Mengenal Lebih Dekat Sosok Putu Wijaya

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tulisan dari Muhammad Yogha Cahya Pangestu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pria yang memiliki nama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya lahir pada tanggal 11 April 1944 di Puri Anom, Tabanan, Bali. Ia lahir dari kalangan bangsawan, dengan sebuah nama yang memiliki label kehormatan yang menunjukan kedudukan pada kasta pemiliknya. Tapi Putu Wijaya yang egaliter, menolak kedudukan tersebut, dan masuk ke pergaulan lintas kalangan, dengan membuang "I Gusti Ngurah", dengan hanya mencantumkan, Putu Wijaya.
Putu Wijaya dikenal sebagai dramawan, novelis, cerpenis, dan wartawan. Ia mulai menulis sejak SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan ia selalu mengatakan “Menulis buat saya adalah pekerjaan yang tidak mudah”, sebagai cara untuk mengenang siapapun yang telah memberi kontribusi bagi perkembangan kepenulisan dirinya. Sebab bagi Putu, menulis bukan hanya sekedar bercerita, tetapi juga mengemukakan pendapat dengan strategi yang diperhitungkan namun tanpa kehilangan rasa dan spontanitas.
Goenawan Mohamad yang pertama kali menyebut bahwa Putu Wijaya melakukan sebuah dekonstruksi. Ia membanjiri kepala pembacanya dengan karya-karya sejenis, dengan tema-tema yang tak terduga. Sebagian karya-karya Putu menggambarkan sebuah dunia yang jungkir balik, yang aneh dan ajaib, serta di luar nalar kelaziman. Sangat pantas jika Ignas Kleden menjuluki karya-karya Putu sebagai dongeng modern, juga menjuluki Putu sebagai Tukang Cerita yang piawai (Rahman, et al., 2014: 571).
Riwayat Pendidikan
Riwayat Pendidikan yang ditempuhnya dimulai sejak menginjak bangku Sekolah Rakyat (SR), Tabanan dan lulus pada tahun 1956. Kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri, Tabanan pada tahun 1956-1959. Usai tamat dari SMP, ia meneruskan ke SMA-A Singaraja pada tahun 1959-1952. Selepas SMA, Putu kemudian melanjutkan studinya di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dan lulus pada tahun 1969. Lalu menghabiskan tiga tahun di ASDRAFI (Akademi Seni Drama dan Film), dan satu tahun di ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia). Pada tahun 1974, ia mengikuti International Writing Program di Lowa, Amerika Serikat. Kemudian Putu Wijaya melanjutkan di LPPM, Jakarta pada tahun 1981.
Prestasi Putu Wijaya
Wajar saja Putu Wijaya disebut oleh Ignas Kleden sebagai tukang cerita professional dan ahli ngobrol yang piawai, hal tersebut dapat terasa meyakinkan jika dikaitkan dengan banyaknya prestasi yang telah ditorehkan oleh pria kelahiran bali tersebut. Dimulai pada tahun 1967, naskah Putu Wijaya yang berjudul Lautan Bernyanyi mendapat hadiah ketiga dari Badan Pembina Teater Nasional Indonesia dalam Sayembara Penulisan Lakon. Selain naskah Lautan Bernyanyi, naskah yang berjudul Aduh, memenangkan sayembara naskah drama Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1973.
Selain penghargaan terhadap karya-karya naskah dramanya, Pada tahun 1980 ia memperoleh Hadiah Sastra Asean (SEA Write Award) yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand atas novelnya yang berjudul Telegram dan tahun 2008 ia menerima Penghargaan Federasi Teater Indonesia di Taman Ismail Marzuki. Selain itu, masih banyak lagi prestasi yang telah diraih oleh Putu Wijaya.
Kumpulan Karya
Putu Wijaya telah menulis banyak sekali karya sastra, baik dalam bentuk drama, novel, cerita pendek maupun puisi. Berikut drama yang ditulis Putu Wijaya, antara lain, Lautan Bernyanyi (1967), Aduh (1973), Anu (1974), Dag Dig Dug (1976), Edan (1977), dan Gerr (1986). Ia juga menulis buku berisi kumpulan puisi yang berjudul Dadaku adalah Perisaiku, terbit pada tahun 1974.
Selanjutnya, kumpulan cerita pendek Putu Wijaya, diantaranya Bom (1978), Es (1980), Gres (1982), dan Klop (2010). Ia juga menulis banyak novel yang mendapat sambutan luas. Novel-novel tersebut ialah Bila Malam Bertambah Malam (1971), Telegram (1972), Pabrik (1976), Stasiun (1977), Ms (1977), Tak Cukup Sedih (1977), Keok (1978), Sobat (1981), Lho (1982), Nyali (1983), Pol (1987), Perang (1995), dan Mala Tetralogi Dangdut (2008).
