Konten dari Pengguna

Tanggal Tua Yang Tak Pernah Absen Di Kehidupan Mahasiswa

MUHAMMAD WAHYU RAMADHAN

MUHAMMAD WAHYU RAMADHAN

Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UMY

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari MUHAMMAD WAHYU RAMADHAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Warmindo Babeh 3 (Sumber :  Muhammad Wahyu Ramadhan)
zoom-in-whitePerbesar
Warmindo Babeh 3 (Sumber : Muhammad Wahyu Ramadhan)

Yogyakarta — Menjelang akhir semester, suasana yang serupa hampir selalu muncul di berbagai sudut kota pelajar. Kalender akademik memasuki fase padat, tenggat tugas saling berkejaran, sementara isi dompet mahasiswa justru menipis. Dalam periode akhir semester, kondisi ini kembali terlihat jelas. Tanggal tua bukan lagi sekadar istilah, melainkan rutinitas yang membentuk caramahasiswa bertahan hidup.

Di sekitar kawasan kampus, perubahan perilaku mahasiswa mudah diamati. Jam nongkrong dipersingkat, pilihan makan makin sederhana, dan ruang-ruang murah menjadi titik temu baru. Fenomena ini tidak berdiri sendiri, melainkan berulang dari tahun ke tahun dan dirasakan oleh banyak mahasiswa lintas kampus.

Akhir Semester dan Tekanan yang Berlapis Akhir semester selalu identik dengan meningkatnya beban akademik. Namun, di saat yang sama, kebutuhan hidup tidak ikut menunggu. Kiriman uang bulanan dari orang tua tidak selalu datang tepat waktu, sementara pengeluaran harian terus berjalan. Kombinasi inilah yang membuat tanggal tua terasa lebih berat. Raffan Maulidin (20), mahasiswa asal Jawa Barat, mengaku akhir semester menjadi fase paling menantang dalam perkuliahannya. “Tugas lagi banyakbanyaknya, tapi uang juga sudah mulai habis. Mau nggak mau harus lebih irit,” ujarnya.

Menurut Raffan, kondisi tersebut memaksanya menyesuaikan banyak hal, mulai dari frekuensi makan di luar hingga tempat mengerjakan tugas. Ia memilih ruang yang tidak menuntut pengeluaran lebih, tetapi tetap memungkinkan untuk berlamalama.

Ruang-Ruang Murah sebagai Penyangga Kehidupan Mahasiswa

Fenomena tanggal tua turut dirasakan oleh pelaku usaha kecil di sekitar kampus. Diki Pratama (25), pekerja warmindo di kawasan Yogyakarta, mengatakan bahwa akhir bulan dan akhir semester memiliki pola yang hampir sama dari tahun ke tahun.

“Kalausudahmasukakhirsemesterdan akhir bulan, pembeli biasanya turun. Mahasiswa yang datang juga lebih cepat, makan lalu pergi,” kata Diki. Meski jumlah pelanggan menurun, menu-menu sederhana tetap menjadi pilihan utama. Harga yang terjangkau dan porsi yang mengenyangkan menjadikan warmindo sebagai salah satu ruang penyangga bagi mahasiswa yang sedang menekan pengeluaran.

Di ruang seperti ini, mahasiswa tidak hanya mencari makan. Mereka datang dengan membawa laptop, buku catatan, dan beban pikiran yang sama: menyelesaikan semester dengan sumber daya yang terbatas.

Relasi Empati di Ruang Sehari-Hari

Muhammad Badaruddin (41), pelaku usaha warmindo di Yogyakarta, menilai mahasiswa bukan sekadar konsumen. Menurutnya, relasi yang terbangun selama ini lebih menyerupai hubungan sosial yang saling memahami.

“Mayoritas yang datang mahasiswa. Kami paham kalau akhir bulan itu berat buat mereka, jadi harga sebisa mungkin tetap,” ujarnya.

Badaruddin menyebut, menjaga harga dan pelayanan menjadi bentuk empati terhadap kondisi mahasiswa. Sikap tersebut bukan didasarkan pada strategi pemasaran, melainkan pengalaman melihat langsung keseharian mahasiswa yang bergantung pada ruang-ruang murah di sekitar kampus.

Ketika Tanggal Tua Dinormalisasi

Di kalangan mahasiswa, tanggal tua kerap dianggap sebagai bagian wajar dari kehidupan kampus. Cerita tentang bertahan hidup di akhir bulan sering dibagikan sebagai pengalaman kolektif, bahkan menjadi bahan candaan di antara sesama mahasiswa.

Namun, normalisasi ini menyimpan persoalan lain. Tekanan ekonomi jarang dibicarakan sebagai masalah struktural, melainkan diterima sebagai konsekuensi menjadi mahasiswa perantauan. Adaptasi dianggap satu-satunya pilihan.

“Semua teman juga ngalamin hal yang sama, jadi kayak sudah biasa,” kata Raffan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa mahasiswa dituntut untuk tetap produktif secara akademik di tengah keterbatasan ekonomi. Ruang-ruang murah hadir sebagai solusi praktis, meski tidak menyentuh akar persoalan.

Lebih dari Sekadar Akhir Bulan dan Akhir Semester

Tanggal tua pada akhir semester bukan hanya soal uang yang menipis. Ia berkaitan dengan tekanan akademik, kesehatan mental, dan strategi bertahan mahasiswa di kota pelajar.

Pada setiap periode akhir semester, pola ini kembali terlihat jelas dan berulang.

Di balik sepiring makanan sederhana dan ruang duduk yang seadanya, terdapat cerita tentang kompromi dan empati. Mahasiswa belajar mengelola keterbatasan, sementara pelaku usaha kecil ikut menjadi bagian dari ekosistem yang menopang kehidupan kampus.

Fenomena tanggal tua memperlihatkan sisi lain kehidupan mahasiswa Yogyakarta realitas yang jarang terlihat di ruang kelas, tetapi nyata dijalani setiap akhir semester. Akhir semester pun tidak hanya menjadi penanda akademik, melainkan juga ujian daya tahan bagi mereka yang sedang menempuh pendidikan tinggi di kota pelajar.