Konten dari Pengguna

Trauma dan Remaja: Luka Tak Terlihat yang Mengubah Masa Depan

Mytha Chandra Dewi

Mytha Chandra Dewi

S1 Akuntansi UII, S2 Akuntansi UNDIP.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mytha Chandra Dewi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

fotomentalhealth.fotomilikpenulis
zoom-in-whitePerbesar
fotomentalhealth.fotomilikpenulis

Masa remaja itu sebenarnya masa yang seru yang dinana masa ketika seseorang mulai kenal siapa dirinya, mencoba hal baru, punya banyak mimpi, dan merasakan semangat hidup yang menggebu-gebu. Tapi sayangnya, nggak semua remaja bisa menikmati masa ini dengan bebas dan bahagia. Bagi sebagian orang, masa remaja justru terasa berat, penuh tekanan, bahkan menyakitkan.

Ada remaja yang harus menghadapi bullying setiap hari di sekolah. Ada juga yang kehilangan orang terdekat yang selama ini jadi tempat bersandar. Ada pula yang setiap harinya hidup dalam tekanan sosial, dituntut untuk selalu sempurna, padahal di dalam dirinya sedang berantakan. Semua itu bisa jadi sumber trauma dan menjadi luka batin. Luka yang nggak kelihatan dari luar, tapi rasanya menusuk sampai dalam.

Masalahnya, luka seperti ini sering diabaikan. Karena nggak berdarah, nggak lebam, orang-orang di sekitar mengira semuanya baik-baik saja. Padahal, di dalam hati si remaja, ada badai yang terus berputar. Mereka bisa merasa sendirian, bingung, takut, bahkan mulai mempertanyakan harga dirinya. Akibatnya, mereka jadi menarik diri, kehilangan semangat, susah fokus belajar, gampang marah, atau justru terlihat “biasa aja” padahal hatinya penuh luka.

Trauma ini bisa jadi bom waktu. Kalau dibiarkan, dampaknya bisa terbawa sampai dewasa yang menyebabkan rasa tidak percaya diri, sulit menjalin hubungan, bahkan gangguan mental seperti depresi atau anxiety. Jadi penting banget buat kita semua, apalagi orang dewasa di sekitar mereka yakni orang tua, guru, teman, kakak untuk lebih peka. Coba dengar tanpa menghakimi, hadir tanpa memberi tekanan.

Remaja butuh tempat yang aman buat cerita. Kadang, mereka nggak minta solusi. Mereka cuma mau didengar. Makanya, dukungan emosional, konseling, atau bahkan sekadar pelukan hangat dan kata-kata "kamu nggak sendirian" bisa jadi langkah awal yang menyembuhkan. Jangan tunggu sampai semuanya terlambat. Luka yang nggak kelihatan bukan berarti nggak nyata.

Membicarakan trauma bukan berarti lemah. Justru itu langkah berani. Karena setiap remaja berhak tumbuh dan bermimpi, tanpa dibayangi masa lalu yang menyakitkan. Dan siapa tahu, dari luka itu, mereka bisa tumbuh jadi pribadi yang kuat, empatik, dan penuh makna.