Buku Agenda Ramadhan Sekolah Tetap Eksis di Era Digital

Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Peradaban. Aktif menulis isu pendidikan dan sosial.
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Iwan Muzaki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah era digital 2026, buku Agenda Kegiatan Ramadan yang disediakan oleh pihak sekolah masih menjadi bagian penting dalam kegiatan kuliah subuh di Musholla Al-Ikhlas Tegong, Desa Taraban.
Setiap pagi selama Ramadan, anak-anak datang membawa buku agenda mereka. Di dalamnya tercatat rangkaian aktivitas ibadah, mulai dari salat berjamaah, tadarus, hingga kehadiran dalam kajian subuh. Buku tersebut bukan sekadar administrasi, tetapi bentuk kontrol sekaligus pembiasaan.

Kegiatan kuliah subuh ini mempertemukan berbagai generasi dalam satu ruang. Anak-anak duduk berdampingan dengan para orang tua dan sesepuh desa, menyimak tausiyah yang disampaikan secara sederhana namun penuh makna.
Menariknya, tradisi pencatatan manual ini tetap bertahan di tengah dominasi sistem digital. Buku fisik justru menjadi medium pembelajaran yang konkret bagi anak-anak, mereka belajar disiplin, tanggung jawab, dan konsistensi melalui kebiasaan mencatat serta menghadiri kegiatan secara rutin.
Kehadiran mahasiswa KKN dalam kegiatan tersebut menjadi bentuk dukungan moral dan partisipasi sosial. Mereka ikut membersamai, mendokumentasikan, dan merasakan langsung bagaimana tradisi keagamaan desa tetap hidup melalui peran sekolah dan masyarakat.
Kuliah subuh di Musholla Al-Ikhlas Tegong bukan sekadar rutinitas Ramadan. Ia menjadi ruang pendidikan karakter, tempat nilai diwariskan, kebiasaan dibangun, dan generasi muda dilibatkan secara nyata dalam kehidupan keagamaan desa.
