Mendidik dengan Hati, Jadilah Guru yang Penuh Empati

Mahasiswi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Defa Suci Muzdalifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika kita memutuskan untuk menjadi guru, hal ini mengharuskan kita untuk mengerahkan hati kita dalam proses mendidik murid. Jangan sampai guru membuat murid merasa terancam dan tertekan. Guru harus dapat menciptakan ruang yang aman dan nyaman bagi murid, sehingga membuat murid merasa jauh lebih percaya diri dan berani untuk mengembangkan potensi dalam dirinya.
Peran guru dalam dunia pendidikan bukan hanya mengajar dan menyampaikan materi. Guru juga perlu memahami, membimbing, dan menjadi teman yang baik bagi murid. Ketika menjalankan perannya, guru harus memastikan bahwa setiap tindakan yang dilakukannya diiringi oleh hati nurani yang hidup.
Jangan sampai guru hanya menggunakan intelektualnya saja dalam mengajar. Karena pada hakikatnya, pendidikan bukan hanya tentang proses transfer ilmu. Akan tetapi, pendidikan juga menyangkut bagaimana hubungan bermakna yang dapat kita bangun dengan peserta didik dan juga sejauh mana kita dapat menghadirkan kemanusiaan dalam proses mendidik.
Apabila kita hanya mengandalkan intelektual dalam menjalankan peran sebagai seorang guru, tentulah akan terjadi ketidakseimbangan dalam proses pengajaran yang kita lakukan. Tidak akan tercipta ikatan yang kuat antara guru dan murid. Guru harus dapat membuat murid merasa aman dan nyaman. Hal ini dikarenakan rasa aman dan nyaman tersebutlah yang dapat secara perlahan menciptakan keharmonisan antara guru dan murid.
Rasa tersebut dapat kita tumbuhkan di antaranya dengan menjadi pendengar yang baik bagi murid, membantu mencarikan solusi permasalahan, memotivasi murid agar lebih semangat, menjadi teman yang baik bagi murid, menyayangi murid sepenuh hati dan lain sebagainya.
Hati Nurani sebagai Dasar Mendidik
Dalam memahami peserta didik, guru perlu untuk menghidupkan hati nuraninya. Guru harus membuat proses pengajaran diiringi oleh rasa kemanusiaan. Jangan sampai ada yang merasa tersingkirkan atau diremehkan. Ketika kita memutuskan untuk menjadi guru, artinya kita harus mengerahkan seluruh hati kita untuk menyayangi dan memahami peserta didik. Untuk sabar dalam memahami karakter setiap murid.
Jika guru melakukan perannya tanpa diiringi hati nurani, hal ini akan membuat suasana kelas terasa semakin mencekam. Kelas akan menjadi sangat kaku sebab dari guru yang hanya fokus pada akademik murid, tanpa keinginan untuk memahami pribadi setiap murid. Tanpa hati nurani, guru juga akan lebih memiliki keinginan untuk dipahami murid ketimbang memahami murid.
Pentingnya Seorang Guru untuk Memiliki Empati
Merupakan sebuah keharusan bagi guru untuk memahami pribadi, kondisi, dan latar belakang murid. Dengan begitu, guru akan memahami makna dari setiap tindakan yang dilakukan murid. Tentulah untuk dapat menerapkannya, guru perlu menghidupkan hati nurani dan kemanusiaannya. Tanpa hati nurani seorang guru, murid akan melihat guru sebagai sosok yang membuatnya takut.
Guru perlu menyertakan empati dan mengupayakan untuk memposisikan dirinya sebagai murid. Hal ini akan membuat guru jauh lebih memahami apa yang sedang dirasakan murid. Selain itu, membuat murid merasa dimengerti pula. Penyertaan empati dalam proses pembelajaran dapat membuat murid merasa nyaman. Sehingga tercipta ikatan yang harmonis antara guru dan murid.
Ketika suasana kelas terasa semakin nyaman, tekanan yang dirasakan murid akan semakin berkurang. Murid tak lagi merasa bahwasannya kelas dan guru merupakan suatu hal yang menakutkan. Mereka akan jauh lebih percaya diri untuk mengeksplorasi potensi dirinya dalam ruang kelas karena rasa nyaman tersebut.
Guru Tanpa Hati Nurani dan Empati Hanya Akan Menghadirkan Tekanan
Apabila guru tidak menggunakan hati nurani dan empatinya dalam menjalankan perannya, hanya akan menghadirkan tekanan kepada murid. Hubungan guru dengan murid akan menjadi kaku dan berjarak. Murid akan merasa bahwasannya guru adalah ancaman bagi dirinya.
Ketiadaan hati nurani dan empati pada guru juga hanya akan membuat guru mudah untuk melakukan penghakiman terhadap murid. Ketika melihat murid melakukan suatu hal yang dianggapnya kurang sesuai, guru akan langsung menghakimi tanpa melihat kondisi dan latar belakang apa yang menyebabkan murid melakukan hal tersebut. Tidak akan ada rasa kasih dan sayang dalam hubungan antara guru dan murid.
Penghakiman yang dilakukan oleh guru akan membuat murid merasa terancam dan tertekan. Mereka juga hanya akan hidup pada lingkup penghakiman dan label yang diberikan. Misalnya apabila terdapat murid yang tidak mau mengerjakan tugas, ketika guru langsung memberinya label sebagai seorang pemalas tentulah murid tersebut akan hidup pada label pemalas yang diberikan gurunya. Label malas tersebut akan merasuki dirinya dan membuatnya merasa bahwasanya memang dia merupakan seorang yang pemalas. Murid tersebut menjadi tidak memiliki motivasi untuk memperbaiki dan mengembangkan potensi diri yang dimilikinya.
Lain hal yang terjadi ketika guru memilih untuk menghadirkan hati nurani dan menghidupkan empati dalam membangun hubungan dengan murid, tentulah akan membuat murid merasa dirinya semakin dimengerti. Ketika terdapat hal dari murid yang dianggap kurang sesuai, guru akan mencari tahunya lebih dalam terlebih dahulu. Guru akan mencoba menggali dan memahami apa yang menjadi penyebab anak tersebut tidak mau mengerjakan tugas yang diberikan ketimbang langsung menghakiminya.
Ketika sudah menemukan alasan yang melatarbelakangi tindakan yang dilakukan oleh murid tersebut, guru akan perlahan membantu mencarikan solusi. Langkah selanjutnya dilakukan dengan pendekatan emosional yang dilakukan guru terhadap murid. Dengan empati, guru akan membantu murid tersebut untuk mencarikan solusi dan juga menanamkan motivasi pada diri sang murid. Hal ini akan membuat murid merasa jauh lebih percaya diri dan berani untuk menggali potensi lebih yang ada pada dirinya.
Menciptakan Ruang Kelas Aman dan Nyaman Tanpa Tekanan
Keberhasilan guru dalam menghadirkan hati nurani dan empati dalam proses pengajaran tentulah akan menciptakan ruang kelas yang aman dan nyaman bagi para murid. Tak akan ada lagi tekanan yang mengancam dan membuat murid merasa takut. Semakin guru memberikan ruang aman dan nyaman bagi murid, semakin besar pula rasa percaya diri dan antusiasme yang akan tumbuh dari diri murid. Dengan begitu, guru telah berhasil menciptakan kemanusiaan dalam proses pengajaran.
