Krisis Keteladanan di Puncak Kekuasaan: Ancaman Bagi Pendidikan?

Mahasiswi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Defa Suci Muzdalifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Ing ngarso sung tulodo” merupakan salah satu dari tiga filosofi kepemimpinan dalam dunia pendidikan yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Kalimat ini memiliki arti “Di depan memberi teladan”. Hal ini bermakna sebagai penekanan bagi pemimpin maupun pendidik untuk dapat menjadi figur keteladanan bagi peserta didik. Karena pada hakikatnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya terletak pada sejauh mana kemampuan akademik peserta didik. Akan tetapi, sejauh mana pula keberhasilan dalam pembentukan karakter peserta didik. Pembentukan karakter tidak hanya lahir melalui teori yang disampaikan dalam ruang kelas. Namun, pembentukan tersebut banyak dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat di lingkungan sekitarnya.
Dikutip dari ntt.kemenag.go.id, terdapat penelitian yang menyatakan bahwa faktor yang paling berpengaruh dalam pembentukan karakter peserta didik adalah melalui panca indra yang menyaksikan kejadian sekitar. Prof. Dr. Ahmad Mubarok, MA menyimpulkan 83% anak akan terpengaruh oleh apa yang dilihatnya, 11% terpengaruh terhadap apa yang didengar, dan 6% dipengaruhi oleh stimulus (rangsangan). Data tersebut menjadi bukti bahwa apa yang dilihat anak di sekitarnya senantiasa akan tertanam dalam kepribadian anak. Karena pada hakikatnya anak adalah peniru ulung. Mereka menjadikan sekitarnya sebagai acuan untuk berperilaku.
Ruang belajar bukan hanya kelas, mencakup pula ruang teknologi yang tak terbatas
Kemajuan teknologi membuka luas ruang bagi peserta didik untuk menerima berbagai pengetahuan dan informasi. Tanpa batas ruang dan waktu, peserta didik dapat dengan mudah menyaksikan sesuatu melalui gawai yang dipegangnya. Berbeda dengan ruang kelas yang terdapat guru sebagai pengawas dan pengarah, teknologi internet seringkali diselancari tanpa adanya pengawasan dan pengarahan. Hal ini memungkinkan peserta didik untuk menyaksikan dan menerima berbagai hal tanpa penyaringan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), sekitar 67,65% hingga 93% anak sekolah dan remaja di Indonesia aktif menggunakan media sosial. Menjadi sebuah kekhawatiran yang besar bagi pendidikan Indonesia perihal bagaimana media sosial dapat melampaui ruang kelas dalam signifikansi pengaruhnya terhadap pembentukan karakter peserta didik.
Guru dapat terus mengerahkan usahanya untuk membentuk karakter peserta didik. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwasannya teknologi internet jauh lebih besar pengaruhnya terhadap pembentukan karakter. Internet menjadi ancaman yang besar dalam penurunan moralitas peserta didik. Terlebih lagi apabila konten yang dilihatnya didominasi oleh konten negatif yang membawa pengaruh buruk. Tentulah hal ini sangat mengacaukan keberjalanan fungsi ruang kelas sebagai sarana pembentukan karakter.
Krisis keteladanan di puncak kekuasaan dan dampaknya terhadap keberjalanan fungsi pendidikan
Akhir-akhir ini, banyak beredar di media sosial mengenai petinggi dan tokoh terhormat di negeri ini dalam berbicara yang dinilai kurang beretika. Beredar video pemimpin negeri ini yang berbicara di hadapan publik dengan cara bicara yang meledak-ledak dan penuh amarah. Kerap kali terselip pula umpatan pada kalimat yang diucapkannya. Hal ini tentulah memberikan persepsi negatif masyarakat terhadap apa yang dilakukannya. Padahal perlu diketahui bahwasannya di era teknologi digital saat ini, perilaku serta ucapan yang dilontarkan pemimpin berpeluang masif untuk menjadi konsumsi publik.
Melihat pada data yang telah tertera sebelumnya bahwa pengguna aktif media sosial sebagian besar adalah anak sekolah dan remaja, tentulah menjadi ancaman besar bagi pendidikan. Hal tersebut dapat menimbulkan persepsi pada anak mengenai cara berperilaku. Akan muncul dalam benak anak bahwasannya perilaku negatif tersebut saja dinormalisasikan oleh pemimpin negeri, lantas apa salahnya untuk menirunya?
Fenomena ini tentu saja mematahkan harapan guru yang telah berusaha untuk membentuk karakter para peserta didik melalui ruang kelas. Upaya mereka berpeluang besar dikalahkan oleh perilaku negatif yang dinormalisasikan pemimpin negeri dan tersebar luas di internet tersebut. Pemimpin negeri merupakan tokoh terhormat dengan kedudukan yang jauh lebih tinggi, sehingga peluang posisinya sebagai role model jauh lebih besar.
Bahkan perilaku nir-etika pemimpin negara yang tersebar luas tersebut mendapatkan respon dari seorang anak SD. Berdasarkan video yang diunggah melalui laman instagram sang ibu @qanitachic pada Rabu (15/7/2026), seorang anak bernama Sabiq mengutarakan tanggapannya terhadap perilaku pemimpin negara, bahwasannya seharusnya presiden mampu untuk menjaga tutur katanya. "Presiden nanya, presiden boleh ngomong kasar enggak? Ya enggaklah. Setiap kata yang kita ucapkan itu mencerminkan karakter kita. Emang benar sih, kan seorang pemimpin harusnya tegas menghadapi masalah, tetapi ketegasan kan seharusnya tidak harus ngomong kata kasar, apalagi di depan publik, di depan rakyat. Pemimpin yang baik itu seharusnya bisa menyampaikan kritik, peringatan, atau kemarahan dengan omongan yang tegas, jelas, dan juga bermartabat. Di ilmu public speaking, Sabiq belajar bahwa ucapan yang baik itu lebih mudah diterima jika disampaikan dengan bahasa yang baik. Seorang pemimpin itu memiliki tanggung jawab yang besar, karena setiap omongan yang dia ucapkan itu didengar oleh jutaan orang, thank you.". Tanggapan Saqib tersebut menjadi bukti kuat bahwasannya puncak tertinggi kekuasaan di negara ini masih sangat jauh dari keteladanan.
Perlunya dilakukan pembenahan dalam fokus negara terhadap moralitas
Kembali pada konteks teknologi yang semakin maju dan mudah untuk diakses, negara seharusnya dapat menyesuaikan keberlangsungannya. Perlu kembali ditekankan dengan kuat mengenai moralitas kepemimpinan. Sebagai figur teladan yang memiliki pengaruh kuat, seharusnya pemimpin dapat memposisikan dirinya sebagai seseorang yang memang layak untuk dijadikan role model. Ditambah dengan kemajuan teknologi yang membuat setiap perilakunya dapat dengan mudah menjadi konsumsi publik. Hal ini menjadi penekanan untuk dapat jauh lebih memperhatikan setiap perilaku dan ucapannya agar tetap bermoral dan layak untuk dijadikan teladan. Sehingga filosofi pendidikan “Ing ngarso sung tulodo” itu sendiri dapat berjalan dengan efektif dan tercapai tujuan yang ada di dalamnya.
