Paradoks Menghargai Orang

Mahasiswa Manajemen Bisnis IKOPIN UNIVERSITY
Tulisan dari Muh Zaky Maulana Malik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ayah saya berkata, menghargai orang lain sama dengan menghargai diri sendiri. Menurut saya hal itu benar sekaligus tidak.
Menghargai orang artinya memperlakukan orang lain sesuai dengan kodratnya—yaitu manusia: mahkluk Tuhan yang paling sempurna, bahwa mereka butuh dibantu andai kata sedang kesusahan, diberi senyuman setiap kali bertemu, diberi keramahan yang menyejukkan hati, disenangkan hatinya lewat lelucon yang beradab, juga tidak melecehkannya—baik lewat ucapan maupun pikiran. Ringkasnya: memanusiakan manusia.
Disadari atau tidak, setiap orang memiliki harapan, meskipun kecil dan mungkin saja bias, saat bersikap ramah atau berbuat baik kepada orang lain, kalau ia akan memperlakukan kita seperti kita memperlakukan ia, di kemudian hari. Hanya sedikit orang yang menyadari kenyataan ini. Wajar saja. Sebab tak banyak orang yang pengetahuannya akan sesuatu bertambah begitu dia mengalami suatu peristiwa. Pengalaman mereka tentu banyak. Tapi pengalaman yang banyak itu tak dibarengi dengan kemampuan untuk mengambil pelajaran dari setiap peristiwa atau pengalaman. Mereka mungkin memiliki kemampuan itu. Hanya saja mereka enggan mempergunakannya.
Keengganan mempergunakan kemampuan menganalisis peristiwa itu dampak negatifnya sangat dirasakan mereka, tapi tentu, sekali lagi, yang sadar dan mengambil pelajaran jumlahnya sedikit. Mereka sering melakukan hal salah berulang-ulang sehingga mengakibatkan mereka kembali sakit hati, kecewa, kesal, marah, tanpa tahu cara untuk meninggalkannya. Mereka terjebak dalam lingkaran setan.
Arthur Schopenhauer, seorang filsuf Jerman, mengatakan, “Hampir semua kesedihan dan masalah kita bersumber dari hubungan kita dengan orang lain.”
Alasan Schopenhauer mengatakan hal itu karena ia sadar, baik dari belajar dari pengalaman atau dari mengamati lingkungan, bahwa orang lain adalah sumber utama kesedihan dan masalah. Jumlah orang yang sedih terkena musibah alam dengan orang yang sedih akibat perlakukan buruk orang lain jumlahnya lebih banyak pada yang kedua. Orang-orang tua termasuk orang tua sendiri, guru, saudara dan lain-lain selalu memuji-muji kebaikan orang lain. Mereka mengatakan bahwa kita adalah makhluk sosial. Saling membutuhkan satu sama lain. Kita butuh ini pada si A. Si A butuh itu kepada kita. Demikian seterusnya. Akibat dari proses saling membantu yang dasarnya adalah rasa saling membutuhkan itu, mereka senang. Mereka akan bersyukur memiliki teman seperti kita. Kita pun demikan. Namun, seperti sudah diketahui orang banyak, manusia adalah makhluk yang tak pernah akan puas. Proses saling membantu itu, pada awalnya, akan berjalan mulus. Setelah hal itu terjadi berkali-kali hati mereka didatangi tamu yang bernama candu. Mereka ingin hal itu berlangsung terus.
Mereka tak dapat memprediksi dengan pasti sampai kapan mereka menginginkannya. Tapi, dasar manusia, setelah perasaan candu itu mendatangi hati mereka, kini mereka tak ingin hal itu berlangsung seperti sebelum-sebelumnya. Mereka ingin kita menambah jumlah kebaikan kita tanpa mereka mengubah proporsi kebaikan mereka. Mereka mulai egois.
Ciri orang egois adalah sensitif. Mereka mudah marah oleh hal-hal sepele. Mereka ingin sikap kita seperti khayalan mereka, tapi enggan jika sikapnya diatur oleh khayalan kita. Mereka ingin berkuasa atas diri kita.
Orang yang menghargai orang lain oleh sebab kebaikan yang telah diperbuatnya kepadanya jumlahnya banyak. Orang-orang ini merupakan orang-orang berkualitas tinggi yang, memperlakukan orang lain sebaik mungkin sebagaimana ia ingin orang lain berbuat demikian kepadanya. Orang-orang ini berprinsip, meskipun tanpa disadari oleh diri mereka sendiri, apa yang kita lakukan, akan kembali kepada kita.
Tapi apakah benar demikian?
Pada beberapa kasus didapati, justru orang yang paling sering berbuat baik adalah orang yang paling menderita. Mengapa demikian, karena mereka sering mengorbankan kepentingan dan kebutuhan mereka sendiri demi orang lain—orang-orang ini orang yang berkualitas rendah. Mereka datang mengemis meminta kebaikan ketika dirinya terpuruk sembari menampilkan wajah yang menyayat hati. Begitu ditolong, mereka sangat bahagia hingga mewujud dalam wajah yang seakan-akan mereka adalah orang paling bahagia di dunia. Beberapa hari kemudian, mereka mengingkari kebaikan orang yang telah menolongnya lewat sikapnya. Seakan orang itu tak penting, mereka menginjak-injak dan memperlakukannya layaknya keset sehingga menyebabkan orang yang telah menolong itu berkata dalam hatinya, dosa apa yang sudah aku perbuat kepadanya sampai-sampai ia berbuat begitu kepadaku?
Begitulah manusia. Maka, kunci utama saat berhadapan dengan manusia adalah dengan menyiapkan sabar dengan sebaik-sebaiknya, sebab sabar adalah sebaik-baiknya teman saat sedang kesusahan. Andai kata Tuhan tak menciptakan hawa nafsu, pasti kini manusia memperlakukan manusia lain seperti ia memperlakukan dirinya sendiri.
Tapi andai kata Tuhan benar-benar menciptakan manusia tanpa hawa nafsu, kita tak pernah akan dapat belajar sabar. Kualitas sabar seseorang tak dapat ditentukan dari ia seorang PNS atau pemulung. Sering orang yang kita remehkan, justru kualitas sabarnya lebih baik dari orang yang kita anggap hebat.
Tak hanya sabar. Pemikiran terbuka pun dibutuhkan saat berhadapan dengan manusia. Sakit hati yang kau rasakan tak perlu kau ceritakan kepada siapapun, bahkan kepada orang tua sekalipun. Bukan artinya kita sama sekali tak boleh bercerita kepada orang tua. Boleh. Asalkan tidak sering. Betapa teganya kita membuat orang tua sedih—yang telah merawat dan menjaga kita saat kecil—dengan cerita-cerita kita. Salah satu perwujudan dari berpikiran terbuka adalah dengan berbaik sangka terhadap semua perlakukan tidak baik mereka dengan berpikir: mereka melakukan itu mungkin karena sedang khilaf…
Saya yakin ucapan ayah saya benar. Tapi dalam realitasnya saya juga mengamati jika seseorang yang menghargai orang lain sering diinjak-injak. Dan, itu juga benar.
