Konten dari Pengguna

Tiga Kunci Peningkatan Layanan Inklusif Ramah Difabel pada Perpustakaan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mutri Batul Aini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemustaka sedang membaca buku braille (sumber: Perpustakaan Nasional RI)
zoom-in-whitePerbesar
Pemustaka sedang membaca buku braille (sumber: Perpustakaan Nasional RI)

Pernahkah kita datang ke sebuah perpustakaan, tetapi kesulitan menemukan pintu masuk, tidak leluasa bergerak di antara rak, atau tidak dapat menikmati koleksi yang tersedia? Bagi sebagian orang, hal-hal tersebut mungkin tampak sepele. Namun, bagi penyandang disabilitas, hambatan kecil dalam lingkungan perpustakaan dapat menjadi persoalan besar yang menentukan apakah mereka dapat mengakses materi perpustakaan secara mandiri atau tidak.

Bayangkan jika ada pengguna kursi roda yang hendak memasuki perpustakaan. Apakah ia dapat masuk ke gedung dan lantai yang dituju dengan mudah? Bagaimana jika harus berpindah dari satu rak ke rak lainnya? Apakah meja, kursi, toilet, dan meja layanan telah mempertimbangkan kebutuhan pengguna dengan ragam disabilitas yang berbeda?

Di sinilah kita perlu melihat kembali makna perpustakaan sebagai ruang publik. Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan dan meminjam buku, melainkan ruang untuk belajar, mencari informasi, bekerja, dan berinteraksi. Karena itu, manfaatnya semestinya dapat dirasakan oleh semua orang, termasuk penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya.

Membangun perpustakaan yang inklusif tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas khusus. Ada setidaknya tiga hal yang perlu berjalan bersama: sarana prasarana yang aksesibel, koleksi yang ramah bagi beragam kebutuhan, dan pustakawan yang memiliki kompetensi serta sikap pelayanan yang tepat. Ketiganya saling melengkapi.

Aksesibilitas Perpustakaan Mendukung Disabilitas

Aksesibilitas bukan sekadar menyediakan jalur landai atau ramp, tetapi juga memastikan keseluruhan ruang dapat digunakan dengan aman, nyaman, dan semandiri mungkin.

Beberapa fasilitas yang dapat menjadi perhatian antara lain jalan masuk yang tidak licin dan dilengkapi pegangan, tempat parkir yang mudah dijangkau, guiding block bagi penyandang disabilitas netra, pintu dengan lebar yang memadai, serta lift yang dilengkapi penanda dan tombol yang aksesibel. Toilet, penataan jarak antar-rak, tinggi rak, hingga meja layanan juga perlu menjadi perhatian khusus.

Dalam konteks bangunan gedung, ketentuan pada Peraturan Menteri PUPR Nomor 14/PRT/M/2017 tentang Persyaratan Kemudahan Bangunan Gedung dapat menjadi salah satu rujukan. Namun, lebih dari sekadar memenuhi ketentuan, yang perlu kita bangun adalah cara pandang bahwa aksesibilitas merupakan bagian dari kualitas layanan, bukan tambahan yang diberikan hanya jika tersedia anggaran.

Koleksi Perpustakaan Ramah Difabel

Setelah ruangnya dapat diakses, pertanyaan berikutnya adalah: apakah informasi di dalamnya juga dapat dinikmati oleh semua pengguna?

Perpustakaan yang inklusif perlu memikirkan keragaman format koleksi. Bagi penyandang disabilitas netra, misalnya, buku braille, tactile picture book, atau audiobook dengan format yang aksesibel dapat menjadi pilihan penting. Bagi pengguna dengan hambatan penglihatan atau low vision, teknologi bantu seperti kaca pembesar atau magnifying reader dapat membantu mereka membaca.

Sementara itu, koleksi audiovisual yang dilengkapi teks atau subtitle akan lebih mudah diakses oleh pengguna tunarungu. Perpustakaan juga dapat mempertimbangkan koleksi yang mendukung kebutuhan anak-anak dengan autisme, ADHD, ADD, disgrafia, disleksia, maupun diskalkulia.

Tentu, tidak semua perpustakaan harus langsung menyediakan seluruh jenis koleksi dan teknologi tersebut. Setiap perpustakaan memiliki kondisi, anggaran, dan karakteristik pengguna yang berbeda. Karena itu, menurut saya, langkah yang lebih bijak adalah melakukan need assessment terlebih dahulu, kemudian menentukan prioritas berdasarkan kebutuhan nyata pemustaka. Kita dapat memulai dari hal yang paling dibutuhkan, kemudian mengembangkannya secara bertahap.

Ragam alat bantu untuk penyandang disabilitas di perpustakaan (sumber: Perpustakaan Nasional RI)

SDM Pustakawan Ramah Difabel

Di antara gedung dan koleksi, ada satu unsur yang tidak kalah penting: pustakawan. Sebagus apa pun fasilitas yang tersedia, pengalaman pengguna tetap sangat dipengaruhi oleh cara pustakawan berinteraksi dan memberikan layanan.

Kompetensi pertama yang perlu dikuasai adalah kemampuan memahami kebutuhan pengguna tanpa berasumsi. Ketika bertemu dengan penyandang disabilitas, kita tidak seharusnya langsung berinisiatif membantu hanya karena melihat kondisi fisik atau ragam disabilitasnya. Niat membantu memang baik, tetapi bantuan yang tidak sesuai kebutuhan justru dapat membuat pengguna merasa tidak nyaman.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan? Mulailah dengan menyapa dan bertanya secara sopan, misalnya, “Apakah ada yang dapat saya bantu?” atau “Bantuan seperti apa yang Bapak/Ibu perlukan?” Pertanyaan sederhana ini membuka ruang bagi pengguna untuk menyampaikan kebutuhannya sendiri. Dari sana, pustakawan dapat memberikan bantuan yang tepat, bukan sekadar bantuan yang menurut kita diperlukan.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah berkomunikasi langsung dengan penyandang disabilitas, bukan hanya kepada pendampingnya. Jika seorang difabel datang bersama pendamping, bukan berarti pendamping tersebut menjadi pihak utama yang harus diajak berbicara. Pengguna tetap memiliki hak untuk didengar, ditanya, dan dilibatkan secara langsung.

Pada akhirnya, kita juga perlu belajar menghormati keputusan pengguna. Ada kalanya seseorang membutuhkan bantuan, tetapi ada pula saat ia ingin melakukan sesuatu secara mandiri. Ketika bantuan ditolak, kita tidak perlu tersinggung atau memaksakan kehendak. Menghormati pilihan tersebut justru merupakan bagian dari pelayanan yang bermartabat.

Prinsipnya sederhana: tidak semua orang membutuhkan perlakuan yang sama, tetapi setiap orang berhak memperoleh kesempatan yang setara untuk mendapatkan manfaat layanan. Karena itu, layanan inklusif bukan berarti memperlakukan semua pengguna dengan cara yang seragam, melainkan memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Terakhir yang tidak kalah penting, jangan merancang layanan hanya dari persepektif kita sebagai pustakawan. Libatkan penyandang disabilitas dalam mengidentifikasi kebutuhan, merencanakan, dan mengevaluasi layanan. Sebab, siapa yang paling memahami hambatan yang mereka alami, jika bukan mereka sendiri? Ungkapan mereka bahwa "nothing about us without us" memang benar adanya.