Nostalgia Bareng Kamera Analog

Mahasiswa Jurnalistik di Politeknik Negeri Jakarta yang menyukai film, fotografi, ekonomi dan musik.
Tulisan dari Nabiila Putri caesari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ku gulung roll film sambil memutarkan tuas mengarah ke arah berlawanan dengan serius dan rasa hati-hati agar cahaya tidak masuk, sampai akhirnya menyentuh permukaan sudut film yang mengakhirkan gulungan tersebut.
Yap, hobiku bermain kamera analog sejak Juli 2020. Hobi yang memang cukup terbilang mahal, sebab biaya yang dikeluarkan mulai dari pencucian film, kamera, dan perawatannya. Tetapi, yang namanya hobi tidak bisa dipungkiri.
Di era digital sekarang ini dengan kepuasan instan, dibutuhkan sedikit usaha untuk hasil instan. Seperti mengabadikan sebuah kejadian peristiwa dengan menangkap foto untuk sebuah arsip atau dokumentasi pribadi dengan menggunakan kamera digital maupun kamera ponsel lebih mudah dan tidak ribet.
Berbeda dengan kamera digital, kamera analog yang lebih banyak mengutamakan prosesnya. Tahapan menyiapkan roll film dan kamera, memasangkan film ke kamera, menentukan objek foto, menekan tombol rana dengan cepat dari exposure dan aperture yang sudah ditentukan, dan menunggu hasil foto tersebut dicuci atau disebut cucian kering. Sedangkan, penggunaan kamera digital dapat menangkap ribuan foto dalam waktu singkat.
Spesialnya dari kamera analog, aku lebih belajar menghargai sebuah foto. Karena menggunakan roll film yang isinya hanya terbatas, untuk selalu berpikir dua kali sebelum memotret. Apalagi kalau momen dalam sebuah objek gambar kejadiannya tidak datang lagi. Kamera analog juga melatih kesabaran untuk pemiliknya, menentukan dengan feeling yang tepat, kalau tidak hasilnya bisa kebakar.
Ibaratnya kamera analog dengan fotografernya sama seperti pembuatan film yang berakhiran sad ending atau happy ending. Misalnya, setelah dicuci hasil terbakar sebab ada kebocoran halus dari kamera yang membuat cahaya masuk atau saat proses pencuciannya. Tetapi, jika mendapatkan hasil yang happy ending, maka kepuasan hati untuk fotografernya.
Selain itu, tone warna yang dihasilkan dari kamera analog itu tandingannya dengan kamera digital. Bawaan dari roll film yang dipakai, berbeda dengan kamera digital yang memerlukan aplikasi tambahan untuk diedit kembali warnanya seperti Adobe Photoshop. Ini yang menjadi ciri khasnya.
Berikut roll film 35mm dan cocok untuk pemula yang ingin mencoba kamera analog:
Kodak Colorplus 200
Fujicolor C200
Kodak Ultramax 400
Ilford HP5 plus 400
Fujicolor Superia 400
Kodak Pro Image 100
Jenis film yang populer dan sering aku pakai adalah 35mm, karena mudah dicari di E-commerce dan tipe kameranya banyak yang jual. Bahan kimia yang dihasilkan C-41 dalam film negatif atau biasa disebut dengan klise. Seperti yang kubilang tadi, bahwa hobi kamera analog cukup terbilang mahal, karena proses nyuci di lab film, harganya sekitar Rp 45.000 - Rp 60.000 per satu gulungan di daerah jabodetabek tahun 2022.
Kalau nyuci sendiri juga bisa dan lebih menantang tetapi prosesnya yang dikatakan cukup sulit, tetapi aku menikmati dari prosesnya. Negatif film yang didapatkan juga mudah untuk disimpan dan bagus dalam jangka waktu yang lama, tinggal scan saja gambar sudah keluar. Tidak seperti kartu memori yang perlu disimpan dengan hati-hati dan sewaktu-waktu bisa saja terkena virus jika memerlukan arsipan foto.
Selanjutnya, berbagai jenis kamera analog ada banyak, mulai dari SLR (Single Lens Reflex), TLR (Twin Lens Reflex), kamera polaroid, point and shoot, rangefinder, kamera format besar, dan sebagainya. Tidak hanya 35mm saja, ada juga format film 120mm atau medium format dan format besar.
Bagiku keterampilan dalam dunia fotografi juga sangat dilatih di kamera analog, umpamanya seniman (fotografer) yang melukis di dalam foto. Pasti sebuah kesalahan ada, tetapi hal tersebut menjadikan fotografer untuk selalu belajar. Aku lebih memperhitungkan bingkai lukisan yang bekerja untuk satu tembakan rana yang penting.
(Nabiila Putri Caesari/Politeknik Negeri Jakarta)
