menumbuhkan pengawas internal yang tak pernah tidur. "...Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Hadid: 4)

Secara ilmiah, McCullough dan Willoughby (2009) dalam kajiannya menuliskan bahwa keimanan personal adalah stimulan terbaik bagi fungsi kontrol diri (self-control). Nilai spiritual membantu individu memonitor perilakunya secara mandiri, menyediakan standar moral yang konsisten, dan melatih daya tahan moral untuk menolak kepuasan jangka pendek demi tujuan spiritual jangka panjang.

Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW:

“...Ketahuilah bahwa dalam setiap tubuh terdapat segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka baik pula seluruh badannya, namun jika segumpal daging itu rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah gumpalan darah itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pendekatan keimanan bukan lagi sekadar pelengkap seremonial, melainkan kebutuhan mendasar dalam membangun mentalitas birokrasi yang bersih dan melayani.

MTQ Korpri: Inkubator Karakter Berbasis Al-Qur’an

Perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Korpri Tingkat Nasional yang digelar di Sulawesi Selatan—berpusat di Kota Makassar dan Kabupaten Pangkep pada 23–29 Agustus 2026 lalu—menghadirkan ruang perenungan yang mendalam. Forum akbar ini semestinya tidak direduksi menjadi panggung adu gengsi antar-kementerian, lembaga, maupun pemerintah daerah. Lebih dari sekadar perebutan trofi atau eksistensi instansi, MTQ Korpri adalah ikhtiar untuk menginternalisasi nilai-nilai universal Al-Qur’an ke dalam sanubari para birokrat.

Selama ini, narasi seputar birokrasi kerap dibayangi stigma negatif: citra kerja santai, titip absen lalu mangkir, inefisiensi anggaran, hingga jeratan tindak pidana korupsi. Kehadiran kafilah ASN dari Sabang sampai Merauke di tanah Celebes membalikkan persepsi tersebut.

Di mimbar-mimbar musabaqah, kita menyaksikan wajah lain dari birokrasi Indonesia. ASN bukan hanya figur di balik meja berkas, melainkan insan yang fasih melantunkan ayat suci, tekun menghafalkan kalam Ilahi, piawai menggoreskan keindahan kaligrafi, hingga mampu berdakwah dan mengulas kandungan Al-Qur’an secara bernas. Keahlian ini membuktikan bahwa profesionalitas teknis dan kedalaman religiositas tidak pernah berseberangan, melainkan saling menopang.

Peserta dari Kafilah Kementerian PU pada MTQ Korpri ke VIII

Membangun Negeri dan Merawat Nurani: Langkah Kafilah Kementerian PU

​Komitmen internalisasi nilai Qur’ani tersebut terefleksi nyata dalam langkah Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pada MTQ Korpri Tingkat Nasional VIII 2026. Di tengah rutinitas pekerjaan pembangunan infrastruktur, Kementerian PU hadir mengirimkan kafilah sejumlah 20 peserta terbaiknya untuk berlaga di 14 cabang lomba. Kehadiran delegasi ini menjadi penegasan bahwa insan PU tidak hanya bergelut dengan besi dan beton, tetapi juga berupaya menjaga integritas moral.

Jika suatu konstruksi yang kokoh bermula dari kalkulasi yang presisi; demikian pula moral aparatur, harus berpijak pada nilai kebenaran (haqq) dan kejujuran yang diajarkan Al-Qur'an. Tanpa landasan spiritual, infrastruktur semegah apa pun berisiko runtuh akibat celah kelalaian moral, manipulasi, ataupun ketidakadilan pemanfaatan.

Membawa Ruh Al-Qur’an ke Meja Pelayanan

Penyelenggaraan MTQ Korpri pada akhirnya adalah ikhtiar pembinaan SDM aparatur yang berakar pada penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Keberhasilan keikutsertaan dalam perhelatan akbar di Makassar dan Pangkep ini tidak diukur dari seberapa banyak piala yang dibawa pulang ke instansi asal, melainkan seberapa besar nilai Al-Qur’an itu tetap kokoh saat kita kembali ke meja kerja.

Karakter jujur (shiddiq), tanggung jawab (amanah), transparan (tabligh), dan cerdas melayani (fathonah) adalah nilai Al-Qur’an yang selaras dengan semangat BerAKHLAK. Ketika ayat-ayat yang dilantunkan bertransformasi menjadi pelayanan publik yang andal, cepat, dan penuh empati, saat itulah tercapai esensi pembentukan ASN yang berintegritas.