Konten dari Pengguna

Toxic Productivity: Saat Menjadi "Sibuk" Bukan Lagi Sebuah Prestasi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syaffina Lutffia Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kerja keras boleh, tapi jangan sampai burnout gara-gara toxic productivity. Ingat, kamu manusia, bukan mesin yang harus produktif 24/7. Istirahat itu bagian dari proses, bukan tanda kemalasan.

Unplash/Ryland Dean
zoom-in-whitePerbesar
Unplash/Ryland Dean

Budaya kerja kita sering kali mengagungkan kesibukan. Seseorang dianggap "produktif" jika ia membalas surel di jam sebelas malam, melewatkan jam makan siang demi rapat, atau mengerjakan tiga proyek sekaligus dalam satu waktu. Kita terjebak dalam arus toxic productivity—sebuah kondisi di mana seseorang merasa bersalah jika tidak melakukan sesuatu yang produktif setiap detiknya.

Permasalahan utama muncul ketika kita menyamakan "nilai diri" dengan "output pekerjaan". Ketika kita tidak produktif, kita merasa tidak berharga. Pikiran seperti "Seharusnya saya bisa melakukan lebih hari ini" menjadi narasi batin yang terus berputar, bahkan saat kita sudah berada di tempat tidur.

Padahal, secara biologis, manusia bukanlah mesin. Kita membutuhkan waktu untuk beristirahat agar kemampuan berpikir, kreativitas, dan stabilitas emosi tetap terjaga. Memaksa diri untuk terus "gas pol" justru sering kali berujung pada penurunan kualitas kerja, kejenuhan ekstrem (burnout), hingga masalah kesehatan fisik jangka panjang.

Kita perlu mengubah pola pikir bahwa istirahat adalah "hadiah" yang harus diperoleh setelah lelah bekerja. Sebaliknya, istirahat harus dipandang sebagai komponen krusial agar kita bisa bekerja dengan baik.

Ada beberapa langkah sederhana yang bisa kita terapkan untuk keluar dari jebakan ini:

Tetapkan Batas Tegas: Tentukan jam di mana Anda benar-benar berhenti bekerja. Tidak ada lagi pengecekan notifikasi atau pemikiran tentang tugas kantor setelah jam tersebut.

Jadwalkan Waktu Luang: Perlakukan waktu istirahat seolah-olah itu adalah rapat penting. Masukkan ke dalam agenda harian Anda. Jika kita bisa disiplin dengan jam kerja, kita juga harus bisa disiplin dengan jam istirahat.

Hargai Progres, Bukan Hanya Hasil: Alih-alih hanya fokus pada daftar tugas yang sudah selesai, hargailah energi yang Anda investasikan. Sering kali, melakukan satu pekerjaan dengan kualitas yang baik jauh lebih berharga daripada menyelesaikan sepuluh pekerjaan dengan hasil yang asal-asalan.

Hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai ke tujuan, melainkan seberapa sehat kita selama menempuh perjalanan tersebut. Produktivitas yang sehat tidak menuntut kita untuk bekerja sampai titik darah penghabisan, tetapi bagaimana kita bisa memberikan performa optimal secara konsisten tanpa mengorbankan kesejahteraan diri.

Mungkin sudah saatnya kita berani menjawab "tidak" pada beban kerja yang berlebihan, dan berani berkata "ya" pada waktu rehat yang berkualitas. Lagipula, apa gunanya mencapai puncak kesuksesan jika kita tidak memiliki kesehatan untuk menikmatinya?

Belajar memahami bahwa istirahat adalah bagian dari proses produktivitas